Aina

Aina
Ep. 99



Saatnya aku menandatangani perpanjangan kontrak kerja lagi di ruangan HRD.Tapi kata kepala HRD kali ini aku dipindahkan menjadi asisten pak Doni. Bukankah ini aneh dan ini sudah di luar keahlianku?


Aku tidak mau menandatanganinya, melainkan langsung ke ruangan pemilik perusahaan ini.


"Maaf Pak, saya tidak bisa kalau jadi asisten bapak. Itu bukan keahlian saya. " begitu aku masuk langsung bicara ke intinya.


"Tapi saya lagi butuh asisten Aina, kalau akuntan kan masih ada Fera jadi kamu sementara pindah dulu. " alasan dia.


Tadi ketika aku dapat kabar dari HRD aku langsung cerita ke mbak Fera. Menurut dia ini akal-akalan si bos aja buat ngedeketin aku.


Jadi beberapa minggu yang lalu setelah dia mengutarakan perasaannya sehari kemudian aku memberi jawaban dan menolak dia secara halus tapi jelas.


Namun, dia masih kekeh mau membuat aku jatuh cinta sama dia. Yah setiap hari secara sembunyi dia ngasih perhatian-perhatian kecil buat menarik simpati aku.


Kali ini dia benar-benar terang-terangan mendekatiku. Jadi mendingan aku mundur saja dari pada aku bakalan merasa jijik dan benci akan orang ini. Sedangkan dia bos ku, masa aku benci bos ku sendiri.


Bayangkan saja walau dia baik kalau aku nggak suka dan dia ngejar terus kan lama-lama jadi males sama itu orang.


"Maaf Pak, saya tidak bisa menjadi asisten bapak. Kalau memang disini sudah tidak membutuhkan saya sebagai akuntan lagi lebih baik saya mundur saja. " dengan berat aku bilang gitu.


"Apa? " pak Doni kaget. " kamu lebih baik resign dari pada jadi asisten saya gitu maksud kamu? "


Aku mengiyakan.


"Tidak, jangan Aina, aku masih membutuhkan kamu, dan Misel juga. " kalau dia udah bilang 'aku' tandanya masalah pribadi.


"Maaf Pak, saya nggak bisa. "


"Katanya kamu sayang sama Misel? tapi apa ini? " dia agak emosi.


"Misel kan bukan bagian perusahaan bapak? kalau Misel mau bertemu, saya akan menemuinya kalau pengasuhnya sedang libur saya bisa menggantikannya. "


Yah seperti dua kali weekend ini aku menggantikan pengasuhnya yang libur. Itu juga aku dikasih bayaran jadi dihitung kerja lembur.


"Maaf Pak, kalau kaya gini. Saya malah yakin untuk resign. Saya mohon maaf untuk semuanya. Habis ini saya akan memberikan surat pengunduran diri saya. "


Kemudian aku meninggalkan ruangan pak Doni.


Kesal rasanya masalah pribadi di campur dengan pekerjaan. Selama ini aku sudah bersikap profesional dengan tetap menghormati dia. Tapi dia malah menyalah artikan dikiranya aku memberi harapan pada duda itu.


"Ada apa? " tanya mbak Fera setelah aku tiba di ruangan ku.


"Benar kata mbak, dia cuma mau biar deket gue doang. "


"Lah terus? lo nggak masalah kan Ai? " mbak Fera kok nanya gitu ya jelas ini masalah.


"Gue mau resign"


"Oh, TIDAK! " mbak Fera teriak. " jangan berani lo ya resign, lo mau gue musuhin? " mbak Fera nggak rela aku resign.


"Sorry mbak, ini sudah keputusan gue."


"Pikirin lagi Ai," mbak Fera merengek


"Lagi pula gue mau konsen kerja di kafe aja,dan suasana kerja disini sudah tidak menyenangkan lagi mbak, gue sudah yakin nggak memperpanjang kontrak. "


"Jadi gue termasuk yang nggak menyenangkan nih? "


"Enggak, kecuali mbak. Ya lo tahu sendiri di kantor sudah nyebar gosip kalau gue pacarnya si bos. Gue risih kaya gitu mbak"


"Sudah jangan hiraukan gosip,cuek aja Aina. " mbak Fera masih membujuk ku.


"Tidak mbak, gue nggak bisa "


Entahlah gue nggak bisa kalau nggak peduli kata orang. Sejak dulu aku peduli, makanya aku berusaha untuk menjadi wanita baik. Walau sangat sulit membangun image itu.