
Kalvin tersenyum iblis, aku jadi takut.
"Gue nggak nyangka bakalan ketemu lo disini."
Aku menunduk, menatap HP ku yang berdering ada panggilan masuk dari bulek Rina.
"A-aku angkat dulu ya mas" aku meminta ijin, segera aku menjawab sebelum Kalvin memberiku ijin. Aku ingin menjauhi Kalvin tapi tanganku dicekal olehnya kuat.
Bulek Rina mengabarkan kalau uang sudah masuk dan malam ini juga bapak akan segera dioperasi. Tadi ketika aku masih didalam kamar mandi aku segera kirim uangnya.
"Lo nipu gue? gue pesannya yang masih virgin. Sedangkan elo itu kan... " Kalvin mendorongku ke tembok mencengkeram lenganku.
"A-aku terpaksa melakukan ini mas,karena bapak sakit. Tapi aku nggak bohong aku masih virgin. " jelas ku dengan rasa takut.
"Oh ya? lalu malam itu yang gue lihat terus kalian ngapain? heh? " Kalvin ternyata masih ingat, dan selama lima tahun ini dia masih salah paham.
Bagaimana tidak salah paham kalau kita tidak pernah bertemu kembali, lalu apa aku harus membuktikan ini semuanya.
Ya aku sudah pasrah dan aku juga sudah dibayar jadi aku harus menyelesaikan ini semua.
Kalvin membabi buta, antara nafsu dan amarah menjadi satu. Aku hanya harus menahan sakitnya saja, apalagi disaat masuk.
Benar benar sakit, aku menangis menahannya.
"Aina" Tiba-tiba suara Kalvin sangat lembut ketika kami bersatu.
Aku membuka mataku yang sedari tadi aku tutup, matanya kini berubah menjadi redup. Mata iblis tadi sudah hilang.
"Ai, maaf" Kalvin tetap melanjutkan aksinya hingga selesai tapi dengan penuh kelembutan.
Bahkan setelah selesai aku digendong ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Maafin aku ya Ai? " Kalvin mengusap air mataku yang menetes lagi karena semakin ngilu.
Aku hanya mengangguk, dia memasukan aku kedalam bak mandi.
"Aku bisa sendiri mas, Terima kasih"
Kalvin keluar.
Aku menangis sambil mandi. Aku bahkan mandi sangat lama sekitar satu jam karena kebanyakan aku menangis.
Setelah selesai mandi aku keluar dengan handuk kimono. Kalvin sedang menelpon di balkon dengan masih menggunakan kimono juga.
Aku mencari pakaianku tapi tidak aku temukan yang ada cuma hudi saja, yah hudi punya Kalvin dulu.
"Sudah selesai?" dia bertanya ramah aku hanya mengangguk.
"Ternyata kamu masih memakai hudi ku dulu. "
Kalvin memelukku erat, mencium kening ku hangat dan membelai rambutku.
"Aku merindukanmu Aina" jika kalimat itu aku dengar sebelum kejadian ini maka aku pasti akan sangat senang. " Aku mandi dulu, tunggu sebentar aku nggak lama habis ini kita makan malam. Kita harus ngobrol banyak. "
Ketika Kalvin masuk ke kamar mandi aku segera memakai pakaian itu yang ternyata adalah dress bermerek mahal lengkap dengan pakaian dalam juga. Aku belum pernah memakainya tapi tetap aku pakai karena aku tidak ada pilihan lain.
Setelah selesai, aku keluar hotel menenteng tas ransel kecilku dan masker juga aku tidak lupa pakai.
***
Tiba di kosan sudah sekitar jam 10 malam, yang ternyata Angel dan Sonya nungguin aku diluar kamar.
"Aina" mereka berdua memelukku.
Kami masuk kamar, tentu saja kedua temanku itu sangat penasaran bagaimana tadi? dan rentetan pertanyaan mereka lontarkan. Bagaimana lo bisa ganti baju? bagaimana bisa lo sempet mandi? bagaimana rasanya? gimana orangnya? kenapa lama banget? Dan satu yang bikin aku kaget apa tadi pakai pengaman?
Dan aku rasa tidak.
"Oh goblok! " segera Sonya mengacak-acak isi tasnya lalu mengeluarkan obat, dia langsung menyuruhku untuk meminumnya dua sekaligus.
"Aku lupa, karena saking takutnya. "
"Gue rasa karena om nya hebat dan ganteng iya kan? " goda Angel agar aku tidak tegang.
"Emang iya? kata tante Meri dia masih muda makanya gue langsung iyai. "
Aku menutup wajahku malu, mengingat orang yang membayarku adalah Kalvin.
"Kalian masih ingat cinta pertama gue? "
Mereka diam, mungkin bingung kenapa malah membahas cinta pertama?
"Mas Kalvin? " tebak Sonya.
Aku mengangguk.
"Dia orangnya? " Angel berteriak.
Aku mengangguk lagi.
"Wahhh lo beruntung sekali Aina, dan kayanya tadi kalian bernostalgia wah senangnya. " Angel kegirangan.
Aku memukul kepala Angel pelan.