Aina

Aina
Ep 70



Dia datang dengan senyum andalannya yang aku dan cewek-cewek sukai karena mematikan dan ngangenin.


"Pagi sayang, sudah sehat? " sapa Jeno seperti dulu


Aku yakin dia sudah tahu kalau aku dan Marsel tidak pernah pacaran makanya dia berani menyapa dengan kata itu.


"Brengsek satu lagi datang nih" Angel mengejek Jeno.


"Masih pagi angel(dalam logat Jawa ) nggak usah ngajak gelut. " Jeno menyahuti.


Jeno nampak membawa sebuah amplop besar entah apa isinya.


Lalu dia mendekati ku.


"Gimana lo bakalan laporin Gres kan ke polisi?" tanyanya langsung.


"Aina sudah setuju nggak bakalan lapor, tadi kami sudah bicara. " yang jawab Marsel.


Apa tadi aku bilang gitu?


"Aku belum bilang gitu kok mas"


Jeno menghela nafas, "Bang Marsel mau melindungi penjahat? Lo tahu kan Aina kemarin hampir tidak tertolong? otak lo dimana? rasa kemanusiaan lo kemana? bisa-bisanya ngebiarin kejahatan gitu aja." suara Jeno itu nggak ngegas sama sekali tapi kalau aku yang digituin bakalan sakit.


"Enggak gitu Jeno, lo tahu kan Gres selebritis bakalan panjang nantinya." Marsel membela


"Ini gue udah bawa bukti hasil visum, gue juga jadi saksi mata kemarin, dan beberapa karyawan hotel siap buat jadi saksi. Gue siap kalau urusannya bakalan panjang. Dan Om Dewa juga siap membantu prosesnya. Tapi ini semua tergantung Aina mau apa nggak diproses. " jelas Jeno yang diakhir kalimat menatap mataku.


"Yes, bilang mau Aina. Lo berhak mendapatkan keadilan" kini Angel berdiri menyetujui kata Jeno.


Marsel menatapku juga dengan tatapan memohon.


"Aina, akan lebih baik diselesaikan secara kekeluargaan. Nanti aku bakalan bawa Gres kesini buat minta maaf sama kamu. "


"Kalau minta maaf sih itu harus, tapi hukum juga harus berlanjut. " sela Jeno ketika aku akan membuka mulutku.


Semua diam, mengharapkan keputusanku.


Aku harus gimana? Aku tahu Gres sejak bertemu denganku pertama kali udah jahat dan kali ini sangat jahat. Namun kalau aku melaporkannya apa aku juga akan jadi jahat sama dia juga. Dia bakalan dendam lagi sama aku.


"Nggak usah takut Na, gue selalu ada buat lo. " Jeno meyakinkanku.


"Ada gue dan papa juga bakalan ngelindungi lo dan siap bantu lo jadi tenang aja. " Angel menambahkan.


"Tapi kalau om Dewa tahu kalau gue bohongin dia, pasti bakalan marah. "


"Papa nggak bakalan tahu kalau Marsel nggak ngasih tahu. Yah, kalau dia ngasih tahu juga dia yang rugi banyak. " Angel melirik Marsel.


"Iya, jadi kita damai saja ya Aina" Marsel masih kekeh.


"Gres sekarang dalam pengobatan, dia menjalani perawatan juga. Emosinya kadang sulit dikendalikan. Jadi kasihan dia. "


"Terus lo nggak kasihan sama Aina?" Angel dengan sadis.


Jeno duduk di sofa.


"Sebenarnya gue juga nggak bisa terima Aina diginiin. Tapi gue juga nggak tega sama Gres, Angel" bela Marsel.


Mereka berdebat.


"Ya udah lo bela aja pacar lo itu. Gue bakalan ngedukung Aina. Kalau Aina nggak mau lapor gue dan Jeno sebagai sahabat nya yang bakalan lapor. Aina cukup jadi korban, jadi nggak perlu pendapat dia. " Angel membentak abangnya itu.


Jeno nampak berdiri.


"Bagus Angel, ayo berangkat. Gue udah janjian juga sama Om Dewa nanti disana dia udah sama pengacaranya. " Jeno mengajak Angel.


"Angel Jeno, kalian nggak boleh gitu."


Jeno mendekat, "Lo pantas mendapatkan keadilan, nggak papa tenang aja ada gue. "


Sebelum Jeno melangkah keluar Marsel berbicara lagi pada Jeno.


"Lo masih punya kasus di kantor,lo sudah lupa kalau lo terancam dipecat? " sinisnya.


"Itu kan masalah gue, lagian gue tidak khawatir kalau harus dipecat. rejeki bukan berasal dari kantor lo doang. Masih ada sumber rejeki lainnya. " jawab Jeno enteng.


Kemudian Jeno dan Angel pergi.


"Aina, apa kamu bisa sejahat itu juga? " tanya Marsel yang kini duduk di kursi samping tempat tidur.


"Maaf mas, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Gres emang harusnya dikasih pelajaran. Dia suka seenaknya sama orang. Kalau nggak dikasih jera bakalan jadi kebiasaan. Ini sudah termasuk tindakan kriminal loh mas. Aku tahu mas Marsel cinta sama dia, tapi bukan kaya gini mas cara melindunginya. "


Marsel menunduk, lalu meraih tanganku.


"Aku sudah nggak cinta sama dia Ai, yang aku cinta itu kamu. Aku hanya kasian sama Gres. Dia susah payah membangun karirnya dari nol, kalau dia terkena kasus sekali lagi bakalan hancur kali ini. " Marsel nampak tulus.


Aku nggak nyangka Marsel malah menyatakan cintanya.


"Aku pertama bertemu Gres saat kami masih kecil, di greja saat Natal. Dia berasal dari panti asuhan greja itu. Lalu dia bercerita kalau mempunyai cita-cita jadi model terkenal. Kemudian kami tidak pernah bertemu lagi, kami bertemu saat kuliah. Dia sudah diadopsi dan jadi model juga. Aku sangat senang bertemu cinta pertama ku akhirnya kami menjalin hubungan. Lulus kuliah orang tuanya mengajaknya untuk berkarir di luar negri. Lalu kami menjalani hubungan jarak jauh sejak itu. Jadi Gres memulai kariernya dari nol kalau dihancurkan dengan seperti ini kan kasihan dia. " cerita Marsel yang membuatku sedikit tersentuh.