
"Mbak Ai! " ada suara memanggilku.
Aku mencari sumber suara, ternyata berasal dari kerumunan para mahasiswa yang sedang antri di tempat foto copy an.
"Sifa? " yah yang aku lihat itu Sifa yang sekarang menghampiriku sambil menenteng tas, mungkin isinya tugas dia.
"Mbak Aina mau kemana? kok ada dilingkungan sini? " tanyanya mungkin heran.
"Emm, mbak kerja di kedai mie depan kampus itu. Ini lagi mau pulang" jawabku setenang mungkin.
Aku harap Sifa tidak melihat mataku yang mungkin masih ada sisa air mata.
"Terus kok jalan? emang rumah mbak Ai deket sini? " tanyanya lagi.
"Emm, " aku mencari jawaban" lagi pingin aja, sambil menghirup udara segar. "
Namun sialnya malah ada tetesan air yang jatuh dari langit.
"Hah gerimis, ayo mbak ikut aku mumpung belum hujan deras. Ini udara emang segar mbak tapi bikin masuk angin. " Sifa menarik tanganku menuju motor metiknya.
Bukan, ini motor Jeno yang pernah aku lihat.
"Ayo mbak cepetan naik! " Sifa buru-buru memakai menaiki motornya.
Aku tidak punya pilihan lagi, mungkin aku bisa bertemu dengan Jeno nantinya.
Sifa melakukan motornya agak kencang, karena hujan semakin deras.
"Memangnya nggak bawa jas hujan Sifa? " tanyaku.
"Loh iya, lupa pasti ada di jok ya. Astaghfirullah kenapa bisa lupa ya" Sifa menggerutu ditangan hujan.
Namun bukannya berhenti dan memakainya dia malah cepat melaju terus.
Lalu kami tiba di sebuah perumahan, Sifa memasuki pagar salah satu hunian dua lantai yang terlihat minimalis tapi indah.
Sifa langung memarkir motornya didepan garansi rumah ini. Kemudian dia membuka garansi itu dan memasukkan motornya lalu menarik ku untuk masuk bersama dia.
"Tugas kamu basah apa nggak? " aku khawatir soalnya mengingat berapa beratnya mengerjakan tugas kuliah itu.
"Aman mbak, tas ku anti air soalnya." jawabnya sambil melepas sandalnya lalu masuk kedalam rumah.
"Ayo mbak masuk"
Aku masuk tentunya melepas sepatu hak ku dulu. Nampak lah rumah yang terlihat sederhana tapi elegan tidak banyak perabotan nya.
"Ayo mbak kita ganti di kamar ku saja, di lantai atas. " ajak Sifa.
Dilantai atas ada dua kamar, salah satunya dimasuki Sifa.
Aku mengikutinya masuk.
"Mbak Aina pakai bajuku nggak papa? baju mbak basah itu? " tanya Sifa sambil membuka lemarinya.
Lagi? aku pakai baju Sifa lagi?
"Ah, nggak usah Sifa habis ini mbak Aina pulang saja lagian sudah malam juga. "
"Justru itu mbak kan sudah malam terus diluar hujan, akan sangat berbahaya jika mbak pulang sekarang. Terus mbak juga bisa sakit kalau pakai baju basah terus? setidaknya habis dikeringkan nanti mbak pakai lagi juga nggak masalah. " tutur Sifa panjang lebar, sudah kaya emak aja ini anak.
Akhirnya aku nurut. Aku memakai piyama panjang bergambar kodok ijo milik Sifa.
Lalu aku menggantung pakaianku di tempat jemuran.
Jadi disini, mesin cuci nya ada dilantai atas dekat kamar mandi satu-satunya yang aku lihat dirumah ini. Tadi aku juga ganti didalamnya.
"Sudah selesai mbak? " suara Sifa.
"Sudah, mungkin sejam sudah kering dan aku bisa pulang. "
"Mbak sudah makan? "
Aku menggeleng.
Lalu dari bawah terdengar suara bariton yang teriak memanggil Sifa.
"Heh tadi gue ditinggalin sih Sifa nyebelin! " dia berlari menaiki tangga tadi.
"Sorry tadi aku ketemu mbak Aina, jadi langsung aku bawa dia ketika hujan tiba" jelas Sifa.
Gadis itu melihatku, dia mungkin teman Sifa atau saudara. Dia berambut pendek agak tomboy dilihat dari penampilannya yang menggunakan kaos oblong dan celana jeans.
"Mbak Aina? " gadis itu mungkin bingung siapa aku.
"Kenalin ini teman aku , dia penghuni kamar ini. Terus Viola ini mbak Aina calon nyonya rumah ini. " Sifa memperkenalkan kami tapi dibagian ku kok terasa janggal ya.
"Nyonya rumah? " tanyaku bingung.
"Maksud lo dia ceweknya kak Jeno gitu? " tanya Viola yang juga bingung dan bikin aku tambah bingung lagi.
"Iya, cantik kan kamu seharusnya mulai sekarang nyerah" Sifa juga tambah membuatku bingung.
"Ok, ini makanan lo. Gue tadi udah makan disana karena nunggu hujan. Dan itu dua porsi, gue kira lo mau makan semuanya ternyata ada kakak ini. " Viola memberikan Sifa kresek berisi makanan.