
Setelah tiga bulan aku tinggal di rumah Angel akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yaitu di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang makanan. Aku dibagian akunting disana. Lalu aku memutuskan untuk keluar dari rumah Angel, dan ngekos lagi setelah mendapatkan gaji pertamaku.
Keluarga Angel sebenarnya keberatan aku pergi terutama Angel dan tante Mery. Aku jadi dekat dengan tante Mery karena kami sering menghabiskan waktu bersama seperti memasak dan berkebun. Beliau adalah sosok ibu rumah tangga yang sempurna dimata ku, dan sederhana padahal orang kaya.
Saat ini aku sedang menikmati malam terakhirku bersama keluarga ini. Menonton film bersama diruang keluarga.
Aku duduk berdempetan dengan Marsel, kami harus mendalami peran dia bahkan sesekali memelukku dan memegang tanganku. Selama ini dia masih sopan dan wajar jadi aku biarkan walaupun rasanya risih dipegang cowok yang bukan siapa-siapaku.
Angel duduk disofa single menikmati cemilannya.
"Sayang sekali Aina harus pindah, jangan pindah ya sudahlah tinggal disini saja toh nanti akhirnya kamu juga bakalan tinggal disini selamanya setelah menikah dengan Marsel" kata Tante Mery melihatku dengan mata memohon.
Berulang kali beliau membujuk ku seperti itu sejak aku bilang akan ngekos.
"Tau tuh Aina, udah bagus lo disini. Tu Mar- em bang Marsel jadi pendiam loh sejak lo ada disini udah nggak pernah lagi datang ke klub buat nyari cewek. " Angel malah membawa-bawa Marsel.
"Ye sejak kapan gue kaya gitu" Marsel melepas kacang ke wajah Angel.
"Sejak dulu! udah deh nggak usah bohong lo! " Angel tak mau kalah dia bahkan melempar keripik kentang kepada Marsel.
Jadi mereka berdua ini tidak pernah akur, selalu saja ribut.
"Sudah, sudah iya benar kali ini kata Angel, Abang Marsel sekarang berubah. " kini om Dewa membela Angel.
"Ye aku dibela papa" Angel memeluk sesaat papanya itu.
Marsel menatapku, entah kenapa aku jadi takut. Kemudian dia memelukku, duh apa-apaan ini cowok pakai peluk segala. Dan dia bahkan mencium puncak kepalaku.
"Kalau Marsel sih terserah Aina, dia mau tinggal di manapun akan tetap dihatiku." kata Marsel setelah melepaskan pelukan nya.
"Cuih" Angel pura-pura meludah.
Aku nggak boleh baper.
***
Aku ngekos didekat tempat kerjaku agar bisa menghemat juga tidak perlu keluar biaya transport. Aku memilih kamar sederhana tapi kamar mandi dalam. Namun kosan ini campur ada yang sudah berumah tangga juga.
Aku diantar Marsel dia membantuku pindah supaya terlihat kami beneran pacaran.
"Makasih ya mas maaf merepotkan padahal ini hari sabtu yang biasanya kamu istirahat seharian. " mataku sedikit tidak enak hati.
"Kamu kok tahu kebiasaan ku? perhatian banget" ledek Marsel sambil meletakkan barangku dikamar baruku.
"Siapa juga yang perhatian. "
"Aku mau diperhatikan" sambil terkekeh nggak jelas.
Dia itu kadang bersikap baik kadang bersikap buruk. Tapi selama jadi pacar bohongan dia entah kenapa Marsel kebanyakan bersikap manis. Duh nggak boleh baper Aina...
Setelah dia duduk sejenak sambil matanya melihat-lihat seluruh ruangan dia pamit.
"Ya udah aku pulang, Hati-hati ya Ai. Selalu kunci pintunya jangan bukain pintu ke orang yang belum dikenal. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan hubungin aku. " pesannya sebelum ia pergi. Seolah aku ini anak kecil yang tidak tahu bagaimana menjaga diri. Tapi manis juga tu cowok, hah?
Hah rasanya sekarang lega karena aku bisa hidup sendiri tanpa harus numpang di rumah orang. Mereka memang baik, tapi rasanya sangat beban banget dan tidak leluasa.
Kantorku cuma berjarak seratus meteran dari kosan jadi jalannya cuma jalan ke jalan raya tinggal nyebrang udah nyampe.