Aina

Aina
Ep 59



Kali ini aku kembali bersama Marsel, dia segera menyusulku begitu sudah selesai menyapa kenalannya.


"Jeno mana? " tanya Marsel sambil mengambil air minum.


"Keluar tu anak" yang jawab Daniel.


"Kepanasan dia, hah padahal gue mau kasih lihat kalau gue yang berhasil mendapatkan Aina dan bisa bertahan setahun ini. " kata-kata Marsel bikin aku sedikit marah.


"Kitakan nggak beneran pacaran mas, jadi nggak usah lebai deh. "


Daniel sepertinya kaget dengan kalimatku.


"Jadi kalian cuma bohongan gitu? " tanya Daniel penasaran.


"Ya enggak lah, Aina kan kadang bercanda." Marsel mengelak.


Kemudian Marsel menarik ku menjauh dari Daniel.


"Kamu kok bilang gitu sama Daniel, entar kalau itu anak bilang ke Angel gimana? " bisiknya saat kami sampai dipojokan ruangan.


"Mereka udah putus lama, lagian bentar lagi kontrak kita berakhir"


Marsel terlihat geram.


Geramnya berlanjut saat melihat ada yang datang yaitu Gres datang bersama Kalvin. Aneh kan?


Bagaimana bisa mereka datang bersama kaya gini.


Kalvin dan Gres mendekati kami.


Gres merangkul lengan Kalvin, mereka nampak seperti pasangan, walau usia Gres lebih tua.


"Kayanya hubungan kalian serius, sampai bang Marsel membawa seorang Aina yang murahan ke pesta orang tuanya" celoteh Kalvin menghinaku.


"Diam lo, jangan bikin gaduh disini. Kalau lo kesini cuma mau ngerusuh mending pergi" Marsel sedikit terpancing emosinya.


"Gue disini diundang pak Dewa sebagai rekan kerjanya, lo nggak berhak dong mengusir tamunya. " Kalvin terdengar menyebalkan.


Entah kenapa aku bisa jatuh cinta sama orang seperti ini dulu.


Marsel sepertinya tidak suka atau cemburu melihat Gres masih tetap merangkul lengan Kalvin. Lalu diapun menarik tangan Gres.


"Ikut aku sebentar" perintah Marsel kepada Gres dan tentu saja Gres mengikutinya.


Kini tinggal aku dan Kalvin, aku nggak nyaman ingin segera meninggalkan ini anak. Tapi baru selangkah saja dia sudah ngoceh.


"Apa pak Dewa tahu kalau calon menantunya ini cuma cewek murahan yang bisa dibayar. Dikampungnya aja udah terkenal. " Ternyata benar Kalvin yang menyebar gosip itu.


"Gue cuma bilang ke Dito kalau gue bisa mendapatkan lo dengan cara membayar lo. Jadi bukan gue, ngapain gue ngegosip,lagian itu juga faktanya. " ingin rasanya aku memukul ini orang tapi tidak mungkin.


Aku hanya menahan amarahku, lalu meninggalkan pesta ini.


Keluar dari gedung, menuju taman hotel untuk menghirup udara segar.


Namun, aku malah melihat Jeno yang duduk sendiri di kursi pinggir taman.


Dia melihatku juga, masih dengan tatapan sendu.


"Hai, kok lo malah disini? " sapaku begitu jarak kami dekat.


"Lo juga ngapain keluar?" Jeno malah balik nanya.


Aku duduk di samping dia, masih ada jarak setengah meteran di antara kami.


"Nggak nyaman aja berada dikalangan atas, didalam isinya orang kaya semua sedang gue bukan siapa-siapa. "


Aku melihat gelas anggur yang dia bawa tadi sudah tergeletak di rumput.


"Bukankah lo seneng dekat orang kaya? huh nggak usah munafik lo." nada bicaranya kini semakin dingin.


Jeno mungkin sudah mabok kali ya jadi dia sedikit menghinaku juga.


"Lo mikirnya kayak gitu ternyata. "


"Seharusnya gue udah sadar dari dulu kalau gue bukan tipe lo dan nggak mungkin bisa jadi lebih dari teman. Hah gue aja yang bandel padahal sudah sering kali ditolak." dia mulai berbicara banyak, baiklah akan aku dengarkan karena ini yang aku inginkan.


"Dengan bodohnya gue kebingungan saat nomer gue lo blokir terus uang lo kembalikan, gue bodoh banget nyari lo dikampung lo eh ternyata ada disini dengan seorang pangeran kaya raya lagi. Dan gue jadi sadar tipe cowok idaman lo yang kaya, dulu si brengsek pengusaha sekarang bang Marsel. Gue apa? bahkan gue sekarang di pecat dari BC. Jadi mulai malam ini, gue nggak akan ganggu hidup lo lagi, karena sudah ada seseorang yang lebih baik dan ngajakin lo serius. " mata Jeno bahkan berkaca-kaca.


"Maaf Jeno, bukan seperti itu lo salah paham. " aku mulai menjelaskan tapi Jeno sepertinya tidak mau dengar.


"Ah sudahlah, bahkan lo ngira gue yang nyebarin gosip yang nggak benar di kampung lo. Heh, lo pikir lo siapa? " bahkan Jeno berteriak di kalimat terakhirnya.


Aku menangis,


"Maaf Jeno, gue emang salah. Tapi gue-" aku berusaha menjelaskan tapi dia lantas meninggalkan aku.


Aku diam sesaat lantas ada dua orang yang datang mendekat.


Ternyata Gres bersama seorang pria tinggi besar entah siapa.


"Beraninya lo cewek bayaran datang ke sini? lo nggak tau malu" tanyanya sadis.


Belum sempat aku membela diri pria itu mendekatiku dan aku dibekap dengan tangannya. Entah aroma apa yang aku hidup hingga bikin aku tidak sadarkan diri. Semua gelap dan entahlah.