Aina

Aina
Ep 43



Nafasku tidak karuan setelah bersembunyi dari Jeno tadi. Pak Arya memang sudah menjalankan mobilnya tapi jantungku masih nggak karuan.


"Habis menghindari siapa mbak? kaya dikejar rentenir aja? " tanya pak Arya sambil mengemudi.


"Bukan rentenir sih pak, bahkan saya sudah bayar hutang entah kenapa saya nggak mau ketemu dia. " jelasku


Pak Arya tertawa ringan. "Ketemu mantan ya? "


"Hah? " mana bisa disebut mantan, jadian aja tidak pernah. " bukan pak, cuma seekor kadal yang mesti saya hindari. "


Pak Arya tertawa lagi, "Mbak Aina ini lucu juga. Sudah baik cantik dan lucu lagi. "


"Bapak jangan muji saya deh bisa gede ini kepala"


"Iya bapak bicara fakta mbak Aina beda sama yang lain kalau para karyawan lain mentang-mentang saya cuma sopir mereka nggak bakalan duduk didepan kaya mbak Aina ini. Kalau dibelakang penuh baru deh ada yang didepan. " jelasnya yang bikin aku heran juga.


Padahal sesama kacungnya juga kok bisa ya merendahkan sopir.


"Ada ya orang kaya gitu pak? "


Setelah itu pak Arya menceritakan bagaimana keluarganya yang sederhana. Dan menceritakan anaknya yang mondok di pondok pesantren di Malang. Aku merasa kecewa aja karena nggak tahu tentang itu padahal satu daerah.


***


Sampai di kantor aku yakin Jeno akan segera menemukanku pasti dia akan bertanya pada karyawan kedai.


Benar sekali sorenya ketika aku keluar kantor ada mobilnya Jeno parkir didepan.


Bagaimana ini?


Aku terpaksa menelpon Marsel untuk minta bantuannya.


Dia langsung menyetujui untuk menjemput aku.


Kira-kira lima belas menitan Marsel sudah sampai, dan tentu saja mereka bertegur sapa kan kenal dan satu kantor lagi.


Aku langsung menampakkan diri agar bisa cepat pulang bersama Marsel.


"Aina? jadi selama ini lo berada di sini? kok lo nggak ngasih kabar ke gue? lo blokir nomer gue juga? " berbagai macam pertanyaan yang langsung dilemparkan Jeno.


"Ayo Ai" Marsel membukakan pintu mobilnya dan aku segera masuk.


"Duluan ya Jeno" Marsel pamit agak terdengar meledek.


Aku melihat dari kaca spion Jeno berteriak nggak jelas dan antara marah dan bingung mungkin.


"Kamu ada apa sama Jeno sebenarnya Ai? " tanya Marsel.


"Nggak ada, kami cuma teman. Dia aja yang lebay. "


"Jeno selalu ngejar kamu ya? kenapa nggak kamu terima, bukannya dia juga pria baik dan mapan. Dia juga pns di Bc jadi sama lah kaya aku. " Marsel membuatku sedikit marah, emang apa hubungannya dengan dia yang pns. Emangnya kalau pns harus diterima gitu.


"Nggak bisa, kami berbeda mas. " Aku menunduk mengingat itu salah satu alasan aku tidak bisa bersama Jeno.


"Oh soal kepercayaan ya? hah emang berat banget kalau itu. Tapi kalau kita berdua bisa dong? " terdengar sedikit serius tapi sedikit bercanda diakhir kalimat.


Aku dan Marsel memang satu kepercayaan tapi kami beda kasta. Dia dari kalangan elit sedangkan aku hanya orang kampung. Tapi hatiku juga tidak bergetar dengannya hanya sebatas nyaman berada di dekatnya. Lagian dia punya orang juga.


"Makasih ya mas udah nolongin aku. Padahal ini bukan tugas mas Marsel"


"Iya, lagian bukannya kita ini pacaran yah emang cuma bohongan. Jadi kita tetap dinamakan pacaran walau dibatasi kontrak. " tutur Marsel yang membuatku mendelikkan mata.


Pantesan dia kaya menikmati perannya. Dia nganggap aku pacarnya woi.


"Jadi aku selingkuhan mas Marsel gitu? "


"Enggak lah Ai, lagian aku sama Gres mutusin untuk break dulu. Dia mau fokus ke karirnya" jadi curhat deh ni orang.


"Yah terserah asal masih dalam batas wajar aja. "


"Sejak kapan aku nggak wajar? nyentuh kamu aja nggak pernah. Kalau boleh aku jujur aku pingin nyium kamu juga loh Ai. " kejujuran Marsel membuatku menggeplak lengannya dengan tas tanganku.


"Aw sakit Aina jangan pukul lagi, aku lagi mengemudi ini bisa bahaya. " Marsel akting kesakitan.


Lebai kan ini orang.