Aina

Aina
Ep.112 Aina



3 bulan kemudian


Aku tidak percaya akan menjadi seorang pengantin dihari ini. Aku akan menikah dengan pria pilihanku sendiri. Akhirnya aku menemukan cinta ku dan itu berkat dia juga. Cinta sejati ku yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dia hanya hamba yang taat yang akan jadi imamku di dunia ini menuju akhirat.


Semoga kami berjodoh di dunia dan akhirat.


Sekarang waktunya akad nikah. Aku rasa dia sangat gugup tapi berusaha untuk tenang. Dia menyalami hakim yang menjadi wali nikah ku dengan sedikit gemetar.


Kami berjarak sekitar lima meteran namun aku bisa merasakan dia sangat grogi.


Hingga akhirnya aku dinyatakan sah menjadi istrinya.


Air mataku menetes kali ini, sudah tidak sanggup aku menahannya. Haru rasa terharu, bercampur bahagia.


Kini aku sudah menjadi seorang istri, aku tidak percaya akan ada pria yang menerima aku apa adanya. Aku yang ambisius, yang selalu ingin terlihat baik tapi pernah jual diri. Dia tidak peduli latar belakang ku yang minim agama dan masih anak baru di agama ini.


Yah aku memutuskan masuk agama islam karena disini ada cinta yang banyak dalam agama ini.


Dia mendekat dengan senyum andalannya, yang selalu membuat aku dan cewek-cewek yang lain gelagapan. Tapi sekarang aku tidak akan biarkan cewek-cewek yang lain mendapatkan senyuman itu.


Aku menyalami tangan imamku itu. Dia menyambut hangat, dan mengecup keningku sambil membaca doa. Aku nggak nyangka dia bisa berdoa seperti itu.


"Mas Jeno jangan nangis dong" sorak Sifa.


Jeno mengusap air matanya lalu memelukku hingga menimbulkan kegaduhan lagi.


Aku menenggelamkan wajahku di dada suamiku ini tidak memperdulikan orang lain toh kami sudah halal.


Yah, suami Lee Jeno.


Aku jadi ingat bagaimana tiga bulan yang lalu saat Jeno memaki dan sakit hati terhadapku. Namun itu semua hanya salah paham, aku tidak berniat bikin sakit hati dia. Aku memilih dia setelah memberi jawaban pada ustadz Haidar.


Setelah itu aku yang datang untuk ia lamar secara resmi.


Lalu mengenai kekayaannya atas namaku itu karena memang kode etik kerjanya tidak mengijinkan. Aku sudah tahu itu dari awal, tapi walau bagaimanapun dia bisa menarik kapan saja uangnya. Aku hanya sebagai atas nama bukan pemilik. Lagian sekarang aku istrinya jadi apa masalahnya?


"Jeno si, eomma bahagia sekali" eomma Jeno dan appa juga datang bersama seluruh keluarga yang ada di Solo.


Lalu kami mengadakan pesta pernikahan di Solo hanya akad saja di Malang.


***


"Na, sebaiknya kita hidup dimana? di Malang atau di Jakarta? atau di Solo? " tanyanya begitu kami sudah menyelesaikan acara dan beristirahat di kamar Jeno yang ada dirumah nenek di Solo.


"Kenapa nggak di Korea? "


"Lo mau hidup di Korea? " dia agak kaget.


Aku tersenyum.


"Kamu kan pegawai, jadi ya kita harus tinggal di dekat kerjaan kamu dong. Kenapa harus tanya? "


"Kamu? kok jadi kamu? " dia heran.


"Ya kali sama suami lo gue, dan kamu juga harus kaya gitu. Hah, seharusnya aku bilangnya sampean atau jenengan kita kan orang Jawa hanya ikut-ikutan lingkungan jadi lo-gue an. "


Dia tertawa.


"Tapi lo em kamu harus panggil aku 'mas' ya. "


"Bukannya oppa? "


"Bukan, gue kan bukan kakak lo"


"Mas itu juga artinya kakak, Jeno! "


"Ya sudah panggil apa aja, nggak penting"


Begitulah kami, aku tidak akan habisnya berdebat dengan Jeno oppa.


...*End*...