
Hari ini gue ke pesta undangan tante Mery mamanya Angel, dia masih saudara jauh eomma jadi kami kenal.
Kalau nanti gue lihat Aina datang bersama bang Marsel gue bakalan sedikit lega karena itu artinya bang Marsel serius dengan Aina.
Benar gue lihat Aina berada di keluarga bang Marsel terlihat bahagia, mereka juga nampak menyukai Aina. Namun entah kenapa hati gue sesak melihat Aina bahagia bersama pria lain.
Sepanjang pesta gue cuma minum anggur, lumayan gratis. Hah, gue emang muslim tapi juga suka minum. Padahal kewajiban gue lima kali sehari itu nggak pernah gue tinggalin tapi masih aja doyan minuman haram itu.
Rasanya sudah sumpek kalau didalam pesta terus, akhirnya gue keluar gedung. Duduk di taman, agar rasa pengar mulut gue mereda barulah gue pulang. Walaupun gue minum, gue nggak sampai hilang kesadaran, selalu bisa sadar selama ini.
Lalu entah kenapa Aina malah datang mendekati gue.
Otomatis gue mencurahkan dong apa yang gue pikirkan dan jadi pertanyaan selama ini.
Gue sudah melepaskan Aina mulai saat ini, lagian gue juga belum yakin gue cinta sama perempuan ini.
Kemudian dia menangis saat gue bentak, hati gue yang sakit saat melihat dia menangis, gue tinggalin aja dia.
***
Setelah itu gue pulang,
Gue lihat HP gue ada panggilan tak terjawab dari Aina. Mungkin ketika gue dijalan tadi di nelpon.
Ngapain dia nelpon bukannya tadi udah ngobrol.
Gue lepas jas gue,lalu merebahkan diri ke atas tempat tidur.
Namun, ketika hendak memejamkan mata ada telpon.
Gue lihat ternyata bang Marsel.
Ngapain ini orang? ya udah lah gue angkat sapa tahu dia mau minta maaf karena bikin gue diskor.
"Apa? "
"Dimana kalian? lo bawa Aina? " tanyanya nyolot.
Gue bangun dari rebahan,
"Ngapain gue bawa Aina? "
"Yang bener lo, gue serius lo sama Aina apa enggak bangsat!? " dia marah
"Enggak! emang kemana tu anak"
"Ngilang, terakhir bukannya sama elo? "
Gue panik, bagaimana bisa Aina ngilang bukannya dia manusia. Ya emang sih wajahnya cantik kaya bidadari tapi dia manusia kok.
Duh konyol, gue seketika langsung menyambar kunci mobil gue. Bergegas menuju hotel tempat pesta tadi.
Begitu tiba di sana, gue langsung bertemu bang Marsel yang nggak kalah paniknya. Ada Angel dan mama papanya juga yang khawatir.
"Mungkin dia udah pulang kali bang" gue berusaha berpikir positif.
Bang Marsel ngasih gue HP dan tas milik Aina.
"Kalau tas ini tertinggal di meja dekat makanan. Gue yang ambil terus gue cari dia, ternyata sama elo di taman. Lalu gue biarin terus gue masuk lagi. Kemudian karena pesta sudah selesai dan gue nyariin Aina ke taman dia nggak ada. Ternyata HP nya tergeletak didekat kursi taman. Enggak mungkin dia pulang sendiri. Gue kira elo yang bawa dia." cerita bang Marsel dengan paniknya.
Gue ambil HP itu, ternyata layarnya retak. Dan terakhir dia menelpon gue.
"Lo berkelahi sama Aina tadi? " tanya Angel ditengah pencarian kami menuju kosan Aina.
Siapa tahu dia pulang.
"Cuma sedikit gue bentak dia tadi. "
"Brengsek lo! awas aja kalau ada apa-apa sama dia. "
Tiba dikosan, Aina tidak ada.
Lalu kami berpikir kemana kira-kira Aina.
"Kenapa nggak lihat CCTV hotel? "
Angel lalu menarik ku untuk segera melajukan mobil kembali ke hotel.
Ternyata di hotel bang Marsel sedang bersama petugas CCTV sedang memeriksa.
Tapi di taman itu tidak ada CCTV nya jadi tidak terlihat.
"Gue sempet berpapasan dengan mantan lo bang tadi pas meninggalkan taman. " gue ingat kalau cewek cantik dan seksi yang gue lihat tadi adalah mantan dia.
"Gres? " bang Marsel memastikan.
Lalu petugas menyelusuri lewat rekaman video keberadaan Gres.
Dan benar Gres tertangkap kamera lobi menuju taman, lalu di rekaman yang lain diparkiran dia terlihat mengikuti seorang pria menggendong wanita.
"Tolong zoom"
Kami melihat pakaian yang dikenakan si wanita yang digendong itu sama kaya punya Aina.
"Cepat cari Gres bang! "
Marsel menelpon, mungkin yang ditelpon Gres.
"HP mati, sialan itu cewek" bang Marsel marah.
"Dimana rumahnya! "
Gue dan bang Marsel lalu menuju apartemen Gres. Kami menggunakan mobil gue.
"Sorry Jeno, ini salah gue. Gue yang bikin Aina dalam bahaya. Gres itu orangnya nekat, dia bahkan dalam perawatan karena kadang nggak bisa ngontrol emosi. " bang Marsel berceloteh nggak jelas.
Gue masih panik, ngapain ngajak bicara nggak usah bilang gue udah tahu ini semua karena dia.
"Jadi Gres psikopat gitu maksud lo?"
Bang Marsel mengangguk.
Gue makin panik,
"Gue beneran minta maaf, gue nggak nyangka Gres bakalan kaya gini sama Aina. " dia minta maaf lagi.
"Ngapain minta maaf sama gue? "
"Aina dan gue nggak pernah beneran pacaran, dia gue kontrak jadi pacar bohongan gue selama ini. Lalu Gres sepertinya nggak menerima ini. " jelas bang Marsel membuat gue kaget, seketika menoleh padanya.
Gue masih nggak ngerti sama jalan pikiran Aina, bagaimana bisa dia mau jadi pacar bohongan bang Marsel.