
Paginya aku berangkat segera ke Malang dengan menggunakan kereta api naik dari pasar senen.
Tapi sangatlah kebetulan aku melihat Jeno didalam gerbong.
Sepertinya Jeno melihatku juga, tentu saja wajahnya full senyum semringah. Bahkan dia menukar tempat duduknya dengan yang disebelahku entah bagaimana caranya dia selalu bisa merayu dengan sikap ramahnya.
"Enggak usah kagum, soalnya cuma lo yang nggak bisa gue rayu. " Jeno terkekeh sambil meletakkan ranselnya di bagasi.
"Kok pulang lagi?" tanyanya begitu dia duduk di sampingku.
"Bapak gue operasi semalam. " jawabku malas.
Jeno mau kemana? aku nggak tanya cuma penasaran dalam hati karena aku juga nggak tahu kampung halamannya itu dimana.
"Kok bisa ya kita bertemu disini, kalau di kampus aja susah ketemu ama lo tapi kita bisa mudik bareng apa kita ini jodoh sayang? " lagi, Jeno kumat. Padahal setiap hari aku melihatnya yang kebanyakan dia itu sedang bersama wanita.
"Gue lagi gak bisa mode bercanda Jeno, jadi kita pura-pura aja nggak kenal. Ok? "
"Ok" dia bilang kaya gitu tapi kepalanya dia senderkan kebahu ku, duh bisa nggak bawa pergi ini bocah dari sini.
"Ih berat Jeno! " aku terdengar merengek.
Ibu-ibu yang ada dihapanku melotot, memang ini hari jumat jadi kereta sangat penuh. Aku saja sangat beruntung bisa mendapatkan tiket, karena emang sudah aku pesan sejak mendengar kabar bapak kemarin.
"Kalian kalau mau pacaran jangan disini dong" ternyata yang nyolot bapak yang disebelahnya.
"Loh kita baru nikah kok om tante jadi wajar lah lagi bucin-bucinnya." celoteh Jeno kurang ajar asal jeplak aja itu mulut." Dulu om dan tante pasti juga kan? tuh kan lihat muka tante cantik ini aja merah. Wah pasti lebih parah ya om? " percaya tidak yang dia sebut om dan tante adalah berusia sekitar 60an keatas jadi tidak relevan dipanggil itu. Aku perhatikan memang muka ibu itu merah malu-malu gitu.
Aku otomatis mencubit pinggangnya.
"Au, iya sayang bentar lagi kita sampai nanti dirumah aja yah"
Haduh ini bocah bikin aku malu, tapi sesaat aku bisa lupa dengan permasalahan ku hanya karena tingkah konyol Jeno.
Dalam perjalanan aku kebanyakan diam tapi tidak bisa tidur beda dengan Jeno sudah dua kali dia tidur kalau bangun pasti ngajakin pasangan itu ngobrol.
Sampai Semarang pasangan itu turun.
Baru deh Jeno bercerita kalau dia mau pulang ke Solo, walau aku nggak nanya.
"Eomma gue pulang ke Solo, entahlah kata dia nggak mau balik ke Korea mereka ingin bercerai. " akhirnya Jeno dalam mode serius. Aku perhatikan raut mukanya sedih. Kasian...
"Gue nggak sedih, lagian gue nggak begitu dekat juga dengan mereka kami selalu hidup terpisah sejak umur gue sepuluh tahun. " Jeno sadar kalau aku mengasiani dirinya.
"Ya gue tahu lo kuat. "
***
Tiba di stasiun Solo,
"Hati-hati nanti turunnya, kayanya kaki lo sakit ya? " perkataan Jeno membuatku melotot terkejut kenapa bisa dia bilang kakiku sakit.
"Kaki? "
"Tadi pas ke toilet jalan lo aneh, habis jatuh? " Dia masih bertanya saat sudah menggendong ranselnya.
"I-iya kemarin kepleset. Udah deh sana entar keburu berangkat lagi ini kereta. "
Jeno terkekeh, " gak masalah sekalian nengokin camer. "
Setelah ngacak-ngacak rambutku dia turun dengan full senyum lagi.
Aku rasa emang efek semalam karena memang masih ngilu makannya tidak aku sadari kalau jalanku terlihat aneh. Aku lalu minum obat penghilang rasa nyeri, biar nanti kalau sudah sampai tidak ada orang yang akan curiga lagi.