
Aku sudah tiba di kafe, dan segera mengerjakan pekerjaanku merekap hasil penjualan dan sesekali bantuin kasir.
Hingga malam saat mau tutup Jeno menelpon.
Ya ampun aku sampai lupa telpon, kan tadi aku bilang bakalan nelpon dia.
"Udah selesai kencannya? " Jeno langsung nyolot.
"Udah, " aku sengaja. Dan apa yang aku dengar? tidak ada satu katapun setelahnya terdengar.
"Tadi gue ke acara pensi anaknya pak Doni. Kasihan anaknya lagi ngambek terus pengasuhnya habis resign jadi nggak ada yang ngurus. Lumayan tadi dapat bonus" jelas ku kemudian.
"Dia suka sama lo pasti? "
"Hem, pak Doni bilang gitu"
"Terus lo terima dong? "
"Apa gue Terima saja ya? "
"Terserah"
Tumben kami bahas hal pribadi.
"Apa gue segampang itu? "
Lalu hening,
"Gimana kafe? "
Barulah aku ngerocos menceritakan bagaimana kafe.
****
Sepulang dari kafe aku bertemu Angel. Sudah lama aku nggak bertemu sahabatku itu, paling kami cuma bisa telponan. Karena dia sekarang wanita super sibuk.
Angel menginap di kosan aku. Seperti biasa kami saling bercerita bagaimana kehidupan kami. Termasuk soal asmara. Dia bilang akan dijodohkan dengan Daniel, sang mantan. Heboh lah dia kali ini.
"Gue juga heran diluar sana masih banyak pria buat gue tapi papa milihin Daniel brengsek itu." Angel menggebu-gebu
Mereka satu kalangan jadi tidak menutup kemungkinan akan terjadi seperti ini.
"Mungkin jodoh lo emang si Daniel"
"Gue mau nolak tapi papa ngancam bakalan mencoret gue dari warisan."
"Apa Daniel sudah berubah hingga om Dewa bisa suka sama dia? "
"Lo kan masih cinta sama dia Angel, ya udah trima aja"
"Apa? cinta? sejak dia selingkuh rasa cinta gue udah hilang gue nggak mau disakiti lagi Ai" Angel meninggikan suaranya diawal kalimat.
"Ya udahlah nggak usah ngegas juga"
Kami lalu berbaring bersiap tidur setelah usai membersihan diri dan ganti baju tidur.
"Angel, gue juga mau tanya gimana caranya nolak orang yang halus. Karena selama ini gue langsung terus terang dan nggak peduli perasaan cowok itu kalau nolak. "
"Yah, gue tahu gimana kejamnya elo pas masih kuliah. 'Aina aku cinta sama kamu' jawabannya 'tapi gue enggak, gimana dong? atau gini apaan gue nggak cinta sorry ya" Angel malah memperagakan saat dulu.
Aku jadi tertawa mengenang masa itu, dan salah satu cowok yang aku tolak kaya gitu ya si Jeno. Terbukti juga Jeno saat itu emang tidak benar-benar cinta sama aku.
"Eh la terus kali ini siapa? " Angel penasaran.
"Pak Doni, bos gue. Dia bahkan ngajakin gue nikah nggak pacaran lagi" ceritaku.
"Hah apa? wah bagus dong. Terus lo gimana? " Angel heboh.
"Ya gue mau menolaknya"
"Padahal bos lo ganteng loh, dan perfek jadi suami. Tipe suami idaman gitu, dia sudah mapan dan keren. Ya walau duda satu anak tapi kalau menurut gue itu nggak masalah." tanggapan Angel malah muji pak Doni.
"Iya sih, tapi hati gue nggak berdebar saat sama dia."
"Ah lo mah gitu, lo lihat deh cowok-cowok yang suka sama lo cuma pak Doni yang ngajakin serius. Pertama cinta pertama lo yang ternyata seorang casanova yang kerjaannya celap celup. Terus Marsel yang bilang suka tapi nyatanya masih belum move on dari mantannya. Terus banyak yang lainnya saat kuliah, nggak ada yang bener apalagi Jeno kang ghostingin doang. " Angel panjang lebar. " eh, apa lo masih berharap sama Jeno? "
"Entahlah, gue nggak mungkin sama dia. Tapi gue-"
"Hati lo udah penuh dengan Jeno, yah jadi si Doni harus berusaha keras nih. " Angel memotong kalimat ku.
Aku tidak berniat membuka hati gue lagi. Entah Jeno akan pergi atau tetap di sana aku nggak tahu.
"Lo lebih baik pikirin dulu, dia baik dan walaupun duren beranak dan berumur. Eh emang dia umur berapa Ai? " Angel ingin tahu.
"Sekitar 32 an"
"Wah, nggak tua sih. Masih sepantaran Marsel, beda setahun. Gue kira udah berumur 38 gitu. Tapi emang dia keren juga kok. "
Bagiku umur tidak masalah, masalahnya hati aja.
"Lo juga udah 25,jadi sudah siap jadi istri dan ibu juga. " apaan Angel ini.
Tahu ah, Angel bukannya ngasih solusi malah bikin aku bingung. Dia malah ngedukung aku sama si bos lagi.