
Paginya aku sudah merasa baikan tadi juga Polisi datang meminta aku buat menceritakan kejadiannya. Akupun menceritakan apa adanya.
"Lo nggak kerja? " tanya gue pada Angel yang sedari kemarin terus menemaniku.
Pas ditanyain polisi juga hanya ditemani Angel. Tadinya mau manggil dokter psikolog tapi aku tidak mau. Cukup Angel saja aku tidak apa-apa.
"Perusahaan kan milik gue jadi serah gue dong mau kerja apa enggak, tenang aja. " jawabnya sombong tapi bercanda.
"Enak ya jadi elo"
"Ya iya dong, lo sih mau jadi mantunya malah nggak mau. " ngeledek dia kali ini.
Aku hanya menghela nafas.
Setelah itu datang dokter.
Aku lihat Angel senang bahagia, karena emang dokternya masih muda dan ganteng. Namanya dokter Fian.
"Pagi" sapa dokter Fian dengan ramah.
"Pagi dokter" yang jawab Angel padahal aku baru mau mangap.
Suster yang datang bersama dokter Fian melihat infus ku, dan melihat perban luka di wajahku.
"Lukanya sudah kering karena tidak terlalu dalam, kita lihat yang dipaha karena yang paling parah disitu " jelas dokter Fian.
Angel kaget. yah pasti karena aku bakalan membuka celanaku dulu baru bisa dilihat.
"Dokter keluar dulu dong, dok. Masa Aina buka celana di depan dokter? " saran Angel.
Dokter tersenyum, dia lalu hanya membalikkan badannya.
"Mbaknya yang harus keluar, saya lagi periksa pasien mbak" dokter Fian menyarankan Angel.
"Nama saya Angel dok, sahabat Aina. " Angel malah memperkenalkan diri.
"Tahu kok, anda putrinya pak Dewangga kan? " dokter Fian ternyata tahu loh
"Hah kok tahu bapak saya dok? "Angel salah tingkah.
Aku selesai melepas celana pasien ku dibantu suster dan menutup kaki yang nggak ada lukanya pakai selimut.
" Sudah dokter, silahkan" suster mempersilakan.
Dokter Fian segera melihat lukaku. Dia mengambil perban nya.
"Lukanya membaik, sekarang saya ganti perban anti air ya biar bisa mandi. Tapi ya nggak boleh lama-lama mandinya. Pokoknya biar badannya tetap bersih saja. " jelas dokter Fian.
Lalu aku hanya mengiyakan saja. Karena sejujurnya aku nggak mau mandi. Entahlah, kencing aja aku suruh temani Angel.
Setelah itu dokter memasang perban anti air tersebut.
"Karena sudah membaik, besok bisa pulang. Infusnya menghabiskan ini saja, nanti kalau sudah habis bilang saja. Biar dilepas, ya mbak Aina. " kata dokter setelah selesai memasang perban.
"Baik dok, nanti saya ke ruang dokter kalau sudah habis" itu yang bilang Angel.
Dokter tersenyum, "bilang ke suster jaga saja nggak perlu ke ruang saya."
"Baik, kami permisi ya cepat sembuh Aina. " dokter pamit.
"Loh dok tadi belum selesai ngobrolnya, kok udah pamit? " Angel lagi.
Padahal dokter Fian nggak nanggepin langsung keluar.
"Dokter masih banyak pasien yang harus dikunjungi bu" kini suster yang masih ketinggalan yang jawab.
"Bu? emang gue ibu lo? " Angel nih nggak tau kondisi.
Aku hanya geleng-geleng saja.
***
Menjelang sore aku dibantu Angel mandi,tadinya dia enggak mau menemaniku tapi aku paksa.
"Apa lo trauma kamar mandi?" tanya Angel setelah menemaniku mandi tadi.
Aku rasa tidak, tapi masih agak ngeri didalam kamar mandi sendiri.
"Enggak sih, cuma nggak mau sendiri aja. "
"Terus kenapa lo nyuruh gue pulang mulu? " bentuknya tapi masih wajar.
"Kan gue nggak enak"
"Makan tu nggak enak, kita itu udah kaya saudara jadi hilangin rasa nggak enak itu Ai. " Angel membantuku menyisir rambut.
Aku hanya menggangguk.
Lalu dia ingin mengolesi wajahku dengan pelembab.
"Nggak usah, Angel" cegahku, karena aku ingin polosan aja.
"Ai, lo nggak papa pipi lo jadi gini? " tanyanya saat melihat wajahku, dia menghentikan saat mau mengolesi krim itu.
"Ya mau gimana lagi, entar juga ilang sendiri"
"Gue tahu, lo ikut Jeno aja ke Korea buat operasi plastik disana kaya dia tuh kan jadi mulus gitu. " ide Angel sambil gosipin Jeno.
"Jeno emang operasi plastik? "aku kemakan.
" Ya kali, lo lihat kan dari empat brandalan itu yang mukanya mulus cuma Jeno? " tambah Angel yang bikin aku membayangkan muka Jeno, Daniel, Ken, dan Alex emang sih.
"Tapi apa nggak karena dia blasteran aja? "
"Daniel juga ada cinanya tapi nggak semulus Jeno. " Angel makin menggosip.
"Kayanya enggak deh Angel, ngapain Jeno oplas? " aku kok jadi kemakan beneran ya omongan Angel.
"Buat pelet lah" lalu dia tertawa terbahak-bahak.
Ada yang datang.
"Kuping gue panas, ada yang ngomongin gue? "