Aina

Aina
Ep 71



Tok tok tok


Ada yang datang lagi.


Ternyata tante Mery,


"Ehm" dia berdehem. " mama nggak ganggu kan? mama denger tadi di pintu saat mau masuk tapi mama urungkan. " katanya sambil berjalan mendekati ku.


Dan apa yang dia denger? haduh.


"Mama sejak kapan disana? " Marsel mempersilakan mamanya duduk di kursi yang ia duduki.


"Sejak kamu bilang sebenernya yang kamu cinta itu Aina dan seterusnya" jelas tante Mery.


Tante Mery menatap anaknya, "kalau kamu cintanya sama Aina kenapa masih ngurusin mantan. Mama nggak tahu kamu punya mantan. Seharusnya kamu kenalin dong sama mama waktu itu. Apa dia waktu itu nggak se spesial Aina? "


Marsel menunduk sekejap, "Mungkin begitu kali ma" katanya yang bikin aku melongo.


"Ya udah sekarang perbaiki hubungan kalian" saran tante Mery.


"Maaf tante, saya nggak bisa sama pria yang masih terikat mantan. " kataku seolah itu benar.


"Aku kan udah minta maaf Ai" Marsel kok malah bilang gini.


"Tadikan kita sudah sepakat putus mas" aku perjelas.


"Aku belum setuju" dia malah ngajak debat.


Tante Mery berdiri


"Mama pergi aja ya, kalian selesaikan masalahnya baik-baik. Jangan bertengkar. " tante Mery malah pamitan.


"Tidak tante, jangan pergi" aduh kok aku ngelarang dia ya. " em maksudnya kami sudah selesai kok tante jadi yang harus pergi kayanya mas Marsel deh. " aku melirik Marsel.


Dia peka langsung pamitan.


"Ya udah kalau kamu udah sehat, kita bicara lagi ya Ai" katanya enteng.


"Tidak mas, sudahlah jangan maksa aku. "


Setelah itu dia pergi.


Tinggal aku dan tante Mery.


Dia kembali duduk di kursi.


Tangannya memegang buah apel, yang tadi dibeli Angel buat sarapan dia katanya tapi jumlahnya banyak.


"Mau tante kupas kan apel? " tanyanya mengambil satu apel.


"Tidak tante terimakasih"


"Tante, Aina mohon maaf yang sebesar-besarnya ya tante. Maafin Aina ya. " aku memohon maaf padanya degan tulus hingga air mataku menetes.


"Kenapa minta maaf sayang, emang ada salah apa? " tante Mery kini semakin mendekatiku.


Aku hanya bisa menggeleng dan menangis.


Lalu wanita elegan ini memelukku, mengusap punggungku dan kepala bagian belakang. Sungguh hangat pelukannya, berdosa sekali aku telah berbohong padanya.


"Sudah Aina, kamu nggak salah. Jangan merasa bersalah begitu. " suara lembut menenangkan aku.


"Aina minta maaf karena nggak bisa sama mas Marsel lagi. Kami nggak mungkin bisa bersama lagi tante. "


Tante Mery melepas pelukannya.


"Nanti kalau kamu sudah sehat kalian bicara lagi. Tante yakin kalian bisa menemukan solusinya kalau sudah tenang. " dia masih percaya itu.


"Tidak tante, aku nggak bisa tante. Maaf" aku menangis lagi.


Hingga entah kenapa pandanganku menjadi gelap kabur.


"Aina! " suara teriakan seseorang yang memanggilku. Lalu setelah itu aku nggak sadar.


""""""""


Aku mungkin tadi pingsan, kini berasa bangun tidur.


Sudah malam ternyata,jadi aku pingsan berapa lama?


Ada Angel yang tidur di sofa, aku nggak lihat siapapun selain dia. Kemana tante Mery?


Aku sangat menyesal tidak bisa berkata jujur tadi.


"Ai? sudah sadar? " Angel ternyata belum tidur mungkin dia tadi cuma memejamkan mata saja.


"Apa gue pingsan? "


"Hem, lo istirahat lagi aja. Biar cepet pulih. " Angel mendekatiku


"Angel, makasih ya. Maaf sekali lagi."


Angel membenarkan letak selimut ku.


"Sudah jangan pikirin macam-macam. Kata dokter lo harus banyak istirahat. " Angel terlihat sangat tulus. "Sayang sekali dokternya udah pulang jadi nggak bisa gue panggil kesini. " Angel tertawa.


"Kalau lo ngantuk lo pulang aja pasti nggak nyaman tidur di sofa. "


"Tidak, sofa nya nyaman kok. Lo istirahat aja, gue ngantuk ini. " Angel kembali ke Sofa tadi.


Beruntung sekali aku punya Angel, padahal sahabatku itu biasanya kekanakan dan manja. Sepertinya dia sudah menjadi lebih dewasa.