
"Maaf mas, aku nggak bisa jadi pacar kamu. Aku hanya menganggap mas Marsel kakak saja, sekali lagi maaf ya mas. " aku sangat takut sekali mengatakan itu saat Marsel meminta jawabannya di saat kami makan malam tiga hari sesudah pernyataannya.
Marsel diam, dia hanya menatapku.
"Apa ada yang mengisi hati kamu?"
Aku diam, karena aku tidak yakin itu.
"Apa mantan kamu yang membayar kamu itu masih ada di hati kamu? " pertanyaan Marsel membuatku kaget.
"Saya juga bisa membayar kamu Aina, berapapun. " dia tersenyum tapi dengan menghina.
Hatiku sangat sakit, pria ini merendahkan ku begitu saja.
"Saya tahu semuanya,Aina"
Bagaimana bisa dia tahu.
"Baiklah saya akan katakan yang sebenarnya. Orang tuaku memaksaku untuk segera menikah atau tunangan tapi pacar saya sedang di luar negri tidak bisa kalau harus menikah dalam waktu dekat ini dia bisa pulang setahun lagi. " jelasnya yang nggak jelas.
"Maksud kamu apa ya mas? kamu punya pacar tapi ngajakin aku pacaran? " suaraku tinggi.
"Hanya pura-pura. "
"Papaku menyukai tipe seperti kamu, yang mirip dengan mama sederhana dan cantik makanya kalau kamu yang jadi pacarku pasti papa tidak akan mendesak ku lagi." Marsel serius.
"Aku masih bingung"
"Jadi, saya akan membayar kamu untuk menjadi pacar pura-pura selama setahun, kalau pacar saya pulang kamu bebas. Saya akan bayar kamu semau kamu berapapun itu. " jelas Marsel yang membuatku sekarang mengerti.
Marsel ternyata tidak benar-benar menyukaiku.
"Aku nggak butuh uang jadi cari wanita lainnya saja. " aku segera meninggalkannya.
***
Namun Marsel tetap setiap hari membujuk ku dan menemui ku.
Hari ini aku pulang agak malam jadi Marsel tidak bisa menemui ku, tapi aku melihat ada Jeno yang ada di depan kantor.
Oh jadi dia sudah pulang dari Malang. Entah kenapa aku sangat senang melihatnya, hatiku berdebar.
"Hai Aina sayang" sapanya dengan full senyum khasnya.
"Sudah balik? sejak kapan? "
"Tadi pagi baru nyampek, duh gue kangen banget sama lo, boleh nggak peluk heh? " Jeno kumat.
Aku mengabaikannya lalu berjalan saja ke arah kosan. Sebenarnya aku juga sedikit merindukannya, merindukan senyum dan tingkah konyolnya.
Jeno mengikuti ku walau aku tetap cuek, dia terus saja berbicara menceritakan perjalanan dinasnya. Katanya dia suka kulinernya, suka suasananya dan yang tidak ia suka udara dinginnya.
Tiba-tiba ketika sampai didepan gang dekat kos ada wanita menggunakan baju tidur pendek yang menuju ke arah kami.
"Jeno? " wanita itu langsung menghamburkan diri ke tubuh Jeno. Pelukannya mirip wanita yang waktu di lapangan waktu itu.
Jeno terlihat kaget, dia melihatku berusaha melepaskan pelukan si wanita itu.
"Aina, tunggu. Sorry Sela. " Jeno memanggilku dan sepertinya meninggalkan cewek itu.
Jeno dengan cepat bisa menyusulku.
"Dia teman kerja gue, kayanya kosannya juga deket sini deh. " jelas Jeno dan aku tidak peduli.
"Cemburu? lo akhir-akhir ini mulai cemburu terus "
Aku menghentikan langkahku, melihat Jeno yang meringis senang.
"Gue nggak cemburu, dan gue nggak peduli mau itu teman kerja mau teman tidur lo gue nggak mau tahu." Aku berkata tegas.
Tapi apa yang aku lihat muka cengengesan gak jelas yang aku dapat, Jeno benar-benar menyebalkan.
Aku melanjutkan langkahku, kosan sudah didepan mata, aku sudah capek plus lapar banget. Rencanaku habis mandi langsung beli nasi goreng didepan kos yang udah mengeluarkan aroma enak. Dan emang enak kok nasi gorengnya.
"Na,makan dulu yuk itu ada nasi goreng. " apa Jeno bisa baca pikiran ku?
"Gue mau mandi dulu, lo makan sendiri aja. " aku segera melangkah cepat masuk kosan.
***
Sangat segar walau cuaca dingin aku tetap mandi kalau tidak aku tidak akan bisa tidur dengan keringat menempel.
Dengan menggunakan babydol motif bunga aku beneran ke tukang nasi goreng, aku pikir Jeno pasti sudah pulang.
Begitu sampai Jeno ternyata ada disitu, duduk sambil ngobrol dengan bapak yang jualan.
"Tuh pak Aina sudah datang, bikinin dua ya pak." Jeno memesan sebelum aku hendak bicara.
"Saya pedes ya pak" aku menambahkan lalu duduk di kursi plastik dekat Jeno.
Aku lihat hanya ada dua pelanggan yang makan disini dan Jeno juga aku.
"Dari tadi belum makan? "
"Nungguin lo lah biar bisa makan bareng. " dia sambil melepas jaketnya disampirkan ke bahuku.
Ok aku terima perlakuan manisnya ini.
Begitu makanan datang kami makan dengan tenang sampai habis tidak ada kalimat yang muncul hingga kelar.
"Gue akan coba lebih dekat sama lo, gue nggak tahu seperti apa sebenarnya diri lo. " aku memutuskan itu.
Jeno bahagia pasti.
"Yaelah nggak usah diomongin juga gue udah tahu kalau lo sebenarnya udah mulai sukakan sama gue? " kan dia ngelunjak.
"Nggak juga! " aku lempar jaketnya ke dadanya.
Dia terkekeh.
"Gue pamit ya, lo masuk sana"