Aina

Aina
Ep 84



Jeno membuat keputusan sesuai ide ku kalau semua karyawan harus punya posisi sendiri-sendiri.


"Bayu tetap jadi chef,bartendernya Tio karena minuman buatannya lebih konsisten dan enak, Fian waiters, dan kasir antara Abi dan Raka siapa menurut kalian yang bersedia? " kata Jeno yang membuat Tio nyengir soalnya di puji. Dan Abi juga Raka kaget karena emang posisi kasir bagian yang nggak enak menurut mereka.


"Raka aja" Abi duluan yang memberi pendapat.


"Gue nggak bisa full bro" sanggah Raka.


Emang Raka hanya bisa kerja habis pulang kuliah beda sama Abi.


"Tapi gue nggak suka jadi kasir" Abi beralasan nggak jelas.


"Gini aja, misal Abi lagi berhalangan atau apa jadi Raka yang bakalan ganti." Jeno menengahi.


Mereka semua setuju.


Aku pikir menurutku karyawan Jeno harus ditambah tapi aku hanya diam saja karena nanti takutnya mereka mikir aku yang anak baru udah ngusulin yang aneh.


"Apa kita nambah aja personilnya?" Tiba-tiba Jeno berkata demikian seolah tahu apa yang ada di pikiranku.


"Gimana Na, menurut lo? " lalu dia minta pendapat aku.


"Iya cari aja kasirnya bos" Abi ngomong duluan padahal aku juga bakalan bilang setuju.


"Kalau bisa cewek" usul ku.


"Wahhh, boleh boleh tuh" kali ini Raka yang bersemangat.


"Kan dari awal gue nggak pernah merekrut cewek " kayaknya Jeno tidak setuju.


"Halah bos sekali-kali napa" kini Abi yang ikutan.


"Gue nggak suka ada cewek yang kerja disini entar kalian nggak konsen kerja malah godain itu cewek dan cewek itu ribet. " nada bicara Jeno kaya serius.


Dia ini aneh banget, kaya trauma sama cewek tapi suka mainin cewek.


"Ehm,gue juga cewek Jeno! "


Semua tertawa.


"Udah kita pastiin emang kalian cuma berteman. Bisa-bisanya cewek cantik gini tidak dianggap cewek." Tio yang tadi diam sambil ngakak masih ngeyel menyimpulkan hubungan ku dan Jeno.


Jeno diam, dia mati kutu.


"Ya udah kita cari kasir cewek aja" katanya agak berat.


"Lagian biar gue punya teman cewek disini No"


"Iya iya, kita buka lowongan cewek. " Jeno akhirnya menyetujui.


***


"Na, sorry ya tadi gue cuma bercanda. Gue nggak mungkin nggak nganggep lo itu cewek. Lo cewek spesial di hati gue Aina. " Jeno mengatakan itu sebelum aku keluar dari mobilnya saat sudah tiba di depan kosan


Aku tersenyum,


"Iya, nggak usah gombal"


"Tuhkan gue serius selalu dibilang gombal, tadi bercanda dikira serius." Jeno pura-pura merajuk.


"Iya deh, tapi lo beneran setuju kan ada karyawan cewek? "


"Hem, gue juga mikir itu bagus juga." ternyata emang Jeno tidak keberatan.


"Yasudah, gue masuk ya. Selamat malam Jeno. "


"Malam juga sayang" dengan senyum andalannya.


Jeno bikin aku meleleh.


***


Besoknya sudah ada yang datang melamar, dia ini sepupunya Bayu jadi cepet deh dapet.


Aku datang ke kafe sendirian karena Jeno masih ada pekerjaan tidak bisa pulang sore. Jadi aku sendiri yang mewawancarai karyawan baru ini.


"Mbak Sena ternyata sudah berpengalaman menjadi kasir minimarket? " tanyaku pada Sena yang umurnya setahun lebih tua dariku.


"Iya bu, selama dua tahunan disana" dia memanggil aku ibu?


"Jangan panggil bu, panggil Aina saja mbak. Aku disini cuma karyawan part time kok."


Lalu aku menjelaskan tugasnya, dibantu oleh Abi. Dia yang mengajari cara mengoperasikan mesin kasir. Kalau aku belum terlalu ngerti soalnya.


"Jadi gue jadi pelayan kan mbak? " tanya Abi saat selesai mengajari Sena.


"Ya untuk sementara lo bantuin mbak Sena dulu sampai bisa"


"Dia mah udah lihai, lihat aja" jawab Abi.


Kami melihat ke arah kasir, terlihat Sena memang sudah seperti profesional menjadi kasir. Melayani pelanggan dengan baik dan tak lupa memberikan senyum saat berterima kasih. Pokoknya etika kasir sudah baik banget. Ya iyalah orang di minimarket tersebut diajarkan demikian.


"Iya sih, tapi lo awasin dulu aja mas Abi. "


"Waduh gue dipanggil mas lagi, jangan walau gue lebih tua dari lo kita cuma beda setahun. " Abi menolak dipanggil mas.


"Iya, Abi. Jadi gue juga jangan dipanggil mbak. "


"Ok, bu bos" tuhkan malah gitu.