
Setelah tutup kami semua pulang. Begitu juga gue dan Aina.
"Mana kunci motor lo, biar gue yang bawa. " gue minta kunci motor dia.
"Gue nggak punya helm lagi" katanya.
"Nggak masalah"
Lalu kaya terpaksa Aina memberikan kunci motornya.
Gue menaiki motor warna pink ini.
"Ayo"
Aina nampak ragu juga buat naik.
"Lo bawa aja, gue naik taksi. " lah dia malah bilang gitu sambil ngasih helmnya ke gue.
Aina berjalan ke arah jalan raya. Gue kejar dia dengan membawa motor ini.
"Udah malam Aina, sudah ayo. Kenapa sih? nggak mau dibonceng gue? "
Aina berhenti dan akhirnya dia mau juga gue bonceng.
Motor gue jalankan, tapi cewek dibelakang gue ini seolah naik ojek. Dia nggak mau pegangan gue.
"Pegangan dong Na, gue mau ngebut nih"
Dia nggak merespon.
Lalu gue beneran menaikkan kecepatannya dan memainkan gas biar cewek ini kaget dan reflek meluk gue. Hah, modus banget gue.
Tapi apa yang terjadi, sepertinya Aina malah memegang bagian belakang motor bukan gue.
Motor gue perlahan,ketika berhenti di lampu merah tangan Aina gue tarik.
Aina menolak tapi gue cengkeram pelan jadi dia nggak bisa melepaskan diri.
Gue paksa dia buat pegangan gue.
"Nggak sah modus deh" katanya sengit.
"Sekali aja Na, gue beneran kangen sama lo"
"Enggak! lepasin gue atau gue teriak nih" padahal dia udah terdengar teriak.
Terpaksa gue ngalah.
Kenapa sih ini cewek? kok jadi ngehindari gue lagi.
Padahal 2 tahun yang lalu kami sudah sangat dekat.
Apa karena gue yang menghindari dia selama ini? gue emang nggak pernah menyinggung tentang kita selama kita telponan. Ataupun pas gue pulang hanya masalah kerjaan aja nggak pernah lebih. Ya emang sengaja biar kita lupa kalau kita punya perasaan satu sama lain.
Dan satu lagi gue juga sudah diwanti-wanti emak gue buat melupakan perasaan gue sama Aina. "Boleh kerja sama tapi sebatas rekan kerja aja nggak boleh lebih, awas ya kamu kalau nekat" itu pesan eomma gue.
Berhubung gue anak baik gue nurut deh.
**
Aina langsung ke atas begitu masuk rumah.
Kalau sudah kaya gini gue nggak bisa ganggu lagi.
***
Tengah malam gue bangun, dan mendengar ada suara orang turun tangga. Gue rasa Aina, mungkin.
Lalu gue keluar kamar.
Benar Aina sedang masak di dapur, tercium aroma mie instan. Pasti dia bikin mie, karna lapar.
"Lapar? "
Aina nampak kaget, dia lalu menutup kepalanya degan hudi.
Gue jadi merasa aneh, kenapa dia selalu menutup kepalanya dengan jaket ya? Sejak gue datang gue nggak pernah lihat rambutnya digerai.
"Lo mau juga? " tawarnya.
Gue menggeleng.
Dia lalu membawa mie nya itu ke atas. Aduh kok makin aneh itu cewek? ya emang dia kaya gitu sih dari dulu. Tapi kan itu dulu pas waktu dia belum membuka hatinya buat gue.
Karena gue penasaran, gue naik ke atas. Gue nggak peduli tentang aturan rumah ini.
Aina makan di meja depan TV, jadi dilantai ini ada TV yang didepannya cuma ada karpet dan meja. Kata cewek-cewek buat nobar gitu. Entahlah gue nggak pernah ikutan nobar apaan mereka.
Dia nggak ngeh gue ada dibelakangnya. Rambutnya sudah dibuka, ternyata lebih pendek dari pada dulu.
Aina sekarang sadar ada gue, dia menoleh.
Dan lagi-lagi dia menutup kepalanya dengan hudi.
"Lo sakit? "
"Kenapa lo naik? " dia malah tanya
"Mau tanya lo sakit? kok lo dari tadi pakai jaket terus? sini gue lihat" gue maju dan ikut duduk lalu hendak menyentuh jidatnya.
Dia menghindar.
"Gue nggak papa, emang nggak boleh gue pakai jaket" Aina sinis lagi.
"Enggak boleh. Ditanya baik-baik jawabnya ngegas. Lo nggak ngerti perasaan gue? gue kangen banget sama lo"
Aina kini berdiri,
"Terus apa? emang kita ada hubungan apa? apa mesti kangen-kangenan gitu?." kayanya Aina emosi beneran nih.
Padahal gue bercanda emosinya tadi.
"Keputusan gue tinggal disini emang salah besar kayanya. Tenang saja besok pagi gue udah pergi. " Aina beneran emosi dia bahkan menangis.
Dia langsung masuk kamar menutup pintunya rapat meninggalkan makanannya.
"Na, maaf. Maafin gue, gue minta maaf. Gue nggak tahu kalau lo nggak nyaman sama gue. Mie lo lembek nih, ayo keluar lanjutin makannya. Gue turun deh. "