Aina

Aina
Ep 39



Kali ini aku sangat gugup karena Marsel memperkenalkan aku pada kedua orang tuanya sebagai pacarnya. Pada malam ketika mereka baru tiba sore harinya.


Papa dan mama Marsel, Om Dewa dan tante Mery memang sangat baik mereka selalu begitu kepadaku tidak kecuali kali ini. Mereka kelihatannya nampak bahagia apalagi.


"Papa senang kamu pacaran sama Aina, dia gadis yang tepat buat kamu jadi jangan lama-lama kamu sudah tua segera menikah" kalimat om Dewa membuat hatiku melompat, aku tidak pernah berpikir kalau Marsel ini seharusnya mencari istri bukan pacar.


"Aku sudah tahu papa pasti akan bilang seperti itu. " jawab Marsel sambil berdecak.


Jadi apa aku terjebak dalam situasi ini?bahkan Marsel sudah tahu akan seperti ini.


Apa ini menikah? tidak tidak jangan pikirkan macam-macam.


"Aina masih ingin berkarier dan mensejahterakan orang tuanya dengan hasil kerjanya papa jadi kami santai saja yang penting sekarang kalian bisa tenang karena aku masih normal dan mempunyai pacar yang tepat. " jelas Marsel yang membuatku seketika menoleh padanya ternyata dia juga mencari alasan agar kami tidak digiring ke jenjang pernikahan.


"Iya, kalau mama sih setuju dengan pikiran Aina dia masih muda baru setahunan lulus jadi lebih baik berkarir dulu menikmati hidupnya dulu mungkin setahun dua tahun sudah cukup. " kini tante Mery yang mengeluarkan kata-katanya yang membuatku baik-baik saja.


"Baiklah, walau papa inginnya kalian cepat menikah ya nggak papa kalau ditunda intinya papa dan mama sekarang tahu kalau Marsel ternyata mempunyai pacar yang baik. Kami senang. " om Dewa tersenyum senang.


Lalu kami bercakap-cakap menceritakan awal mula bagaimana kami bisa tertarik satu sama lain dan memutuskan jadian sekarang padahal sudah tahu dari dulu.


"Kata pepatah Jawa kan weting tresno jalaran soko kulino jadi mungkin itu kali alasannya" jawab Marsel mengarang.


Om dan tante tertawa riang.


Kemudian datanglah Angel dari luar, dia tadi pergi dengan Daniel katanya ingin memperbaiki hubungannya. Entahlah bagaimana hasilnya.


Setelah puas Angel duduk diantara mereka berdua dengan manjanya. Sepertinya suasana hatinya tidak baik dia walau terlihat senang tapi aku lihat wajahnya tidak demikian. Dia bahkan meneteskan air mata, tidak mungkin hanya karena rindu orang tuanya. Entahlah...


"Kamu kok nggak bilang kalau Aina jadi kakak ipar kamu sayang? " Tante Mery membelai rambut anak gadisnya itu dengan sayangnya.


Angel menghela nafas, " mereka itu cuma pura-pura ma pa, jangan percaya. "


Seketika Marsel melotot sedangkan aku berusaha tenang.


"Angel masih tidak percaya aja itu, masa aku di bilang nggak pantes buat Aina. " bela Marsel.


"Mungkin saya yang nggak pantes buat mas Marsel mungkin" kini aku juga ikutan.


"Kalian itu terlalu tidak mungkin kalau jadian jadi jangan percaya Angel yakin kalau Marsel pasti mengancam Aina iya kan sel? ngaku lo! " Angel mendesak Marsel. Bahkan sampai menunjuk-nunjuk Marsel.


"Angel yang sopan kamu, jangan panggil namanya saja pakai kakak atau mas gitu nggak sopan! " bentak om Dewa.


Memang Angel tidak pernah memanggil Marsel dengan sebutan kakak karena kata dia Marsel selalu mengganggunya dan menyebalkan. Tidak seperti kakaknya Martin yang lebih sayang padanya hingga dia sangat menghormati kakaknya itu.


"Iya iya maaf bang Marsel" Angel terpaksa bersikap baik karena dia paling takut dengan papanya.


Lalu Angel tidak tahan lagi sepertinya langsung mengajakku untuk menuju kamar nya dilantai atas.


Setelah aku berpamitan kepada mereka aku segera mengikuti Angel.