
Ketika sedang tidur aku dikagetkan dengan dering HP ku. Aku mengangkatnya setengah sadar. Ternyata suara Angel yang terdengar di HP.
Katanya dia berada diluar kos ku. Aku dengan malas menghampirinya, entahlah padahal aku ngantuk banget.
Angel terlihat kacau, dia berjongkok didepan pagar nggak jelas. Aku yakin dia mabok dan nggak berani pulang.
Segera aku tarik dia untuk masuk kedalam.
"Aina, emang lo sahabat gue paling baik sejagat raya pokoknya. " Angel melontarkan kalimat dengan nada kas orang mabok.
Setiba dikamar, dia langsung kekamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya.
Ck, menjijikan sekali. Ini yang tidak aku suka dari orang mabok, jadi aku nggak akan minum.
Aku membuatkan minuman jahe hangat untuk Angel yang sudah selesai dan agak baikan sekarang.
"Gue mau tidur, kalau mau cerita besok aja. Karena besok gue harus kerja jadi gue nggak mau mata gue hitam. " jelasku sambil mengambil posisi tidur.
"Ok, gue juga nggak mau cerita" Angel menyusul ku, memasukan kakinya kedalam selimut dan berbaring disampingku.
"Baguslah, jadi lo temenan sama itu minuman aja ngapain lo kemari? " aku terdengar sinis hanya untuk menyindir Angel.
Angel malah menutup tubuh dan wajahnya dengan selimut.
"Gue nggak bisa move on jadi hancur hati gue Ai, setidaknya dengan gue bersenang-senang gue nggak bakalan kepikiran dia. Tapi nyatanya gue salah tempat disana banyak kenangan gue dan dia jadi gue pingin lupain walau hanya sesaat tadi. " akhirnya tangis Angel pecah didalam selimut.
Aku langsung memeluknya diluar selimut.
Setelah beberapa saat Angel sudah tenang dan dia muncul dari selimut.
"Tadi gue ketemu Jeno. " kata Angel yang membuatku membuka mata ini lebar. " Dia bahkan lebih parah dari gue, entah dia sekarang masih hidup apa nggak. "
"Lo ngomong apaan sih? "
"Dan dia ngelak kalau bukan dia yang nyebarin gosip itu. "
"Mana ada tukang gosip ngaku? "
"Ai, Jeno patah hati banget ketika lo sekarang sama Marsel dan dia dari dulu cinta sama lo mungkin cinta mati gitu. " Angel dengan menggebu-gebu lupa sama masalahnya.
"Mati aja"
"Ih, dibilangin nggak percaya. Dia kalau lo suruh lompat ke jurang pasti tu anak bakalan mau." Ditambahin deh alay nya.
"Lo percaya sama dia? "
"Percaya, saat orang mabok cenderung jujur. Dan gue rasa lo harus cari tersangka lain bukan Jeno tersangkanya. " Angel terdengar mengatakan kebenaran.
Apa iya bukan Jeno? lantas siapa dong.
"Terus lo bilang ke dia alamat kos gue juga? "
Angel mengangguk, dasar teman menyebalkan.
"Dia cerita gimana bingungnya dia saat tiba-tiba nomer dia lo blok dan ketika dia datang ke kampung lo yang ada di Malang dia nggak nemuin elo. Dia juga mendengar disana tentang gosip lo. Terus dia berusaha mencari ke kota Malang dan bertemu dengan bapak lo yang juga nggak tahu keberadaan lo. Dia makin khawatir ketika tahu lo di usir dari rumah. Namun karena pekerjaan dia harus cepat kembali ke Surabaya. Dan akhirnya kemarin ketemu sama lo, ternyata ada disini dan makin sakit hati ngelihat lo sama Marsel. " cerita Angel yang bikin aku meneteskan air mata tanpa disadari.
Jeno memang tulus.
"Terus apa dia udah pindah tugas di sini lagi? "
"Besok dia udah balik ke Surabaya, cuma tiga hari disini. "
Jeno, maafin aku karena bikin kamu khawatir.
Aku tidur membelakangi Angel agar dia tidak tahu kalau aku menangis.