Aina

Aina
Ep. 100 Duka ku



Saat ini malam Natal aku sekarang berada di rumah sakit Malang menunggu Bapak yang ternyata sudah seminggu yang lalu sakit. Dan puncaknya kemarin malam beliau kritis. Aku lalu diberi tahu bulek Rina.


Tadinya aku juga mau mudik tapi nanti setelah tahun baru. Karena kafe sedang ramai kalau musim liburan begini.


Setelah aku resmi resign, aku putuskan untuk mudik dulu dan memikirkan apa yang akan aku lakukan setelahnya.


Aku juga mengemas seluruh barang-barang ku yang ada di kosan. Niatnya nanti kalau ke Jakarta lagi aku akan cari tempat yang lain.


Barang-barang aku titipkan di rumah Jeno. Aku tak lupa minta ijin pada yang punya rumah dan Sifa yang ada dirumah itu.


"Sekalian aja nanti pindah kesini mbak kalau balik. " itu saran Sifa yang berharap aku tinggal satu rumah dengan nya.


Waktu itu aku hanya menjawab dengan senyum saja.


***


"Kalau capek kamu istirahat saja di rumah Aina" bulek Rina datang membangunkan aku dari lamunan.


"Enggak, bulek kan sudah seminggu ini menjaga bapak jadi kali ini biar Aina yang jaga"


"Lalu pekerjaanmu bagaimana? "


"Bisa dari jauh kok bulek"


Bulek Rina sudah tidak bertanya lagi dia membuka tas yang berisikan makanan.


"Yasudah ayo makan dulu" bulek Rina mempersilakan aku buat makan.


Tapi aku tidak berselera makan karena didalam sana Bapak berbaring dengan alat medis yang sepertinya menyakitkan.


"Maafkan bulek, bapakmu melarang untuk kasih tahu kamu. Kalau bulek tidak sambang waktu itu dan tahu bapak kamu sakit lagi mungkin bapak kamu juga nggak akan bilang juga kalau sakit. Dia cuma minum obat yang ada tidak mau periksa dan itu malah memperburuk keadaannya. Jadi kita hanya bisa berdoa saja sama Tuhan. " bulek Rina menceritakan padaku bagaimana bapak.


Tanpa sadar aku meneteskan air mata.


"Bulek pulang saja, memang bulek tidak ke greja? "


"Iya habis ini. Setelah kamu makan" bulek memaksa aku buat makan lagi.


Bulek Rina saat terakhir dulu bertemu ikut kecewa sama aku, tapi kali ini dia baik banget.


"Bulek sudah bilang ke bapak kamu kalau kamu kerjaannya itu benar. Bulek sudah tahu dari Bunga, dan bapakmu juga sudah memaafkan kamu. Tapi entah kenapa dia malah dihantui rasa bersalah terus karena tidak bisa menjaga kamu dan mengorbankan kamu. " cerita bulek lagi.


"Sudah, sudah jangan nangis. Makan yang bener. Bulek pergi dulu, besok bulek kesini lagi ya"


Kemudian bulek Rina pergi.


***


Setelah berada di ruangan ICU selama lima hari akhirnya bapak sadar dan sudah bisa keluar tapi masih di ruang khusus penyakit dalam. Yah setidaknya aku bisa bertemu langsung dengan bapak dan bisa bercakap-cakap nantinya.


"Aina, kamu kenapa bisa kesini? " tanyanya saat melihatku dengan lemas.


"Iya Pak, Bapak cepat sembuh ya. "


Aku mengelus punggung tangan orang tua satu-satunya yang aku punya itu.


"Bapak kayaknya sudah tidak kuat Aina, jadi bapak tidak bisa menjaga kamu lagi." suara lemas itu terdengar lagi.


"Tidak pak, Aina masih membutuhkan bapak" aku menahan air mataku.


"Cari pria yang kamu cintai yang bisa jaga kamu ya nak. Yang bisa membimbing kamu ke jalan yang benar. Bapak minta maaf karena tidak melakukannya. " bapak menangis.


Aku juga nggak kuat lagi menahan tangisku.


"Aina juga minta maaf bapak"


Lalu kami berpelukan.


Tiba-tiba setelah selesai nafas bapak tersengal. Beliau seperti sesak nafas.


"Aina, sekali lagi bapak minta maaf. La illa ha illa Allah. " bapak mengucap entah apa itu.


Aku nggak tahu apa itu.


Lalu bapak tidak bergerak lagi.


"Bapak! "


Bapak meninggalkan aku.