
Bulek Rina sudah datang menemani bapak yang masih ngotot mengusir ku.
"Kamu lebih baik pergi saja dulu, tadi bapakmu sudah cerita apa masalahnya dan keadaannya makin buruk kalau kamu tetap disini. Nanti bulek akan bawa dia ke Malang saja. Terserah kamu mau kemana asal jangan dirumah ini, para tetangga sudah tahu kelakuan kamu Aina. Jadi tolong pergi saja! Bulek juga kecewa sama kamu. " tutur bulek ku itu menyarankan aku pergi.
Lalu aku mengemas barangku kembali tapi kali ini cuma bawa satu koper dan satu tas saja koper yang lain aku tinggal.
Ketika keluar rumah memang benar para tetangga memandangku hina. Seolah aku wanita kotor yang siap diludahi oleh mereka.
Aku mampir kerumah Bunga teman sekolahku dulu yang sudah menikah, rumahnya tak jauh dari sini. Mungkin dia tahu siapa yang memberi tahu ke bapak, dia cukup dekat dengan kami juga. Kalau aku telpon bapak juga lewat Bunga.
Sesampainya dirumah Bunga dia sedang menyuapi anaknya yang sudah berumur empat tahunan.
"Aina? " seketika Bunga memelukku.
Aku juga mengeratkan pelukan kami, aku rindu sahabatku ini.
"Ayo masuk dulu" Bunga segera menggendong anak laki-laki nya itu masuk serta mengemas makanan minuman anaknya itu.
Bunga menaruh anaknya dikasur dan diberi mainan.
"Kamu tahu siapa yang menyebar fitnah Bunga? " tanyaku langsung ke intinnya.
"Kata bapak kamu dia diberi tahu sama teman kuliah kamu. Aku juga pernah lihat ada cowok ganteng datang kerumah mu tapi aku lupa menfotonya juga lupa mukanya. " jelas Bunga.
"Apa dia agak kaya orang cina gitu? " aku mikirnya Jeno, ya karena yang mengunjungi bapak baru-baru ini katanya.
"Iya pokoknya ganteng gitu. "
Apa benar Jeno? lalu untuk apa dia memberi tahu bapak soal itu?
Baru juga kemarin aku merasakan kalau aku juga mencintainya kenapa aku mencurigainya? Namun tidak ada temanku yang tahu soal ini cuma Angel dan Jeno saja dan juga Marsel tidak mungkin Marsel tidak kenal bapak hanya Jeno yang tahu.
Setelah itu aku pamit pada Bunga untuk pergi.
"Mau kemana kamu Ai? "
"Entahlah, aku juga nggak tahu padahal aku lagi nganggur juga. "
"Lah bukannya kamu punya pria kaya yang siap membayarmu Ai? " kalimat Bunga yang menohok ku.
"Bunga, kamu juga percaya itu? aku nggak seperti itu. Aku kerja halal bukan jadi wanita seperti itu. "
"Nggak usah bohong Ai, aku kira kamu paling alim dari kita ternyata kamu lebih hebat mainnya dengan orang kaya biar dapatnya banyak. " astaga
"Demi Allah aku nggak kaya gitu, ok aku pernah jual diri tapi cuma sekali itupun terpaksa karena bapak harus segera dioperasi. Setelah itu aku tidak pernah lagi. " tanpa sadar aku menyebutkan Tuhan yang dipercayai Jeno karena aku juga nggak percaya siapa lagi.
Tapi rasa percaya ku pada umatNya yang sok alim itu kini sirna, dia memang kadal ya tetap kadal.
Lalu ternyata Bunga juga nggak percaya aku?
Dari kampung ku aku naik ojek menuju jalan besar dan naik bus ke kota.
Aku juga nggak tahu harus pergi kemana, hanya Jakarta yang aku pikirkan dimana aku lebih merasa nyaman disana.
Saat aku sampai terminal Malang aku menelpon Angel, dia mengangkatnya lalu aku ceritakan masalahku padanya hanya dia yang tahu dan mengerti aku.
"Lo kesini aja Ai, lo masih ada ongkos nggak? " sarannya.
Aku mengiyakan dan segera mencari bus jurusan ke Jakarta.
Sebelum berangkat aku menelpon bulek Rina menanyakan kabar bapak, ternyata bapak diajak ke rumahnya agar lebih tenang dan nggak dengar omongan tetangga.