Aina

Aina
Ep 18



Setelah pulang kerja aku mengunjungi Jeno.


Tapi aku mendapati banyak orang yang datang sekitar 6 orang, 2 pria dan 4 wanita sepertinya mereka teman kerja Jeno.


Aku masih berdiri diambang pintu,mau masuk tapi ragu didalam ramai aku takut mengganggu karena tidak kenal juga. Orang tua Jeno juga tidak ada.


"Aina" Jeno menyadari keberadaan ku.


Otomatis semua mata tertuju padaku.


Aku tersenyum, membungkukkan sedikit badanku untuk menyapa mereka.


"Pacar lo? " tanya seorang pria berjas hitam.


"Wah ternyata lo pacaran? katanya nggak mau pacaran? " tanya wanita berponi.


"Dasar pembohong" celoteh wanita berambut ikal.


"Ya iyalah Jeno nggak mau pacaran sama lo karena pacarnya cantik" kata pria yang jas nya ditenteng.


"Beneran pacar oppa? Jangan-jangan korban php juga? " pertanyaan wanita yang menggunakan rok mini.


"Bukan dia bukan pacar gue kita teman kuliah kebetulan dia yang nolongin gue kemarin. " jelas Jeno yang membuatku sepertinya agak kecewa entahlah, bukankah itu faktanya.


"Maaf saya mengganggu ya, saya permisi ya semuanya. " aku undur diri.


Jeno hanya menatap kepergian ku dengan tatapan dalam.


***


Saat sabtu siang aku baru mengunjungi Jeno, lagian ada orang tuanya juga aku tidak enak dikira aku nanti beneran pacarnya lagi.


Kali ini aku membawakan buah jeruk, entahlah aku random saja memilih buah ini.


Setelah sampai di ruang rawat Jeno sepertinya tidur. Aku duduk di kursi dekat tempat tidurnya.


Beberapa saat kemudian ada suster membawakan makan.


"Pacarnya Jeno ya? " tanya suster sambil meletakkan senampan makan siang. "nanti kalau dia sudah bangun disuapi ya kak. "


Aku mengangguk saja, akan sangat panjang kalau nanti aku jawab 'aku bukan pacarnya dan aku nggak mau menyuapi Jeno.'


Setengah jam aku disini, tapi tidak ada tanda-tanda orang tua Jeno datang. Jeno lalu terlihat menggeliat bangun.


"Aina? sejak kapan lo disini? "


"Sejak tadi pagi, dan gue kira lo mati pules banget tidurnya. "


Dia tertawa, aku rasa dia memang sudah sembuh. Bahkan dia menyenderkan badannya sendiri sudah bisa.


"Kalau gue mati lo pasti nangis kejer" ledek Jeno dan aku cuma mencibir nya. " Gue tahu gimana paniknya dan khawatirnya lo saat gue kecelakaan, hah gue seneng banget ternyata lo seperti itu. "


"Apaan, nggak ya. Lo pasti waktu itu berimajinasi" padahal iya, aku memang sangat ketakutan saat itu.


Aku menghampiri meja yang ada makanan tadi.


"Makanan lo udah datang dari tadi, mau makan sekarang? " tanyaku.


Jeno mengangguk, lalu aku mengatur makanan tersebut agar berada di depan Jeno.


"Gue bukan kidal, gue biasanya disuapin kalau makan. " Jeno secara tidak langsung menyuruhku menyuapi dia.


Yah, tangan kanan Jeno masih diperban jadi akan sangat sulit untuk makan dan minum.


Aku duduk di tepi tempat tidur, menghadap Jeno yang sudah memasang wajah manja. Lalu aku suapi dia dengan perlahan.


"Jeno orang tua lo lagi pulang? " tanyaku saat dia makan dari tangan ku.


"Hem, mereka sudah pulang ke Korea sejak kemarin." jawabnya yang bikin aku menjadi bingung.


"Ke Korea? padahal anaknya lagi sakit gini? " Aku malah sedikit marah tidak percaya dengan orang tua Jeno yang tega.


"Mereka harus kerja, lagian gue udah ke kamar mandi sendiri kok. Kalau makan kan ada elo, ada suster yang akan bantuin. "


"Jangan libatin gue, gue nggak bisa seharian disini. "


"Ada suster, mereka ramah sama gue bahkan gue juga dibantu ganti baju dan kekamar mandi. "


Aku terkejut mendengar kata terakhir.


"Mbak-mbaknya bantuin lo di kamar mandi? "


Seketika kepalaku di dorong pelan oleh Jeno.


"Suster laki Aina, pikiran lo pasti jorok"


Setelah selesai makan, aku mengupaskan jeruk.


"Gue nggak suka buah, jadi buat lo aja" Jeno memberitahuku.


Aku berhenti mengupas, "apaan ini buat gue kali" biar tidak sia-sia aku makan sendiri.


Lalu aku menemaninya sampai sore hari, menemaninya terapi juga tadi. Hingga sudah dirasa lelah aku hendak pulang tapi terasa berat kalau harus meninggalkan Jeno sendiri.


"Mau nginep? " sepertinya Jeno tahu kalau aku merasa kasihan.


"Tidak ada tempat tidur Aina, lo pulang aja gue nggak papa kok. Nggak usah kasian, lagian gue udah biasa sendirian kok. " imbuh Jeno.


Aku perhatikan disini cuma ada kursi dan meja saja tidak ada sofa yang bisa digunakan penunggu pasien istirahat.


"Beneran nggak papa gue tinggal? gue bisa loh nemenin lo besok gue juga libur. Dan-" aku mau bilang kalau bisa minta tempat tidur ektra.


"Kalau lo mau tidur bareng gue di kasur ini ya nggak papa lo nemenin gue. " aku belum selesai bicara sudah dipotong oleh Jeno kurang ajar malah ngajakin aku tidur ditempat tidur yang sama.


Seketika aku menggeleng, " lagi sakit nggak usah modus" lalu aku pamit pulang.