
Hari ini pulang kerja hujan,dan sebelnya aku tidak membawa payung karena tadi pagi tidak ada tanda-tandanya.
Huh bagaimana ini masa aku harus hujan-hujanan? memang aku hanya perlu berjalan sekitar 200meter dari kos ku yang baru. Lagi pula hujannya juga tidak begitu deras.
Saat aku keluar kantor, aku dikejutkan dari sebrang jalan oleh suara besar pria tampan yang tiga hari lalu bikin aku naik darah. Siapa lagi kalau bukan Jeno.
"Aina! gue bawa payung, tunggu! " teriaknya menunjukkan kalau dia memegang payung yang masih dilipat. Sedangkan ia memakai payung satu lagi.
Yah baiklah aku tunggu lumayanlah biar nggak basah bajuku.
Jeno menyebrang sendiri tanpa menunggu lampu merah. Dan tanpa diduga dari arah kanan ada motor mengendarai dengan kencang,entah motor jenis apa hingga-
Jeno tertabrak,
Tubuhnya terpental sedikit.
"JENO! " teriakku, langsung aku menghampirinya.
Motor itu terus melaju tidak peduli, untung saja lampu merah jadi langsung banyak orang yang mengerumuni dan ada yang memanggil ambulan.
Banyak darah yang dikeluarkan Jeno, entah bagian mana yang terluka.
"Na" suara lirih Jeno membuatku sedikit lega saat dia sadar ketika berada didalam ambulance.
"Jeno? lo nggak papa kan? " entah kenapa aku sangat takut dan khawatir hingga membuatku menangis.
Jeno menganggukkan kepala sedikit, aku memegang erat tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya sepertinya terluka parah entah lah.
Tiba di rumah sakit, Jeno langsung mendapatkan penanganan bahkan dia langsung di operasi begitu selesai pemeriksaan.
***
Aku menunggu diluar ruang operasi, lalu ada wanita cantik sekitar umur 45an sedang mendekat arahku dan disusul pria umur 50an berwajah cina. Oh bukan pasti Korea mereka pasti orang tua Jeno, tadi aku langsung menghubungi nomer ibunya yang ada di HP Jeno.
"Dimana Jeno? " tanya ibu itu dengan paniknya dan berderai air mata.
"Sedang di operasi tante. "
Kemudian ayahnya yang lebih tenang menenangkan istrinya, mereka duduk di kursi.
Sedangkan aku entah kenapa hanya mondar mandir nggak jelas.
Satu jam kemudian dokter keluar dan memberitahukan kalau Jeno tidak kenapa-kenapa hanya tangannya yang retak. Tadi dia sempat pingsan karena terkena gagar otak ringan.
"Maaf lalu nona ini siapa?" tanya ayah Jeno padaku dengan logat agak aneh.
"Pacar Jeno? " belum aku menjawab malah aku dikira pacarnya.
Ibunya mendekat, lalu memegang tanganku.
"Tadi kamu lebih panik dari pada kami, Terima kasih ya? " Ibunya melepaskannya. " Siapa namamu? "
"Aina, tante"
"Oh jadi kamu Aina? ,pantas saja Jeno suka,kamu cantik sekali" ibunya bahkan memuji ku.
Jadi apa Jeno menceritakan tentangku pada orang tuanya.
Setengah jam kemudian, Jeno sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Mereka berdua mengerumuni anaknya yang berbaring, aku hanya diam didekat pintu.
"Maaf om tante saya permisi pulang ya?" Aku pamit pada mereka berdua.
Mereka menoleh ke arahku.
"Aina makasih ya udah nolongin gue" Jeno tersenyum sambil menahan sakit.
Aku mendekat,ayahnya memberiku tempat dia duduk di kursi.
"Ok, gue bersyukur lo tidak apa-apa. Dan karena sudah ada orang tua lo gue balik ya? "
Tangan Jeno yang tidak diperban menarik ku.
"Ya gue baik-baik saja jadi nggak usah khawatir lagi ya? " katanya seenaknya saja.
Aku menatapnya, " duh siapa juga yang khawatir. Gue cuma nolongin selayaknya manusia ke manusia lainya kok. " bohong, aku berbohong nyatanya bukan seperti itu.
Ibunya tersenyum, "padahal tadi Aina yang lebih panik daripada eomma. "
Jeno tersenyum jahil, " Gimana eomma Aina cantik kan? bisa kan jadi menantu eomma? "
Duh nyebelin banget padahal lagi sakit bisa-bisanya bercanda kaya gini.
"Ya sangat cantik, baik lagi. "
Aku kayanya malu nih, mukaku pasti merah.
"Aina, lo sebaiknya cepat mandi dan ganti baju, baju lo basah. Sekali lagi Terima kasih ya sayang" Jeno menambah aku malu.
Setelah pamitan lagi aku pulang.