
Gue Jeno Lee, yah seperti nama belakang gue yang ada koreanya gue emang keturunan orang korea, bokap gue asli Korea Selatan. Pasti kebanyakan orang pikir gue orang kaya dan beruntung mendapatkan wajah tampan. Namun semua kadang tidak sesuai sama sampulnya.
Gue contohnya, walau kata orang dan kata gue kalau gue ini ganteng kaya artis Korea nasib tidak seberuntung mereka kebanyakan.
Sejak kecil gue ditinggal orang tua gue kerja di Korea, gue ditinggal sendiri bersama nenek di Indonesia tepatnya di kota Solo.
Gue kadang diperlakukan berbeda hanya karena mata gue nggak selebar teman-teman gue. Katanya gue cindo yang nggak punya toko.
Hah, dari situ gue mikir cita-cita gue mau buka toko. Tapi itu cuma cita-cita gue saat kecil hingga remaja. Setelah dewasa gue nggak mikir itu lagi entahlah.
Ketika SMA gue pergi ke Jakarta, pingin merasakan bagaimana hidup di ibu kota negara ini. Tentu saja ini berat bagi nenek gue untuk mengijinkan tapi karena gue tipe mudah merayu orang kata nenek gue 'lambe lamis' jadi beliau bisa dong gue bujuk.
Di Jakarta gue ngekos, dan kerja paruh waktu di sebuah kafe kalau pulang sekolah.
Sebenarnya yang punya kafe ragu nerima anak dibawah umur buat kerja tapi karena gue good looking dan good etika gue diterima dong.
Masa SMA gue disini sama kaya kebanyakan, gue bukan tipe siswa pintar yang juara satu tapi bukan juga siswa bodoh.
Disini gue kenal cinta pertama gue, dia gadis cantik dan manis yang bikin gue jedag jedug kalau melihatnya.
"Mau nggak jadi pacar gue? " gue dengan berani meminta dia jadi cewek gue, padahal gue grogi habis.
Dia malu-malu tuh.
Dan dia mengangguk gitu. Wah senang sekali gue saat itu, pertama kali jatuh cinta pertama kali nembak cewek, dan gue diterima langsung dong.
Hubungan kami sehat, maksudnya seperti remaja lainnya gitu. Emang mau ngapain juga.
Namun, ternyata remaja lainnya itu bukan seperti yang gue tahu. Mereka bahkan melakukan hubungan suami istri gitu. Gue salah ternyata woi.
"Teman Wilo kebanyakan sudah melepas keperawanannya dan Wilo juga penasaran bagaimana rasanya Jeno. " kata gadisku itu yang bernama Wilona kalau bicara selalu Wilo gini Wilo gitu kan manja banget tapi sekarang kalimatnya nantangin gue tuh.
Gue bingung mesti jawab apa, Wilona mengijinkan gue buat merawanin dia ah gue yang belum siap.
Apa gue normal?normal kok gue selalu turn on kalau sedang ciuman tapi gue tahan.
Lalu untuk pertama kali gue juga kenal minuman keras, waktu itu Wilo yang bawa. Yah cewek gue ini emang agak aneh, dia kelihatannya polos banget tapi setelah mengenalnya dia itu nggak sepolos itu.
"Coba aja Jeno, Jeno nggak bakalan mabok kok cuma gara-gara sekaleng doang. " suruh Wilona.
Dan gue coba dong, hah rasanya agak pait gitu tapi nagih. Najis kan gue.
Lalu gue nggak cukup sekaleng, gue dan Wilona minum sambil lihat film porn. Sialan itu cewek gue nggak tahan banget berada di situasi seperti ini.
Akhirnya gue dan Wilona berhasil berhubungan badan untuk yang pertama kalinya bagi kami.
Sungguh sangat menyesal saat pagi gue bangun masih dalam keadaan polos didalam kosan gue.
"Ah, anjing! "
"Kenapa Jeno? menyesal? " tanya Wilona yang nampak baik-baik saja tidak seperti gue yang frustasi. " Semua akan baik-baik saja, Wilo bahkan merasa puas karena Jeno sangat hebat semalam. Wilo nggak nyangka ternyata rasanya seenak itu. "
Gila banget ini cewek, gue aja nyesel dia keenakan.
Setelah itu gue nggak lagi mau kalau diajak, bahkan kalau dia main ke kosan gue cuma cukup main di bibir udah stop gue nggak mau lebih dari itu. Bukannya gue nggak normal gue normal banget bahkan gue bisa lebih dari satu kali waktu itu. Tapi dosanya gue nggak tahu seberapa besarnya.
Gue bahkan melakukan sholat taubat.
Hubungan kami agak meregang semenjak gue selalu menolak buat bermain dengan nya. Ah biarin aja lah nanti juga dia sadar kalau pacaran nggak harus berhubungan badan.
Dan gue di kejutkan dengan pernyataannya disertai bukti kalau dia hamil. Waduh, ini yang gue takutkan juga apalagi waktu itu kita melakukannya tanpa pengaman, karena emang nggak punya dan nggak tahu juga.
"Baiklah Wilona, gue akan tanggung jawab. Kita akan menikah." itu keputusan gue yang gila.
Gue pikir walau gue masih SMA gue punya penghasilan mungkin cukup buat berumah tangga. Nanti pasti juga dibantu sama appa dan eomma masa mereka diam aja lihat anaknya kesusahan.
Tapi Wilona tidak setuju menikah, dia katanya belum siap buat menjadi istri dan meninggalkan sekolah.
Gue udah bujuk kalau sekolah bisa tahun depan setelah melahirkan.
Gue bahkan bilang ke keluarga gue, gue bilang nenek dan kedua orang tua gue kalau gue mau menikahi seorang gadis yang telah hamil anak gue.
Semua marah terutama nenek, beliau sangat menyesal membiarkan gue tinggal di Jakarta sendiri yang berakibat fatal kaya gini.