
Paginya gue langsung naik pesawat ke Malang, biar cepet sampainya.
Rasanya kalau nggak nanya langsung ke Aina nggak lega.
Kenapa juga dia nggak ngasih tahu kemarin pas ketemu?kan dia nggak harus pergi ke Malang langsung gue nikahin itu cewek.
Gue tiba di Malang siang karena ada penundaan tadi. Setelah nyampai gue nyewa motor sport. Tadi sama orang rentalnya ketemuan di bandara.
Dengan mengendarai motor gue ke kafe, Malang . Entah nanti Aina di sana atau tidak gue nggak tahu. Karena yang gue tahu cuma kafe itu tempat tinggalnya.
Tiba di kafe, sudah buka. Ini hari sabtu jadi ramai pengunjung.
Begitu gue masuk ada salah satu karyawan yang ngenalin gue. Dan memberi senyum juga hormat.
"Pak Jeno,selamat datang. " sapa karyawati tersebut.
"Mana Aina? " gue langsung tanya.
"Mbak Aina ada di sana pak" tunjuk karyawati itu pada seorang wanita yang sedang membantu karyawan kafe melayani tamu sepertinya orang penting. Entahlah, gue nggak tahu.
Tapi pandangan gue fokus pada wanita cantik berhijab warna coklat muda, dengan blouse warna cream, dan celana bahan coklat tua senada pakaiannya. Bagaimana bisa dia jadi cantik banget kaya gini.
Ya Allah, gue beneran jatuh cinta sama wanita ini. Gue beneran sadar kali ini tidak bisa di ragukan lagi.
Nampaknya dia sudah selesai dengan pelanggan tersebut. Dia berjalan ke arah gue dengan senyum tipis.Tentu saja gue bales senyum dia.
"Ngapain lo kesini? " tanyanya ketika sudah sampai didepan gue.
"Mau nikah sama gue Na? "
Aina melotot, " Lo gila ya? "
"Ya, gue tergila-gila sam lo."
"Apaan sih lo No, lo nggak jelas banget. Banyak orang disini lo nggak malu? " Aina menoleh kanan kiri.
"Makanya bilang iya gitu jangan diam aja,Na"
Aina ngasih kode ke gue buat kita naik ke atas.
Sampai di atas,gue lihat ruangannya agak kosong tidak banyak barang. Bahkan cuma ada meja kursi dan sofa kosong.
"Rencananya gue mau jadiin renov, dibawah sudah sangat sempit. " jelas Aina, jadi kafe akan diperluas ceritanya.
"Terus lo tidur dimana? "
"Ya udah nikah aja sama gue"
"Gampang bener kalau ngomong" Aina tertawa.
Gue seneng banget lihat dia tertawa, terakhir ketemu dia nangis soalnya.
Lalu datang karyawati tadi membawa nampan minuman.
"Ehm, maaf mengganggu sebentar." dia meletakkan dua cangkir yang satu kopi dan satunya teh.
"Enggak lah Erna" Aina ramah.
"Silahkan pak Jeno diminum kopinya" wanita itu mempersilahkan.
"Kenapa sih gue dipanggil pak terus"
"Lah terus mau dipanggil oppa? Jeno oppa ya, emang boleh? " Erna ngajak bercanda.
Kenapa gue punya karyawan sengklek semuanya ya. Pasti didikan si Abi nih.
"Itu malah aneh"
"Maaf Pak, saya permisi kalau begitu" Erna pergi ke bawah.
Em, cepetan lo pergi. Ganggu aja.
"Sejak kapan? "
"Apanya? " berlagak bodoh dia.
"Tiba-tiba lo pakai hijab gini, apa gue nggak syok berat. "
Dia malah senyum, " Udah dua tahun ini gue belajar terus gue memutuskan buat ikrar 6 bulan yang lalu. Tapi baru berhijab tiga bulanan ini. Pantes kan gue pakai hijab? "
Terus, kenapa bisa gue nggak tahu?
"Lo cantik banget pakai hijab. "
Lalu gue menikmati kopi hitam ini. Sambil mendengarkan cerita Aina.
"Selama ini gue dapat ilmu banyak banget dari Sifa, dia yang bantu gue buat jadi wanita yang baik dan mengenal bagaimana islam. Gue juga dikenalin sama guru ngajinya. Lo tahu bu Aisyah dosen ekonomi syariah? ternyata dia anaknya kyai pondok pesantren. Nah gue ikrar sama beliau di pesantren tersebut ada di daerah sini. Dan kebetulan sekali pak Kyai tersebut yang datang ketika bapak meninggal. Lo juga sempet ketemu dia kan waktu itu. "
Gue sangat senang karena tembok kita sudah runtuh. Tinggal bagaimana hati Aina apa masih ada gue di sana.