
Sudah seminggu Jeno berada di rumah sakit hari ini waktunya dia pulang.
Aku minta ijin untuk pulang lebih awal karena Jeno akan pulang sekitar jam 3an sore.
Aku juga tidak tahu rasa peduliku terhadap Jeno meningkat, setiap hari sepulang kerja aku selalu mengunjunginya.
Tiba di ruang inap Jeno, ternyata sudah ada Ken yang duduk mengangkat kakinya di kursi. Sedangkan Jeno berberes sendirian, dasar teman laknat.
"Weih ada Aina" Ken menyadari kehadiranku.
"Hai" sapaku ramah lalu masuk kedalam.
"Makin cantik aja lo, dan sekarang kalian udah jadian nih. " Ken terkekeh nggak jelas.
Jeno juga tersenyum senang melihatku datang, "nggak usah godain Aina,dia kusus gue. "
Aku mendekati Jeno tanpa memperdulikan ocehan Ken, "sudah siap pulang? "
Jeno mengangguk, dia hendak menutup tas ranselnya tapi kesulitan karena menggunakan satu tangan. Aku langsung membantunya, tentu saja Jeno tersenyum senang.
"Kok udah pulang kerjanya? " tanya Jeno lembut.
"Iya kerjaan gue udah kelar, dan niatnya mau jemput lo e ternyata ada Ken. " jawabku.
"Hem, kita tinggal satu rumah. " jelas Jeno yang di benarkan oleh Ken.
Aku kira Jeno tinggal sendirian, baguslah kalau ada temannya.
Kami pulang menggunakan taxi online, aku duduk dibelakang bersama Jeno dan Ken didepan.
"Tau ada Aina gue nggak jemput lo" kata Ken yang terlihat menyesal, aneh.
"Gue juga nyesel, gue kira Jeno nggak ada yang jemput. "
"Duh kalian berdua kalau nggak ikhlas mending kalian turun, gue bisa sendiri kok. Lo juga Aina masa tega gue lagi sakit tapi lo cuma terpaksa peduli sama guenya? " Entah kenapa Jeno jadi emosi nggak jelas.
"Hidih baperan" ledek Ken.
Aku melirik Jeno dia memang sedikit aneh kalau emosi gini.
"Maaf oppa" bujuk ku bercanda.
Dan apa yang aku dapat, Jeno tertawa terbahak-bahak nggak jelas.
"Sekali lagi dong Na, panggil aku oppa" Jeno menatapku.
Aku menggeleng.
Kemudian Jeno menyenderkan kepalanya dipundak ku.
"Ih, kalau nggak kuat mending balik lagi ke rumah sakit. " rasanya agak aneh saja begitu dekat dengan Jeno begini.
"Gue cuma nyender sayang, gue kira hati lo udah luluh nerima gue karena peduliin gue beberapa hari ini eh ternyata sama aja yah? " Jeno mulai lagi penyakit nyebelinnya.
Ken di depan cuma ketawa nggak jelas.
"Kumat kan lo? " yah karena selama di rumah sakit ketika aku berkunjung Jeno biasa saja tidak pernah merayu dan bersikap biasa jadi aku lebih nyaman.
Ken tertawa makin keras sampai pak sopir taxi kena tabok lengannya.
Kami kemudian diam, entahlah aku malah merasa aneh kalau Jeno diam kaya gini. Tapi kalau dia ngomong pasti bakalan nyebelin, kan bingung.
"Pak ke jalan angrek dulu ya pak" kata Jeno menyuruh pak sopir dan jalan angrek adalah tempat kos an aku.
"Kok ke jalan angrek? " tanyaku heran, karena setahuku Jeno tidak tahu kosan ku yang baru.
"Kos lo jalan angrek kan? " Jeno bertanya balik.
"Nggak ke rumah lo dulu? "
"Nggak usah entar lo capek"
Akhirnya aku ngalah.
***
Tiba didepan kosan, aku langsung turun. Jeno ikut turun menyusulku.
"Disini kos cewek aja apa campur? " tanya Jeno nggak penting.
"Khusus cewek, lo mau kos juga disini? " mungkin itu maksudnya.
"Bagus deh" Jeno terlihat clingak clinguk nggak jelas lagi.
"Lo mau mampir? " itu cuma basa-basi jangan di iyain ya.
"Emang boleh? " tuh kan Jeno dikasih hati bakalan ke lambung dia mah.
"Enggak" aku tegas.
"Terus kenapa nanya? "
"Basa-basi doang"
Jeno mengacak pucuk rambutku sambil terkekeh. Aku berusaha menghindar.
Ken menyembulkan badannya.
"Woi, kalau mau ngebucin gue tinggal ya? "teriak Ken.
Jeno mendengus, " gue balik ya, makasih Aina. "