
Hari minggu ini Marsel memintaku untuk menemui Gres, katanya dia mau minta maaf.
Gres ternyata dibebaskan bersyarat, karena dia merupakan pasien yang meminum obat. Dia mempunyai penyakit tidak bisa mengontrol emosi dan moodnya gampang berubah-ubah, entahlah aku cuma dikasih tau sama Angel kaya gitu.
Tentu saja Angel sangat marah karena wanita itu bebas begitu saja.
Angel menyarankan aku buat ikut dia beribadah ke greja. Dia memang termasuk umat yang taat karena didikan keluarganya.
Lalu dia pun mempunyai ide kalau aku dan Gres bisa bertemu di sana.
"Biar tobat itu lampir" alasannya katanya.
Aku pun menyetujuinya, sekalian mungkin aku butuh ketenangan jiwa. Mungkin dengan beribadah akan menjadi lebih baik.
Mungkin cobaan ini adalah teguran dari Tuhan karena aku selalu mengabaikannya.
Marsel juga setuju kami bertemu di greja, dia pikir itu sangat bagus.
Aku pergi bersama Angel dan tante Mery.
Tiba di greja, sudah banyak orang karena ini memang hari minggu banyak yang datang.
Lalu Marsel menelpon,
"Kami ada di taman belakang greja,tolong kesini ya Ai. Gres menunggumu. " kata Marsel memberiku petunjuk dimana aku bisa bertemu Gres.
Lalu aku pergi bersama Angel, tante Mery memilih masuk saja.
Tiba ditempat tujuan, aku mendapati Marsel dan Gres duduk di sebuah kursi taman.
Gres terlihat sederhana makeup tipis nampak lebih anggun dan cantik dari biasanya yang terlihat glamor.
Begitu melihatku dia berdiri dengan gugup.
Marsel juga berdiri,
"Kalian bicara saja, aku akan menunggu di sana." Marsel menunjuk pagar greja yang berjarak sekitar 10 meter lebih dari kursi itu.
"Aman nih gue tinggal? " tanya Angel sinis.
"Aman, gue awasin mereka tenang saja. Lo masuk sana" jawab Marsel meyakinkan Angel.
"Baiklah" Angel menyetujui, " gue tinggal ya Ai, lo gue percayakan sama Marsel. Gue masuk, nanti kalau ada apa-apa telpon gue"
Kini giliran Marsel yang menjauh dari aku dan Gres.
Tapi matanya tetap melihat kami berdua tapi mungkin tidak bisa mendengar apa yang kami katakan.
Gres menatapku dengan tatapan sayu, dia hendak berlutut tapi aku tahan.
"Gue mohon maaf yang sebesar-besarnya Aina sama lo" katanya terdengar tulus.
"Iya nona aku maafin, mungkin saat itu kamu sedang emosi saja"
"Jangan panggil gue nona lagi, maafin juga soal waktu itu. " katanya mengingatkan aku pada saat dia mengisengi aku dan perusahaan tempat ku bekerja.
"Kalau itu aku juga sudah maafkan tapi perusahan atau pak doni mungkin yang harus mbak Gres temui sendiri. "
"Iya, gue akan ke sana nanti. " Gres yang aku lihat saat ini sangat beda dari biasanya.
Tutur katanya lebih lembut dan tenang.
Kami diam sesaat, karena aku juga bingung harus ngomong apa ke dia. Karena bagiku sudah cukup dia minta maaf.
"Lo tahu tempat ini adalah tempat dimana gue dan Marsel bertemu untuk pertama kalinya. Dia waktu itu mengajak gue ngobrol duluan, katanya suka sama gue. " Gres kayanya mau mengenang masa lalunya. " Gue sekarang tahu kenapa Marsel suka sama lo sekarang"
Waduh kenapa malah bahas hal sensitif ini.
"Enggak mbak, mas Marsel enggak beneran suka sama aku. Kan mbak tahu hubungan kami cuma bohongan"
"Dia saat itu mendesak gue buat balik ke sini, katanya orang tuanya mendesaknya agar punya pasangan. Sedangkan gue walau sudah cukup umur untuk menikah gue nggak pernah sekalipun berpikir untuk menikah. Jadi saat itu gue malah takut kalau mau dinikahi sama Marsel. Jadi gue saranin buat dia cari wanita lain. Tapi disaat dia menemukan elo, gue malah sakit hati. " ceritanya.
"Mbak nggak usah sakit hati"
"Lalu tambah sakit lagi ternyata lo itu wanita yang manis dan cantik. Sama kaya gue dulu, gue sebenarnya sama kaya elo gini. Cantik, lembut, dan anggun jadi Marsel itu sukanya sama wanita seperti itu. Makanya dia itu beneran cinta sama elo Aina" Gres sedikit menunjukkan emosinya tapi masih bisa dikendalikan.
Matanya berkaca-kaca.
"Gue anak panti sini dulunya, lalu gue diadopsi. Hingga gue bisa mewujudkan apa yang jadi cita-cita gue Aina, namun orang tua angkat gue lebih terobsesi ternyata. Mereka selalu menuntut agar gue jadi anak yang hebat. Jadi gue berusaha menjadi wanita yang hebat dan cantik. Tapi ternyata gue mengabaikan perasaan Marsel yang sejak dulu tulus sama gue. Makanya gue nggak heran kalau dia bisa suka sama lo yang mirip gue dimasa lalu."
"Tapi aku bukan mbak Gres jadi kita itu beda. Mas Marsel pasti hanya menyukaiku sesaat karena kita cuma mirip aja, mbak"
Gres mengambil nafas, mungkin itu yang harus dia lakukan agar bisa mengontrol emosinya.
Aku lihat Marsel hendak pergi menghampiri kami tapi aku memberi isyarat untuk tidak pergi.