Aina

Aina
Ep 80



Jeno katanya sudah menungguku di depan kantor saat jam pulang kerja. Aku bergegas untuk menghampirinya.


Ketika berada didalam lift ada pak Doni, dia hanya sendiri. Soalnya memang tadi aku dengan sigap dan cepat pergi sebelum antri di lift.


"Mau pulang bareng sama saya nggak Ai? " tanyanya.


Aku nyengir nggak jelas, " sudah dijemput pak"


Begitu sampai di bawah, pak Doni masih mengikuti aku hingga sampai dekat mobil Jeno.


"Pacar kamu? katanya nggak punya pacar? " tanya Pak Doni.


Jeno keluar mobil sambil mengangkat tangan sebelah kanannya dengan tersenyum sedikit.


"Em saya permisi duluan ya pak"


Aku bergegas untuk masuk mobil Jeno. Lalu disusul yang punya mobil duduk disebelahku bagian kemudi.


Mobil langsung dijalankan.


"Siapa?" tanya Jeno dengan nada kurang mengenakkan.


"Direktur perusahaan gue"


"Wah mainnya sama direktur nih sekarang. " canda Jeno tapi terdengar menyebalkan.


"Udah deh lo buang pikiran kotor lo itu. "


"Siapa juga yang berpikir kotor. Makanya lo harus jaga batasan sama laki-laki jangan gampangan. " makin menyebalkan dia.


"Siapa juga yang gampangan? "


"Maksud gue nggak usah akrab sama laki-laki lain gitu Na" entah kenapa Jeno malah sedikit emosi.


"Berarti gue nggak boleh akrab juga sama lo? "


"Kecuali gue" dia agak tenang.


Aku mendengus sebal, emang dia siapa ngatur hidup aku.


Lalu kami diam hingga tiba di kafe miliknya.


Aku padahal ingin pulang kenapa dia membawaku kesini.


"Maafin gue Na, gue emang nggak berhak ngatur,mau lo dekat dengan pria mana pun gue nggak berhak. " Jeno meminta maaf saat dia menghentikan mobilnya tapi kami masih ada didalam belum turun.


"Iya, tapi emang lo bener sih. Gue cewek kalau gampangan kesannya gue murahan."


"Lo nggak gitu kok, tadi gue cuma sebel aja lihat lo sama cowok lain. Gue udah nggak sanggup kaya gitu lagi. " suaranya lembut sambil menatapku.


Aku lihat wajahnya memang tulus.


"Ya udah sih. Sekarang kenapa lo bawa gue kesini? " tunjukku ke depan arah kafe.


Jeno malah menyenderkan badannya, sambil menghela nafas.


Dia akan ditugaskan ke Batam? waduh jauh banget ya.


Lalu kami turun.


Tiba didalam,Jeno langsung mengajakku ke area bar. Untuk menyuruhku membuatkannya kopi.


Baiklah aku sudah bisa membuat kopi kok.


"Enak, lo lulus jadi bini gue" goda Jeno begitu dia menyeruput kopi hitam yang aku buat.


"Gue terus minum apa dong? "


"Bikin aja sendiri apa yang lo suka" Jeno sambil mengecek stok bahan.


Aku lalu membuat minuman sesuai yang ada di resep bawah bar.


"Yang bikin resep siapa? "tanyaku saat sudah bisa membuat satu gelas minuman coklat.


"Gue lah" jawabnya sombong.


Lalu aku hendak duduk di kursi depan bar.


"Lo duduk disini aja perhatiin gue. " perintahnya, yang aku turuti.


"Berapa lama lo pernah kerja di kafe?selama kerja lo nggak dikasih tahu bagian pembuatannya gitu" tanyanya kemudian.


"Hampir selama gue kuliah, tapi karena gue part time bagian pelayan doang jadi nggak tahu sih bagian gini-ginian dan nggak mau tahu juga soalnya bakalan ribet. Lagian sudah ada bagian masing-masing juga kan"


Jeno diam seperti meresapi apa yang aku katakan.


"Lo mau nggak kerja disini? " tanyanya mengejutkan.


"Gue kan udah kerja"


"Gue juga punya kerjaan, lo masih karyawan kontrak masa lo nggak mau berbisnis sama gue? " kenapa kalimatnya sedikit menghina ku?


Masa aku harus kerja di dua tempat? yang benar saja. Kerja di satu kantor saja aku kalau pulang sudah lelah. Apa bisa aku kerja di tempat lain lagi


"Lo butuh karyawan lagi? mending buka lowongan jangan nawarin gue."


Kemudian ada satu karyawan datang memberikan pesanan yang harus dibuat.


"Bos,expresso satu"


"Lo bikin sendiri gue sedang ngobrol" tanggapan Jeno.


Karyawan itu masuk, lalu membuat pesanan minuman itu sendiri.


"Kita ngobrol di atas aja" ajak ku.


Kamipun pindah tempat.