Aina

Aina
Ep 64 masih Jeno



Kali ini gue dibuat kebingungan saat nomer gue diblokir dan uang gue dikembalikan dengan utuh tanpa kurang. Gue sudah berpikir macam-macam karena nggak mungkin Aina dengan mudah mendapatkan uang sebanyak itu. Kalau untuk nomer gue diblokir sih itu sudah biasa dulu.


Lalu saat gue ditugaskan ke Surabaya gue menyempatkan diri saat libur pergi ke kampung Aina gue berharap bisa bertemu dengannya. Gue sudah pernah ke kampungnya saat gue tugas di Malang. Sekalian gue mencari kopi buat kafe gue, dan sejak saat itu kafe gue kopinya dari bapaknya Aina atau kampung halamannya.


Di sana gue ngga bertemu Aina, dan bapaknya juga nggak ada. Kata para tetangga Aina ini wanita yang nggak bener dan lain sebagainya. Di mata mereka Aina itu wanita buruk.


Padahal mereka nggak tahu seberapa baik dan lembutnya Aina walau kadang berpikir bodoh. Mungkin ini penyebab saat Aina berpikir bodoh saat itu.


Lalu gue bingung mau mencari Aina kemana, tapi dilain sisi gue juga harus kerja di Surabaya. Kerjaan disini banyak hingga membuat gue lupa tentang Aina.


Sudahlah dia juga udah gede ini, mau kemana mau ngapain terserah dia.


Jadi saat gue balik ke Jakarta buat menemani Sifa, adik sepupu gue buat masuk kuliah di kampus gue dulu gue melihat Aina di sini.


Lega rasanya dia baik-baik saja dan sudah mempunyai pekerjaan juga. Gue hendak bicara sama dia makanya gue cari tahu dimana kantornya. Gue tungguin dia sampai keluar.


Namun gue dikejutkan dengan bang Marsel yang menjemput Aina. Bang Marsel ini kakaknya Angel, dia satu kantor sama gue.


Kok bisa dia sama Aina?


Dulu gue tahu sih kalau bang Marsel juga suka sama Aina. Dan gue sudah bilang jangan mau sama bang Marsel. Karena setahu gue dia ini punya cewek dan kadang juga main perempuan.


Dengan begitu gue sudah mendapatkan jawaban tentang dari mana asal uang itu. Tentu saja dari pacar baru Aina yaitu bang Marsel. Dia walaupun seorang PNS tapi berasal dari keluarga kaya raya dan punya usaha sendiri juga.


Oh jadi tipenya Aina itu yang kaya gini.


Baiklah gue nggak akan ganggu hidup itu cewek lagi.


Saat itu gue pulang dari Surabaya mengendarai mobil gue, dan gue tiba sudah malam hari.


Rasanya nggak percaya ada seorang cewek tidur dengan lelapnya di tempat tidur gue. Padahal gue kunci loh kamar ini pakai barkode gitu. Yah sebenarnya kata sandinya adalah hari ulang tahun Aina.


Duh, ketahuan deh gue bucin banget sama dia. Segampang itu dia bisa tahu kata sandi kamar gue.


Gue nggak tega bangunin dia, lalu gue tidur di sofa.


Ternyata Aina bisa sampai ke sini karena diajak Sifa gitu.


Jadi karena Sifa sekarang kuliah disini dia menempati kamar atas dan dia juga mengajak temennya buat menempati kamar yang satunya. Gue sih seneng karena rumah gue ada yang menempati daripada dibiarin kosong saat gue tinggal tugas.


Gue selama tugas di Surabaya tinggal di kosan berdua dengan teman gue biar irit katanya.


Lalu setelah setahun lebih akhirnya gue bisa pindah tugas di Jakarta. Mudah-mudahan ini tetap, gue lebih suka disini. Lagian usaha gue juga disini biar nggak bolak-balik gitu.


Saat gue bertemu dengan bang Marsel gue diledekin tuh sama dia.


"Gue kan yang berhasil mendapatkan Aina? hah lo mah kalah. Dan lo tahu gue udah setahunan pacaran sama dia, tahukan apa yang gue dapat dari cewek cantik kaya Aina? lo tahu juga kan kalau dia bisa dibayar? " bang Marsel memancing emosi gue.


Gue sebenarnya nggak peduli dia mau pacaran kek apalah, gue nggak terimanya dia menjelekkan Aina seolah Aina wanita murahan.


Lalu gue pukul bang Marsel, kami pun terlibat perkelahian. Hingga membuat gue yang anak baru di skor dari kantor, skor gue bisa merujuk gue di pecat. Karena bang Marsel ini termasuk atasan gue. Kantor tidak mau tahu alasannya yang mereka tahu gue nyerang atasan gue itu aja.