
Hari senin aku sudah mulai kerja, lukaku sudah pulih tinggal nyeri sedikit di pahaku tapi sudah tidak masalah juga.
"Lo dipanggil sama pak Doni Ai" kata mbak Fera saat dia baru balik dari ruangan pak Doni.
Aku langsung bergegas ke sana.
Begitu mengetuk pintu dan masuk pak Doni memasang senyum.
"Saya denger kamu habis sakit, sudah sembuh? , dan ulah Gresia lagi ya? " pak Doni memang seminggu ini pergi ke luar kota jadi dia nggak ikut menjenguk ku waktu itu.
"Iya saya sudah sehat pak. Bapak denger gosip dari mana kalau ulah Gresia? "
Pak Doni mengeluarkan HP nya. Yah aku nggak nyangka dia juga melihat kabar itu di media sosial
"Apa kamu baik-baik saja? " tanyanya terdengar khawatir.
"Iya Pak, masalahnya sudah selesai Gres sudah minta maaf juga. Cuma medsos susah dikendalikan. "
Pak Doni diam, dia menatapku dengan tatapan aneh. Waduh aku kok jadi ngeri gini ya.
"Nanti kamu mau makan siang apa?" pertanyaannya yang tidak relevan sama sekali.
Ngapain juga dia tanya aku mau makan apa.
"Belum tahu pak, paling ngikut anak-anak yang lain"
"Makan siang sama saya" anaknya tapi terdengar seperti perintah yang nggak bisa dibantah.
***
Tiba waktunya makan siang aku terpaksa ikut pak Doni.
Tapi sebelumnya aku pamit sama mbak Fera, karena dia juga ngajakin aku buat makan padang tapi aku tolak.
"Selama gue kerja disini tidak ada sejarahnya pak Doni ngajakin makan siang karyawannya. Walau ramai-ramai sekalipun tidak pernah mau. Gue jadi curiga nih? " celoteh mbak Fera saat aku bilang akan makan siang bareng si bos itu.
Tapi perkataanya bikin aku jadi takut.
"Waduh, masa sih mbak? "
"Hem jangan-jangan,,, " mbak Fera tidak melanjutkan tapi nadanya meledek.
Lalu ada chat masuk dari pak Doni, dia bilang nunggu diparkiran belakang.
Setelah pamit mbak Fera aku bergegas pergi ke tempat yang ditunjuk. Aku jadi merasa takut, karena aku mencetak sejarah. Takut juga bakalan ada gosip kalau ada yang melihat.
"Maaf Pak" aku merasa nggak enak karena si bos nungguin.
Dia sudah ada didalam mobil.
Begitu aku masuk ke dalam mobilnya, dia segera menjalankannya.
Dijalan, dia memutar lagu entah apa aku nggak begitu paham tentang musik tapi terdengar enak dan baik agar aku santai tidak tegang.
"Mau makan apa? " tanya pak Doni.
"Terserah bapak aja"
"Kita makan mie Jawa aja ya. " katanya.
Waduh, mie lagi mie lagi dia nggak bosen apa. Jualan mie sekarang mau makan mie.
Tiba di restoran yang dimaksud,yang ramai akan para pengunjung yang mau makan siang.
Untungnya kami mendapatkan tempat duduk.
"Kita coba" Pak Doni langsung makan.
Aku juga,
"Jadi saya mau bikin menu mie Jawa kaya gini. Ini enak, merakyat banyak yang suka yah walau mie kita juga banyak yang suka tapi mie ini disukai kalangan muda hingga tua. Sedangkan mie kita kebanyakan yang suka anak muda doang. " jelasnya setelah dia memakan setengah porsi lalu minum es jeruk.
Jadi dia ngajakin aku melakukan riset gitu?
"Iya Pak aku juga suka"
"Berarti kita sama-sama suka? wah jadian dong" aku nggak nyangka dia bisa bercanda walau agak garing.
Aku cuma nyengir kuda.
Setelah selesai makan, dan membayar lalu kami keluar dari restoran tersebut.
"Mau beli es krim itu? " tunjuk nya ke kedai es krim.
"Bapak mau melakukan riset es krim juga? mau bikin menu es krim juga?"
Dia cuma tertawa,
"Ya enggak lah, kali ini yang beneran kencan" jawabnya tanpa berpikir kalau selain aku bakalan ke geeran.
Kami masuk ke dalam kedai es krim, disini lebih sepi karena emang orang-orang mungkin milih makan yang berat dulu.
"Bapak suka es krim? " tanyaku saat kami sudah menikmati es krim yang ada di mangkok kecil.
"Hem" dia mengangguk.
"Kaya anak kecil ya? " tanyanya yang aku setujui.
"Enggak juga, karena emang enak kan pak"
"Umur kamu berapa Ai? " tanyanya mengejutkan. Bukankah dia bisa lihat di bio aku.
"24 tan Pak"
"Udah punya pacar? " tanyanya lagi.
Aku hanya menggeleng.
"Usia 23 dulu saya sudah menikah, mantan istri saya umur 20. Kamu udah 24 belum punya pacar. " dia membandingkan gitu.
Tapi aku baru tahu kalau pak Doni ini duda, aku kira masih lajang.
"Saya kira bapak lajang"
"Iya sekarang melajang lagi, tapi saya punya anak loh udah tk. " ceritanya.
"Seandainya kamu nikah sama duda yang punya anak apa mau? " pertanyaan yang aneh.
"Kepikiran buat nikah aja belum pak" jawabku santai.
"Tapi kan ini seandainya Ai" dia maksa aku menjawab yang jelas
"Ya kalau jodohnya saya ya nggak bisa nolak. Tapi saya nggak yakin bisa jadi ibu tiri yang baik. "
"Bisa aja, kamu baik dan lembut pasti anak-anak suka. " dia kelihatan bahagia berkata seperti itu.
Entahlah obrolan random nggak jelas pak bos ini.