Aina

Aina
Ep 42 melihatnya di kedai mie



Pagi ini aku tidak begitu sibuk karena minggu kemarin sudah terselesaikan mentransfer semua gaji karyawan. Tapi karyawan training di kedai yang gajiannya masih kes belum aku kasihkan.


"Mbak Fera, nanti tolong temenin aku ke kedai mau ya? soalnya aku belum tahu dimana saja tempatnya. Yang aku tahu cuma yang disebrang yang tiga aku belum tahu. " aku memohon pada mbak Fera rekan kerjaku yang senior.


"Yang dijalan sudirman lo titipin aja ke pak Boy dia lagi diruang direktur, terus yang di Bogor nggak ada kan, terus tinggal yang di deket kampus sama di BSD. Aku mau arah BSD jadi bisa aku bawa karena sekalian gue mau rapat sama si bos disana." mbak Fera menjelaskan panjang lebar.


"Jadi lo sendirian aja ya, lo tahu kan kampus KU kedainya ada didepannya gitu terus lo minta sopir kantor aja buat nemenin biar aman juga. Dan emang itu kan prosedurnya kalau lo nggak bawa kendaraan pribadi harus minta anter pak sopir. Ok Aina? "


"Iya mbak"


Lalu aku berangkat dengan pak sopir, ketika jam sepuluhan agar tidak macet jam makan siang.


Setelah aku nyebrang ngasih amplop gaji ke karyawan training disana lalu aku pergi ke kampus Ku , ini adalah kampus ku dulu. Jadi kedai ini baru dulu belum ada makanya aku harus mencarinya nanti.


Dan aku langsung menemukannya karena memang kedai ini tulisannya sangat jelas dan langsung bisa dibaca.


Aku masuk, langsung aku cari kepala kedainya. Dan memberikan tiga amplop gaji padanya.


"Makasih ya mbak udah datang kesini,memang kedai ini lebih ramai jadi sangat susah ditinggal. " memang begitulah peraturannya jadi akunting lah yang harus datang memberikan gaji mereka.


"Iya sama-sama sudah jadi tugas ku kok. "


"Mau makan dulu mbak? ini udah mau jam makan siang loh. " tawarnya yang bernama Vino.


Aku memang selama kerja di perusahaan mie pedas ini belum pernah makan langsung di kedainya.


"Boleh deh. "


Aku mengajak pak sopir, pak Arya untuk turut serta makan tapi beliau menolak katanya sudah bosan makan mie disini. Pak Arya memilih makan di warteg pojok yang juga pernah aku jadikan langganan dulu ketika aku masih kuliah disini.


Mie pun datang, aku pesan yang level 1 saja lagi nggak pingin yang pedes banget.


Aku perhatikan lama kelamaan kedai ini berangsur ramai bahkan tempat duduk menjadi penuh.


Alhasil aku memilih pindah saja ke dalam ruangan khusus karyawan agar bangku yang aku dudukin bisa diisi pelanggan.


Ruangan khusus karyawan ini ada kaca yang bisa melihat luar tapi kalau dari luar tidak bisa melihat yang didalam.


Duh aku jadi kangen masa itu.


Dan tidak aku duga ada pria yang sudah empat bulan ini tidak pernah aku temui datang dengan seorang wanita yang aku kenal juga.


Jeno bersama dengan Sifa adik sepupunya, aku baru ingat kalau Sifa mau kuliah juga disini.


Entah kenapa aku merindukannya tapi aku masih tidak bisa menerima kalau pria itu yang bikin aku dan bapak jauh.


Dia dan mulutnya aku benci.


Aku perhatikan Sifa sangat cantik dan anggun dengan pakaian panjang berhijab. Sifa sangat cantik, kalau orang tidak tahu mungkin mereka mengira Jeno dan Sifa pasangan. Karena sama-sama goodlooking.


Ingin rasanya aku menyapa mereka tapi aku benci Jeno pokoknya jadi abaikan keinginanku itu.


Aku menyelesaikan makan ku, lagian pak Arya sepertinya sudah menunggu.


Tapi Jeno masih ada disitu, bagaimana ini kalau dia melihatmu nanti?


Aku sedikit berlari dan menutupi wajahku dengan masker agar tidak terlihat oleh Jeno. Yah untung aku selalu membawa masker di tas.


"Mbak Aina! "


Duh ada yang manggil aku lagi!.


Itu suara Vino yang menyusul ku, dia memberikan tas ku yang bisa-bisanya tertinggal padahal tadi aku mengambil masker dari dalamnya.


Suara Vino cukup keras mungkin karena disini ramai jadi dia pikir takut tidak terdengar olehku.


Aku melirik ke arah Jeno, sial dia juga melihatku. Mata kamu bahkan sempat bertemu sesaat, kemudian aku berlari masuk ke dalam mobil.


Jeno sepertinya mengejar ku, aku menundukkan badanku agar tidak terlihat. Kok dia mengenaliku ya? padahal udah aku tutup mukaku.


Aku hanya tidak mau bertemu dengan si brengsek menyebalkan itu.