
Setelah sadar yang aku lihat pertama kali Jeno yang sedang bercerita pada Angel bagaimana aku tadi ditemukan.
Aku sangat bersyukur bisa selamat dan mempunyai teman-teman yang baik seperti mereka berdua.
Ketika mereka ngeh kalau aku sudah sadarkan diri, segera Angel memanggil dokter.
Aku tak lupa berterima kasih pada Jeno.
Kemudian datanglah om Dewa dan tante Mery.
Aku sangat malu kalau mereka tahu kontrak pacaran ku dengan Marsel. Namun ternyata sepertinya tidak mereka masih baik sama aku.
Kemudian atas saran tante Mery Jeno pulang. Yah, dia sangat terlihat lelah dan letih sekali.
Lalu Jeno pamit, disusul om Dewa.
Kini tinggal tante Mery dan Angel saja yang menemaniku padahal sudah malam, aku jadi sungkan.
"Kalian pulang saja, tante saya nggak papa kok sendirian. " pintaku yang sedari tadi masih mendiamkan aku.
Apakah mereka sebenarnya sudah tahu tapi pura-pura baik atau tetap baik sama aku?
Aku jadi nggak bingung.
"Iya mama aja yang pulang, Aina biar sama aku" Angel kini menyatakan mamanya pulang.
"Ok, baiklah. Aina tante pulang dulu ya. Besok tante kesini lagi. " tante Mery pamit sambil nyium pipiku.
Kenapa bisa aku berbohong sama orang sebaik ini?
Setelah tante Mery pergi kini tinggal aku dan Angel di ruangan ini.
"Istirahat aja lo, gue juga capek besok aja kita ngobrol lagi. Banyak banget yang mau gue tanyain. " kata Angel, kemudian dia merebahkan diri di atas sofa.
"Angel makasih ya"
"Iya bego! "
****
Paginya tubuhku sudah mulai bertenaga dan pokoknya lebih sehat dari kemarin.
Setelah sarapan,
"Gue dapet chat dari Marsel katanya dia nggak bisa membawa Gres ke polisi. Gila kan? lo sakit parah kaya gini dia masih ngelindungi Gres? " Angel menggebu-gebu.
Aku memang nggak terima aku disiksa seperti itu kemarin tapi mungkin itu cuma salah pahamnya Gres aja. Aku juga nggak tega tapi kalau Gres tidak mendapatkan hukuman mungkin dia nggak akan jera.
"Ya sudahlah Angel" aku pasrah aja.
"Lo setuju sama dia? " Angel emosi.
"Gres itu selebritis kalau ada kasus kan kasian di karirnya. " aku berpikir seperti itu.
Angel melototi aku, " gue heran sama lo kenapa baik banget. Tapi baiknya lo itu kadang bodoh.".
"Gue udah tahu tentang lo dan Marsel. Lo bodoh banget menuruti kemauan Marsel, lo dapat berapa disewa sama dia? "
Aku tercengang, benarkan Angel sudah tahu.
Wajah Angel sudah tidak emosi. Dia duduk di tempat tidur juga depanku.
"Padahal gue udah seneng banget lo bakalan jadi kakak gue. Tapi ternyata itu bohongan, gue emang dari awal udah curiga banget sama sikap kalian yang agak kaku tapi gue tepis. Karena gue seneng lo jadi saudara gue. " Angel menggenggam tanganku.
"Walau gue nggak jadi sama Marsel gue tetap jadi saudara lo kok, jadi sahabat lo. Iya kan? " Aku memeluk Angel. Tidak sengaja air mataku menetes.
Kami berpelukan sesaat.
Angel juga menitikan air mata.
"Lo tahu nggak kemarin gue kebingungan takut terjadi apa-apa sama lo. " Angel mengusap air matanya.
"Maaf, sekali lagi maafin gue udah bikin lo khawatir. "
Angel mengangguk.
"Lalu apa orang tua lo udah tahu tentang kebohongan gue? " aku bertanya sedikit khawatir.
Angel menggeleng, "Jangan sampai mereka tahu, mereka paling benci dibohongi. Lo tahu sendiri gue kalau ketahuan bohong bakalan berubah jadi miskin kan dulu. "
Seketika aku ingat saat kuliah dulu, Angel sering sekali nggak dapat uang jajan cuma karena bohong entah soal pergi kemana atau yang lainnya.
"Tapi gue nggak enak banget Angel sama mereka"
"Seharusnya lo mikir itu sebelum lo bohong bukan sekarang. Udah deh lo bilang aja kalau kalian udah putus gitu. " Angel ngegas lagi.
"Baiklah"
Lalu kemudian ada yang datang, ternyata Marsel.
Dia tersenyum, tapi Angel langsung memalingkan wajahnya.
"Ngapain lo kesini? " sentak Angel.
"Mau nengokin Aina lah. " jawaba Marsel santai.
Marsel mendekati ku, berdiri di samping tempat tidur.
Angel pindah tempat ke sofa.
"Aina, gimana keadaan kamu? " tanya Marsel terlihat khawatir.
"Sudah sehat mas"
"Syukurlah, aku benar-benar minta maaf ya. Ini semua gara-gara aku. Dan aku mohon juga tolong maafkan Gres ya Ai." Marsel mohon maaf.
"Iya mas, tapi aku sebenarnya nggak terima perlakuan Gres, dia harus minta maaf sendiri mas. "
"Betul, tumben lo pintar Ai" sahut Angel.
"Iya nanti aku akan bawa Gres buat minta maaf sama kamu. Jadi tolong jangan kasus kan masalah ini ya? karena kamu tahu kan Gres publik figur akan sangat panjang urusannya nantinya. " Marsel membujuk ku.
"Kalau soal itu-" aku tidak melanjutkan kalimat ku karena ada yang datang lagi.
Jeno