
Sesudah makan malam kami masuk kamar niatnya cuma mau ngambil tas aku yang ada didalam lalu Jeno mengantarkan aku pulang.
Tiba-tiba diluar hujan deras, memang sejak tadi gerimis.
"Malah hujan Na" Jeno membuka tirai jendela kamarnya.
"Kan pakai mobil" aku mengambil tas yang aku letakkan di meja.
Namun tubuhku dibuat kaku akan kelakuan Jeno. Dia memelukku dari belakang. Pelukannya erat, kepalanya dia taruh di pundakku.
Bahkan dia mengecup nya beberapa kali. Rasa geli sekali waduh, gimana ini. Aku ingin melepaskan diri.
"Sebentar, cuma sebentar. Besok kita sudah berpisah" Jeno menahan ku agar tidak lepas darinya. Suaranya lembut, memohon agar aku setuju.
Beberapa saat kemudian Jeno melonggarkan pelukannya hingga aku bisa lepas. Tapi rasanya aku ingin memeluknya lagi.
Dan aku lakukan, aku peluk dia. Dan menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Aku hirup aroma tubuhnya yang bikin nyaman.
Jeno mengecup puncak kepalaku.
Aku mendongak, memandang wajahnya. Matanya berkaca-kaca, dia seperti tidak mau melepaskan aku.
Kemudian wajah kami bertemu, hanya berjarak beberapa mili saja.
"Boleh cium? " tanya Jeno.
Aku mengangguk.
Lalu dia mencium bibirku dengan lembut tapi menuntut.
Setelah puas, dia mengelus pipiku yang ada bekas lukanya.
"Pasti sakit sekali ya? maaf,maafin gue nggak bisa selalu ada buat lo. " Jeno mengatakan itu dengan lembut dan tulus.
Aku hampir menangis, kayanya mataku sudah berair.
"Jangan menangis, lo harus hidup bahagia selama gue tidak ada disini. " katanya lagi.
Aku melepaskan diri, memberi jarak. "Emang lo mau pergi sejauh apa sih? lo kan masih bisa balik sebulan dua bulan atau tiga bulan sekali. Lo pikir Batam jauh? "
"Iya lo bener,tapi ketika gue tinggal lo pasti menemukan cowok baru. Itu yang gue maksud perpisahan yang sesungguhnya. " katanya bikin aku merengut.
"Emang gue semurah itu? "
"Bukan itu maksud gue. Kitakan tidak dalam suatu hubungan jadi pasti lo bakalan nemuin Cowok yang pas buat lo jadikan pacar. " penjelasan yang membuatku kesal.
Aku bahkan tidak berniat pacaran dengan yang lain. Entahlah.
"Bisa nggak kita bersama? gue mau kok masuk agama lo" kataku tanpa berpikir panjang.
"Agama gue yang nggak nge bolehin lo masuk kalau cuma gara-gara gue." Jeno mengajak aku duduk di atas tempat tidur.
"Bisa, bisa banget malahan. Asal keinginan itu berasal dari diri lo sendiri. Bukan karena gue, tapi karena emang lo percaya sama Allah. " Jeno mode alim. " Sudah lah, gue nggak bisa ngasih lo tausiah. Lo tahu sendiri kelakuan gue bejat, nggak mencerminkan gue muslim. "
Iya sih. Tapi entah kenapa dalam hatiku ingin menerobos dinding tinggi ini.
Jeno mengecup bibirku lagi.
"Gue aja suka kaya gini," cup sekali lagi dia kecup. " jadi gue nggak pantas lo jadikan alasan buat pindah agama. "
Jeno membuatku ingin menciumnya, lalu aku lakukan.
"Boleh lihat luka lo yang di paha? apa masih sakit? " katanya setelah ciuman kami yang panas.
Aku dengan mudahnya mengiyakan permintaan Jeno. Padahal ini artinya aku akan membuka celana panjang ku.
Baiklah, aku pasrah lagian aku cinta sama pria ini.
Aku membuka celana ku,baju agak aku turunkan, agar tidak terlihat cd ku.
Jeno melihat luka ku yang menggaris panjang sekitar lima belas senti tepat di paha kiri ku.
Jeno mengelus nya, padahal ini sangat geli. Sudah tidak sakit sama sekali.
"Pasti sakit sekali?maafin gue ya? " Lagi-lagi minta maaf.
Tangannya masih ada di sana bahkan agak naik. Aku pasrah saja.
Lalu dia tidak bisa mengontrol diri, dia mencium bibirku dengan tangannya masih di sana hingga berada di tengah. Bagian sensitif ku.
Jeno merebahkan ku, posisi dia sudah ada di atas ku. Tangannya sudah merayap masuk kedalam bajuku.Tangan yang satunya yang tadinya memegangi kepalaku untuk merebahkan aku. Kini pindah ke lenganku.
Itu dilakukan tanpa melepas ciuman kami.
Hingga tangannya sudah sampai ke dadaku. Dia memegangi nya, aku rasakan sensasi yang sudah aku dapatkan sejak tadi.
Bruk
Dia melepaskan aku, dia seperti sadar dari jeratan setan.
"Maaf, maaf Aina. Gue kebablasan. " Jeno berdiri.
Aku duduk, rasanya aku tidak mau berhenti. Kenapa dia menghentikan permainan ini?
Aku menarik bajunya, "Tidak apa-apa Jeno."
Karena Jeno pria normal, dia langsung menyerang ku lagi.
Tapi tidak berlangsung lama, dia melarikan diri sebelum dimulai. Dia membuatku kecewa tapi lega karena Jeno masih cowok baik yang menghargai cewek.