Aina

Aina
Ep 20



Sebulan sudah setelah Jeno kecelakaan kini dia sudah sembuh, terlihat jelas saat ini dia sudah bisa berlarian main futsal.


Ini acara olahraga antar direktorat pajak dan direktorat bea cukai karena bersebelahan dan dibawah naungan yang sama maka selalu bikin acara bersama.


Jadi aku sedang duduk manis menonton pertandingan futsal bersama teman-teman kerjaku.


"Dari kantor bea cukai ganteng-ganteng ya? " itu celoteh Vio teman kerjaku.


"Itu tuh yang senyum terus ganteng banget" tunjuk Dina yang suka centil.


"Oh yang nomer 14 itu? " kata Vio, secepat kilat aku menoleh kepada mereka yang ada disampingku. Karena yang mereka maksud adalah Jeno.


Ditengah pertandingan saat Jeno mencetak gol dia berlari ke arahku dengan mengedipkan mata sok kegantengan gitu. Tapi sebenarnya meleleh hati ku, dia itu kalau sudah seperti itu para cewek akan klepek-klepek.


"Wao, kedipannya." tuh kan Dina jingkrak-jingkrak nggak jelas.


"Seriusan kita di notif sama dia aa" Vio nggak kalah hebohnya.


Setengah mainan, Jeno mendekatiku.


"Gimana permainan gue? " tentu saja dengan full senyum walau kelihatan capek dan haus.


Aku yang memegang minuman botol otomatis langsung memberikan minumanku pada Jeno yang nampak kehausan.


Dengan senang hati Jeno mengambil dan secepat kilat menghabiskannya.


Vio dan Dina melongo pasti mereka bertanya-tanya.


"Kalau capek berhenti aja" entahlah aku kenapa mengatakan itu.


Jeno cuma tersenyum, mungkin dia melayang karena berasa aku perhatikan.


"Hah jadi lo kenal dia Aina? kok nggak bilang-bilang sih? " tanya Dina dengan kemayu nya.


Tentu saja Jeno langsung menyapa mereka.


"Ini teman gue kuliah" jelasku, yang disambut dengan muka masam Jeno.


"Hai, gue Jeno. Nama kakak-kakak cantik ini siapa? " Jeno nggak kalah genitnya, dia memang seperti itu.


Lalu mereka berkenalan satu persatu, pakai jabat tangan segala lagi.


***


"Aina ya? teman Angel? " tanya pria dewasa berumur 30an itu kepadaku.


Aku seperti pernah melihatnya tapi lupa dimana.


"Saya kakaknya Angel, Marsel. " jelasnya.


Aku seketika ingat,jadi aku pernah melihatnya kalau kerumah Angel.


"Oh, Hai Mas Marsel, maaf saya sedikit lupa. " aku jadi enggak enak, dia bisa ingat aku tapi aku lupa.


"Nggak papa, kamu di perpajakan? " tanya Marsel ramah.


"Iya mas, kalau masnya di bea cukai kah? "


"Iya"


Aku ingat kata Angel kakaknya yang satu ini emang tidak mau mengurus perusahaan papanya dia milih mandiri dengan menjadi PNS. Jadi yang meneruskan kakak tertuanya Martin yang sudah berkeluarga dan Angel dengan keterpaksaannya katanya.


Aku baru tahu kalau Marsel kerja di bea cukai, aku pikir jadi PNS apa gitu.


"Kok nggak ikut main futsal mas? " tanyaku basa-basi padahal sudah jelas dia duduk di kursi penonton disini.


"Nggak,cuma jadi cadangan aja. "


Lalu pertandingan berakhir dan dimenangkan bea cukai.


Tentu saja Jeno gembira.


Aku berdiri, niatnya mau memberi selamat tapi tanpa kuduga ada cewek menghampiri Jeno lebih dulu langsung memeluknya. Saat itu suhu tubuhku naik, seakan ada api didalamnya.


Mata kami sempat bertemu aku yakin Jeno juga menyadari kalau aku melihat adegan itu. Apalagi semua cewek pada heboh karena mereka pikir itu pacar Jeno.


"Wahh Jeno udah punya pacar ternyata. " Vio terdengar kecewa mewakili perasaan semua cewek yang mengagumi Jeno.


Aku sudah biasa melihat adegan Jeno bersama cewek tapi kali ini lebih membuatku kecewa mungkin karena kedekatannya dilakukan didepan publik atau apa aku juga bingung.


"Aina,mau pulang bareng? mau saya antar? " suara Marsel mengejutkan ku,


"Heh, iya mas ayo kalau nggak merepotkan. "


Aku mengikuti Marsel keluar, dan juga dia mengantarku dengan mobilnya sampai kosan.