Aina

Aina
Ep 85 malam perpisahan



Semua sudah berjalan lancar, aku sudah setuju kerja di kafe Jeno dengan menjadi manager kafe. Tugasku mengurusi semuanya yang tidak beres.


"Gue jadi tenang kalau kaya gini. Besok gue udah berangkat, soalnya hari senin gue udah harus kerja di kantor Batam. Sebenarnya gue udah di suruh berangkat hari ini." kata Jeno saat kami sedang berbincang di saat makan siang hari sabtu.


Aku merasa sedih, Jeno dan aku akan jauh lagi. Padahal aku sudah sangat senang dalam minggu-minggu ini bersama Jeno setiap hari.


"Jadi boleh nggak seharian ini kita bersama terus? " entahlah aku rasanya ingin menangis.


Jeno mengangguk. "Sampai besok kita habiskan waktu bersama"


***


Sebelum kafe tutup kami sudah pulang, aku ikut Jeno kerumahnya.


Katanya dia mau paking dan butuh bantuan ku buat paking. Dia paling nggak bisa menata barang dalam tas. Katanya saat pergi dia cuma bawa seadanya dan akan bingung saat tiba disana kalau barang yang dia butuhkan tidak ada.


Masih sore, kami tiba dirumah Jeno. Kami langsung masuk kamar, ya emang barangnya Jeno semua dikamarnya.


"Lo mau bawa apa aja emangnya? "


"Bawa baju lah" jawabnya yang bikin aku geregetan, itu mah udah jelas.


Jeno malah asik main HP nya.


Waduh anak ini, kenapa sih?


Ya sudah mungkin dia sedang berpamitan sama gebetan-gebetannya. Duh, nyebelin.


Aku mengabaikan dia, dan mengabaikan pikiranku itu. Segera aku membuka lemari besarnya.


"Lo mau bawa berapa potong baju, cepatan lo pilih No! "


Aku sedikit berteriak lalu Jeno akhirnya bangkit dan memilih pakaiannya.


Ini seperti emak nyiapin barang anaknya. Bahkan aku juga yang melipat ****** ********. Aku menyiapkan semua keperluannya dari perlengkapan mandi juga.


"Nanti beli aja" dia nggak setuju.


"Lo tiba disana tengah malam terus lo mau beli dimana kalau mau mandi pagi-pagi sekali heh? "


Akhirnya dia menurut apa yang aku saranin buat dibawa dia setuju.


***


Sampai magrib,sudah selesai.


"Habis magrib gue antar pulang" katanya saat dia hendak menunaikan kewajibannya.


Aku keluar kamar,


"Hah mbak Aina? ada disini? " ada Sifa bersama temannya Viola datang dari luar.


"Iya Sifa, Hai apa kabar? "


Kamipun berpelukan.


"Assalamualaikum mbak, kenalin saya Viola. " Viola ini juga memakai jilbab dia manis bahkan tutur katanya lembut sama kaya Sifa.


Sifa menyenggol lengan Viola.


"Waalaikumsalam Viola, aku Aina jangan di dengerin kata Sifa. Mbak ini cuma temannya Jeno kok"


"Ya sudah kami ke atas dulu ya mbak" Sifa segera menarik Viola ke atas.


Samar-samar Sifa mengatakan, " nggak usah pakai assalamualaikum sama mbak Aina. "


Padahal aku juga seneng dapat salam seperti itu. Karena didoakan, tapi ya sudahlah.


Aku hendak masuk kamar tapi ada yang memencet bel pagar. Aku nggak tahu siapa, baru saja aku mau keluar tapi Jeno masih menggunakan sarung sudah berlari dari kamarnya melewati ku keluar rumah.


Sesaat kemudian Jeno membawa dua totebag makanan.


"Makan malam" kata Jeno senyum menunjukkan makanan itu.


"Sifa! gue beli makan turun cepetan lo ambil! " teriak Jeno ke tangga.


"Baru datang mereka mungkin masih bersih-bersih badan"


Aku menerima makanan itu dan aku letakkan dimeja.


Sifa datang dengan kerudung yang talinya tidak di talikan tapi aman.


"Makasih mas" Sifa langsung naik lagi.


Kami lalu makan, Jeno sudah melepas sarungnya tadi.


"Na, kalau lo pindah kesini mau? " tanya Jeno.


Pertanyaan yang aneh.


"Biar lo ngirit juga kan nggak usah ngekos, lo juga bisa pakai mobil gue. Terus rumah gue ada yang ngurusin sekalian kamar gue nggak kosong, gue suka ngeri kalau ninggalin kamar kosong. " penjelasan Jeno yang nggak terpikir oleh ku.


"Masa gue tinggal disini? terus pakai mobil lo jangan aneh deh"


"Memang kenapa? toh gue habis ini gue nggak tinggal disini. Mobil juga nganggur." Jeno ngotot.


"Enggak ah entar ada yang mikir macam-macam lagi. "


"Enggak ada, ini rumah gue. Dan lo lihat kan di atas ada cewek-cewek nah enak kan lo punya teman disini."


Aku berpikir, emang sih Jeno nggak disini. Rumah ini juga isinya bakalan cewek semua.


"Lo pikirin dulu, kapanpun lo bisa pindah dan ini kunci rumah, garansi dan mobil gue titipkan ke elo. Kalau kata sandi kamar lo udah ngerti sendiri tanpa gue kasih tahu. " Jeno memberiku tiga kunci.


"Jeno, gue nggak bisa nerima ini"


"Udah bawa aja, kali aja lo berubah pikiran. Kalaupun tidak, anggep gue titip kunci. " Jeno menyebalkan bikin aku nggak enak ini.