Aina

Aina
Ep 102 Jeno



2 Tahun kemudian


Akhirnya gue dipindah tugaskan lagi di Jakarta tempat ternyaman buat gue. Entahlah padahal gue nggak lahir disini dan juga nggak menghabiskan masa kecil disini tapi menghabiskan masa remaja gue disini.


Sampai di rumah, keadaan sepi.


Karena Sifa dan Viola sudah pindah, Sifa kembali ke Solo dan Viola kembali ke rumahnya yang ada di Bandung. Mereka sudah lulus beberapa bulan lalu.


Namun rumahku di urus oleh Aina. Yah dia tidak tinggal secara permanen disini sih, dia bolak-balik Jakarta Malang karena kami buka kafe juga di sana bahkan dia berhasil buka cabang juga di sini tapi berkonsep kafe and resto. Aina wanita yang sangat cerdas, dia memilih berhenti dari perusahaan dan bergabung sepenuhnya denganku dalam bisnis ini. Dia bahkan yang mengembangkannya. Dia kursus masak juga biar bisa bikin menu sendiri.


Dia membuka cabang di Malang dengan mengubah rumah bulek nya menjadi kafe.


Jadi katanya rumah peninggalan bapaknya ditukar oleh bulek nya. Dia ditukar sebuah perumahan yang untungnya berada ditengah kota. Jadi Aina bisa memanfaatkan rumah itu dengan baik. Dia memang mengagumkan.


Kalau tidak terhalang tembok yang tinggi sudah gue nikahin dari dulu cewek cantik itu.


""""


Aku masuk kamar atas yang biasanya dipakai Aina sekarang setelah Sifa pulang kampung. Dia bilang biar punya privasi tidak campur sama barang gue dibawah. Padahal selama ini gue nggak masalah dia mau menempati kamar gue. Dulu kalau gue pulang dia biasanya tidur bersama Sifa.


Lalu yang bikin gue penasaran Aina jadi lebih tertutup. Kalau gue pulang dia bahkan tidak mau gue sentuh. Apalagi gue cium dia selalu nolak. Yah gue sih nggak masalah lagian emang kita nggak pacaran juga sih.


Gue masuk kamarnya yang tidak dikunci.


Dan nuansa cewek terlihat sangat melekat,aroma Aina yang bikin gue candu dan harus gue tahan tercium walau samar.


Gue nggak pernah masuk kamar ini selama ini sejak ditempati Sifa. Karena gue menjaga batasan juga.


Lalu ada benda yang bikin gue tercengang di atas meja rias Aina. Ada lipatan kain berwarna pink soft dan sajadah di sana.


Lalu ada juga alquran warna pink juga yang ada didekatnya.


Gue sudah deg-degan nggak jelas dan berpikir sangat senang sekali. Gue rasa Aina menjadi mualaf. Tapi setelah gue ingat itu alquran yang selalu dibawa Sifa. Hah jadi ini mungkin punya Sifa yang tertinggal.


"Ehm, " ada suara deheman. Itu suara Aina. Gue pikir dia ada di malang kok dia disini.


"Ngapain lo masuk sini? "


Gue menoleh, benar Aina yang datang.


"Hah, gue kira lo di Malang"


"Nanti gue ke sananya, gue kira lo datang besok." jawabnya.


Dia nggak masuk kamarnya masih berdiri diambang pintu.


Gue merentangkan tangan tanda pingin dia peluk. Dan tersenyum padanya ngasih dia kode.


"Apaan lo senyum-senyum nggak jelas" lalu dia malah meninggalkan gue sendiri ke bawah.


Gue menyusulnya.


Aina ternyata berada di dapur. Katanya hendak memasak.


Wah, gue suka, jad bisa memeluk dia dari belakang.


Tapi ketika hendak melakukannya dia mengacungkan sesuatu yang dia pegang untuk memotong sayur. Dan menghindari gue.


Gue sedikit kecewa, karena tidak bisa menyentuh Aina. Wanita yang gue cintai tapi tidak bisa gue miliki. Kini ditambah lagi tidak bisa gue sentuh juga.


Apa dia sedang menjalin hubungan dengan pria lain ya jadi dia menjaga jarak sama gue buat menghargai pacarnya.


"Sedang pacaran lo ya sekarang? sama siapa kali ini?"


Aina berhenti memotong lalu melihat gue.


"Tidak,kenapa berpikir begitu? " tanyanya lalu lanjut masak.


"Ya habis lo nggak mau gue sentuh, sudah lama loh mungkin sudah tiga kali gue pulang tapi lo nggak mau gue sentuh. Waktu itu sih gue nggak masalah karena gue pulang cuma bentar dan cuma ngurus kerjaan. Nah sekarang waktu gue banyak gue beneran kangen berat sama elo Aina. Apa gue bikin salah? masa gue nggak boleh nyentuh wanita yang gue sayang? gue nggak tahan lagi. "


Aina tetap melakukan aktifitasnya. Ya Allah gue dicuekin sama wanita ini. Padahal gue kangen banget pingin gue cium bibirnya dan peluk tubuhnya.


Lalu gue nggak tahan, merengkuh bahunya dengan paksa dan mendorong dia ke depan kulkas. Dia nampak tercengang dan menolak. Tapi gue nggak peduli. Gue cium bibirnya tapi dia meronta-ronta agar bisa meloloskan diri dari cengkraman gue.


"Stop Jeno! " Aina meninggikan suaranya tapi bergetar seperti ketakutan.


Gue seperti kerasukan setan. Gue berhenti sebelum Aina kesakitan dan benci sama gue.