Aina

Aina
Ep. 107



Paginya gue bangun tadi habis subuh gue tidur lagi. Malas buat olah raga.


Gue lihat di meja makan sudah tersaji sarapan. Siapa lagi kalau bukan kerjaan Aina.


Dan ada selembar kertas dibawah gelas jus jeruk.


Gue baca, ternyata Aina sudah pergi.


Buru-buru gue naik ke atas dan masuk kamarnya ternyata dia benar sudah pergi.


'Maaf Jeno, tadi malam gue emosional. Karena harus menahan rasa ini juga. Tapi gue tahu batasannya sekarang, jadi tolong hormati batasan kita. '


Itu tulisan Aina.


Lalu gue telpon dia.


"Dimana? "


"Di stasiun, udah mau berangkat. Udah bangun? "


"Kenapa nggak bangunin gue? "


"Nggak papa, gue pergi ya. Nanti motor gue diambil sama Jamal. "


"Aina, gue tetap bisa kan nemuin lo"


"Ya iyalah kita bisa tetap ketemu, kan kita rekan kerja. Ya udah ya, gue berangkat nih"


"Baiklah, Hati-hati"


Kemudian setelah panggilan berakhir, dada ini sesak sekali. Rasanya kaya putus cinta, patah hati gue.


Gue emang brengsek, banget malahan. Gue udah ngelepasin dia dari dulu tapi hati gue masih penuh dengan dia. Kadang gue egois, nggak ngerti perasaan dia gimana. Mungkin ini adalah endingnya, kita akan selamanya hanya rekan kerja. Pokoknya kita dari dulu cuma teman. Tidak bisa lebih dari itu.


***


Besoknya,


Berhubung 2 hari ini kafe libur, gue pulang kerja ketemuan sama Daniel yang sekarang sudah mempunyai istri.


Kita janjian di club biasanya kita nongkrong.


"Kok lo ngajak Angel? " yah istrinya itu si Angel.


Mereka balikan dengan cara dijodohkan kedua orang tuanya. Aneh emang, padahal Angel sudah menolak, tapi karena terpaksa demi orang tuanya akhirnya menerima pernikahannya. Namun sepertinya mereka sudah saling mencintai lagi kayanya.


"Emang gak boleh gue gabung?" Angel sinis.


"Kapan lo balik? " Daniel tanya


"Sejak hari sabtu"


"Kenapa? " tanya Daniel lagi.


"Gue tahu, karena Aina sudah meninggalkan jakarta untuk selama-lamanya iya kan?.Dia memutus kan untuk menetap di Malang sayang " yang jawab Angel.


Ya jelas Angel tahu semuanya diakan sahabatnya.


"Cengeng, tinggal samperin dia ke Malang kan beres. " Daniel nambahin.


"Iya sih, sudah lah gue nggak mau bahas dia sama kalian"


"Lo tinggal nikahin dia kan kelar. Jangan-jangan lo juga berprinsip nggak mau nikah? heh? " Daniel ngomongnya enteng bener.


"Ngomong mah enak"


"Kasian Aina, harus stok di cowok kaya lo gini. Pacaran nggak mau nikah nggak mau. Mau lo apa sih Jeno? " Kini Angel yang bikin gue tambah emosi.


Gue tinggalin mereka, percuma ngobrol sama mereka berdua malah bikin gue setres.


Kalau gue dan Aina tidak beda, udah gue nikahin dia dari dulu saat dia udah suka sama gue. Masalah kita tetap sama, dan nggak bisa diselesaikan. Kalaupun gue nekat nikah beda agama Aina mungkin mau, tapi keluarga gue melarangnya. Sudah cukup nenek gue jantungan karena ulah eomma. Yah walau akhirnya appa ikut kepercayaan eomma. Tapi keluarga appa yang sampai saat ini sakit hati.


Gue jadi ingat, pas cuti akhir tahun gue ke Korea. Padahal di sana musim dingin, musim yang nggak gue suka. Gue nurut sama eomma karena ada peringatan kematian nenek gue yang ngerawat gue dari bayi dulu.


Di keluarga appa gue masih diasingkan, seperti bukan keluarga mereka. Sesak rasanya keluarga sendiri kaya orang asing.


Jadi dari pada banyak pihak yang akan sakit hati, lebih baik gue lupain Aina. Tapi itu cuma teori doang, prakteknya sulit banget.


Dan ada temen gue rekan di BC, katanya gue disuruh cari yang lain. Pernah juga ditawarin temen gue di Korea buat kencan buta di sana, tapi semuanya gagal. Gue malah merasa nggak bersemangat. Padahal gue suka loh mainin perasaan cewek. Kaya ngegombalin mereka, ngerayu, bikin malu-malu gitu, dan bahkan sampai gue sentuhpun mereka rela. Tapi sejak sadar gue suka Aina, gue nggak bisa lagi kaya gitu.