
Paginya aku sudah sampai Jakarta langsung dijemput oleh Angel. Aku dibawa ke rumahnya, padahal aku sudah menolak tapi Angel memaksaku.
Begitu sampai kami duduk diruang tamu, aku menceritakan secara detail ke sahabatku itu.
"Bukan lo kan yang ember ke bapak gue? " aku nggak sungguh-sungguh menanyakan itu.
"Gue embernya cuma ke Jeno waktu itu, nah kalau Marsel dia nggak sengaja denger waktu gue bilang ke Jeno. "
"Berarti tersangkanya kalau nggak Jeno ya Marsel. " imbuhnya.
"Marsel nggak kenal bapak dan nggak tahu kampung gue" aku semakin yakin ini Jeno.
"Jeno? " tanya Angel terdengar tidak percaya. " kayanya nggak deh Ai, dia kan cinta sama lo gimana bisa dia mau bikin lo sengsara gini. "
"Mungkin dia bilangnya nggak sengaja atau gue nggak tahu pokoknya dia yang pernah ketemu bapak tanpa sepengetahuan gue. "
Lalu aku juga menceritakan bagaimana aku mudik dan lebaran di kampung nya Jeno.
Namun rasanya aku sangat lelah dan merasa pusing.
"Gue pusing nih, boleh gue istirahat di kamar lo? " aku sudah nggak kuat kalau tiduran disofa ini malah tidak sopan nantinya.
Saat aku berdiri rasanya semua pandangan sedikit memudar aku sempat melihat orang masuk kedalam rumah sepertinya itu Marsel tapi entahlah semua jadi gelap.
***
Aku seperti baru bangun tidur yang sangat panjang, ketika aku buka mata yang aku lihat aku sudah berada di kamar Angel.
Terlihat yang punya kamar duduk disampingku.
"Aina? sudah sadar? " Angel memanggilku.
"Apa gue pingsan? "
"Hemm, gue khawatir banget lo pingsan lama banget ini udah sampai sore lo baru sadar. " Angel terlihat sangat cemas memang.
Aku berusaha bangun, dan aku lihat ada jarum infus menancap ditanganku.
"Tadi gue panik jadi Marsel memanggil dokter katanya lo cuma kecapekan dan butuh istirahat. Dan untung tadi ada Marsel datang bantuan angkatan lo ke kamar juga."
"Makasih Angel"
"Sama-sama, bentar gue ambilin makan ya. Lo belum makan kan? " Angel berdiri lalu pergi.
Ketika Angel pergi ada orang masuk ternyata itu adalah Marsel.
"Sudah bangun? " tanyanya lalu duduk didepanku.
"Iya mas, makasih ya tadi udah nolongin aku."
"Jangan stress, kamu ada masalah ya sampai nggak makan? " Marsel menanyakan itu.
Aku menggeleng, "Mungkin cuma capek aja. "
"Apa gara-gara kamu nggak lolos pns?"
Aku menggeleng.
"Saya akan bantu cari pekerjaan kalau ada lowongan masuk ke Bc nanti saya kabarin juga. "
"Iya mas makasih tapi selain di Bc ya, aku nggak mau. hehehe" aku nyengir.
Angel datang dengan seseorang ibu-ibu mungkin Art dirumah ini yang membawa nampan.
"Sejak kapan kalian dekat? " Angel sepertinya curiga dengan interaksi aku dan Marsel.
"Emang nggak boleh " cibir Marsel.
Art itu meletakan nampan didepanku.
"Ya sudah kamu makan ya Ai, mas mau pergi. " Marsel pamit.
Dan Angel melotot. "mas? " mungkin dia heran
Marsel menjulurkan lidah ke Angel lalu pergi.
Art Angel pergi juga.
"Ayo makan Ai, apa mau gue suapin?" Angel mempersilahkan aku makan.
Ada bubur, susu dan salad buah.
"Iya makasih, gue jadi ngerepotin lo dan keluarga lo kaya gini. Gue jadi nggak enak. "
"Ih, kaya sama siapa aja. Udah buruan makan. "
Aku mengecek HP memeriksa ada kabar apa dari bulek Rina. Tapi yang masuk adalah panggilan tak terjawab 4 kali dari Jeno dan pesan entah apa aku nggak buka. Aku abaikan lalu aku kirim pesan ke bulek langsung dijawab katanya aku tidak usah khawatir bapak tidak apa-apa asal tidak melihatku. 'Jadi hiduplah sesukamu.'
Mungkin bulek juga ikut kesal jadi kalau mereka sudah tidak emosi aku akan menjelaskan lagi nanti.
"Ai, ayo makan! " Angel memaksaku.
Hingga akhirnya aku terpaksa makan.
Hidup tetap harus berjalan jadi aku butuh makan agar aku bisa sehat dan menerima kenyataan. Aku harus tetap bersyukur karena masih ada orang baik contohnya sahabatku ini dan keluarganya.