Aina

Aina
Ep 55



Aku sudah sampai kantor yang sebelumnya aku ke kosan dulu ganti baju dan menggunakan make up tipis ku.


Semua mata karyawan terutama yang cewek melihatku dengan pandangan aneh dan seperti nya mereka berbisik-bisik nggak jelas.


Ada apa ya?


Begitu sampai di ruangan ku mbak Fera juga langsung melihatku aneh.


"Ada apa mbak? " tanyaku sambil meletakkan handbag ku diatas meja.


"Seriusan lo pelakor? " pertanyaan mbak Fera yang membuatku yang jadinya ingin duduk jadi aku hentikan.


Aku menggeleng, "laki siapa yang gue rebut mbak? "


Mbak Fera menunjukkan hpnya. " lo nggak lihat di grub perusahaan? "


Segera aku buka HP, karena sejak semalam kayanya aku nggak buka HP. Dan benar, HP ku mati tadi malam lupa nggak tak isi baterainya.


"Coba pinjem mbak" aku pinjam HP nya mbak Fera.


Yang aku lihat orang-orang pada ngomongin aku paling atas berisi video kejadian kemarin di parkiran kedai juga foto-foto juga. Foto aku dan Marsel kalau dia menjemput ku. Lalu disertai foto Marsel dan Gres.


Aku kaya artis aja ini.


"Nggak bener mbak ini, gue nggak ngerebut pacar dia. Ini itu kakak temen gue gitu jadi sudah kaya kakak aku sendiri. " aku menjelaskan pada mbak Fera.


"Oh, yang gue kira pacar lo itu yang pegawai bc ya? " mbak Fera ingat


Memang dulu mbak Fera juga pernah nanya pas melihatku dengan Marsel.


Lalu datanglah pegawai OB ke ruangan, dia berkata kalau aku disuruh keruangan pak Doni. Aku sudah yakin pasti gara-gara gosip ini.


"Udah sana, semangat jelasin ke pak bos " mbak Fera mendorong ringan bahuku agar segera keluar.


Akunya sudah deg-deg gitu padahal.


Tiba di ruang pak Doni, dia kelihatan sudah menungguku. Duduk di kursi empuk yang bisa diputar-putar itu sambil melipat kedua tangannya. Aura bos nya terpancar.


"Udah denger gosip yang beredar Aina? " tanyanya langsung tanpa menjawab salamku.


"Sudah pak, saya minta maaf kalau bikin heboh. Tapi itu semuanya nggak bener kok pak. " penjelasan ku yang tidak menimbulkan reaksi apapun pada ekspresi pak Doni.


Dia diam, mengamatiku yang sedari tadi berdiri.


"Beneran pria itu bukan pacar kamu?" tanyanya lagi dengan dinginnya.


"Bukan pak, itu kakak teman saya jadi ya gitu dia sudah kaya kakak saya juga. "


"Duduk kamu. " perintahnya.


Sedari tadi kek.


Aku duduk, tapi pak Doni malah berdiri.


"Gres nggak jadi bikin konten sama kita, dia kecewa karena kamu. Kita juga dirugikan dengan hal ini. Jadi kamu harus bertanggung jawab soal masalah ini. " tutur pak Doni sambil sesekali berkacak pinggang.


Aku merasa bersalah juga. "saya minta maaf Pak, saya juga nggak tahu kalau Gres cuma ingin mengerjai saya sampai melibatkan perusahaan padahal ini masalah pribadi. Mungkin kalau bapak ingin memecat saya, itu saya akan menerimanya pak"


Tanpa berpikir panjang aku malah ngomong itu.


"Siapa juga yang mau mecat kamu?" kini pak Doni duduk.


"Lalu apa yang bisa saya buat untuk menyelesaikan masalah ini pak? "


"Ya kamu cari model lain atau artis gitu buat konten lagi. Dan minta maaf sama tim marketing juga. Terus masalah gosip kamu atasi sendiri saja bagaimana. " pak Doni cukup bijak dalam memberi keputusan, dia memang terlihat marah tapi masih memberi solusi yang baik.


"Baik pak, Terima kasih pak anda sangat baik banget"


"Kalau mecat kamu masalah kelar ya saya pecat kamu Ai,udah balik sana kerja! "suara sekarang sudah tidak dingin lagi


Seketika aku sedikit lega.


"Baik pak maaf sekali lagi. " aku berdiri lalu keluar ruangan setelah pak Doni mengijinkan aku keluar.