
Aku sadarkan diri sudah berada didalam kamar mandi sebuah hotel. Aku di gedor pintunya dan berteriak minta tolong.
Ada yang membuka, ternyata Gres. Dia langsung mendorongku hingga badanku membentur wastafel. Lalu dia menarik rambutku.
Aku berusaha melepaskan diri, tapi kemudian aku ditampar berulang kali.
"Lo cuma cewek murahan beraninya lo bersanding dengan Marsel".teriaknya
Lalu kepalaku dibenturkan ke kaca hingga pecah.
Setelah itu datang seorang pria tadi, mengikat tangan dan kakiku.
Sakit, perih juga merasa nggak adil. Ini aku nggak salah kenapa aku mendapatkan perlakuan kaya gini.
Aku terus saja berteriak minta tolong, hingga mulutku dilakban. Tidak hanya itu aku diceburkan kedalam bak mandi oleh pria itu.
Pria itu kemudian meninggalkan kamar mandi ini. Dia pergi, tinggal aku yang tak berdaya bersama Gres yang gila ini.
Dia bahkan membawa pisau runcing kecil.
"Padahal lo itu bukan siapa-siapa tapi bisa ngalahin seorang Gres, apa lo tidak pernah ngaca? yah kalau wajah lo gue bikin tidak cantik pasti Marsel nggak bakalan mau sama lo" Gres menyayat pipi gue, rasanya perih gue hanya bisa nangis.
Lalu dia turunkan pisau itu ke leher tapi tidak sampai mengenai.
"Kalau gue bunuh lo pasti Marsel bakalan sama gue"
Lalu dia menarik lakban yang nempel di mulutku.
"Nona ku mohon lepaskan aku, aku nggak bakalan sama Marsel lagi. Lagi pula kami cuma bohongan, jadi lepasin aku ya? " aku memohon pada Gres.
Air bak mandi ia isi malahan.
"Tapi Marsel suka beneran sama lo! " teriaknya.
Dia mengarah kan pisau itu ke paha ku yang terekspos karena dress ku ini cuma selutut, sedangkan aku berada didalam bak mandi yang pas badanku.
"Lo pasti udah ngasih ************ lo pada Marsel, gimana kalau gue tusuk juga dengan pisau ini? " Kata-kata nya bikin aku merinding ketakutan.
Aku menggeleng, "tidak nona, aku nggak pernah memberikan sedikitpun tubuhku pada Marsel. Dia nggak pernah menyentuhku nona, kami hanya pura-pura. Saya mohon jangan, anda hanya salah paham. "
Gres tetap mendapatkan pisau itu ke paha ku.
Tapi untungnya tidak sampai ke bagian dalam.
"Gue nggak percaya, karena gue tahu lo murahan! " Gres bilang gitu sambil menenggelamkan aku ke air.
Air sudah mulai penuh hingga aku gelagapan didalamnya.
Lalu aku ditinggalkan Gres saat melemas dan hilang kesadaran didalam air.
Aku mendengar adzan berkumandang samar-samar ditelinga ku. Ini membuat aku bangun, aku rasa ini sudah subuh. Lalu aku tidak melihat Gres, mungkin dia tidur.
Aku berusaha bangkit tapi tidak bisa karena tangan ku diikat kebelakang dan kakiku juga diikat.
Badanku mulai kedinginan, airnya sudah berubah sedikit merah karena luka ku tadi. Rasanya perih dan sakit banget.
Airnya sudah tidak mengalir, tapi aku nggak bisa bangun dari sini.
Badanku mulai menggigil.
Gres datang,
"Gue mau mandi, jangan intip gue. "dia mandi di pancuran air.
" Nona saya mohon lepaskan saya, saya janji nggak bakalan deket Marsel lagi. "
Gres tidak menghiraukan. Setelah mandi dia malah mengambil pisau tadi, dia arahkan ke wajahku.
"Lo jangan berisik! atau gue bunuh lo sekarang juga! " ancam nya.
Dia membiarkan aku terendam air seharian ini.
Aku hanya bisa berdoa agar ada seseorang yang menolongku.
Menjelang sore, aku sudah tidak kuat lagi tubuhku kaki dan nggak bisa digerakkan. Dingin sekali, lemas dan sakit sekali.
Aku dikagetkan dengan gedoran pintu. Aku berusaha untuk bilang tolong aja nggak bisa. Mulutku sudah ngilu,tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
Hingga beberapa saat ada seseorang yang mendekat.
"Aina" aku mendengar dia berteriak, dan suara itu suaranya Jeno.
Aku lega sekali, karena Jeno berhasil menemukan ku.
Dia datang bersama beberapa orang menyelamatkan diriku.
Jeno dengan cepat memberikan pertolongan pertama padaku, memberiku kehangatan dengan membungkus ku dengan bajunya lalu aku di gendongnya dan diselimuti olehnya.
Aku tahu itu karena sebenarnya sadar tapi lemas nggak kuat buat membuka lebar mata ini.
Diperjalanan aku mengalami sesak nafas entahlah. Jeno dengan sigap memberiku nafas buatan.
Aku beruntung sekali bisa mengenal Jeno. Dia bagai malaikat penolong bagiku.
Setelah sampai di rumah sakit, aku mendapatkan perawatan. Tubuhku sudah bisa digerakkan dan bisa pulih lagi.
Terimakasih Jeno.