
Kami menghabiskan hari ini dengan berjalan-jalan ke mall. Karena nggak ada tempat tujuan yang menarik juga. Yah cuma makan, muter-muter nyari perlengkapan gue yang diperlukan terus lihat-lihat, nggak jelas. Lalu kami nonton film juga, anjay kalau kali ini baru pertama kali buat kita.
Saat gue kembali dari toilet setelah nonton, gue mendapati muka aneh di wajah Aina. Dia cemberut nggak jelas.
"No, kenapa lo posting foto gue!? " dia kelihatan kesal.
Yah Aina baru aja buka HP setelah seharian ini sama gue. Dia emang beda, selama jalan sama gue dia menghormati banget gue. Tapi gue nya yang enggak, gue masih sempet balesin chat temen-temen gue, atau bales dm cewek-cewek dan bikin story juga pas lagi jalan.
Gue cuma diam, jadi Aina nggak suka kalau gue posting foto dia?
"Sorry, itu semalam pas gue nggak bisa tidur jadi gabut gitu. " gue coba jelasin dengan ragu takut dia marah.
Dia nggak ngomong apapun lagi, dia cuma jalan ke parkiran mendahului gue. Padahal rencananya kita mau makan dulu.
Tiba di depan mobil gue,begitu mobil gue buka kuncinya dia langsung masuk. Gue juga masuk di kursi kemudi.
Aina nampak dingin, gue jadi takut.
"Lo lihat banyak banget komentarnya Jeno? lo nggak bisa gitu dong asal ngepos foto gue tanpa ijin. Banyak banget asumsi dan pendapat. Hah, malah pengikut lo banyak banget lagi." Aina baru bicara sambil melihat layar HP nya.
Jadi tadi dia butuh tempat yang pas buat meluapkan amarahnya. Kok bisa ya marah pindah tempatnya? kenapa nggak ngomelin gue tadi di sana didepan bioskop?
Ya Allah, kenapa cewek ini baik banget ya.
"Maaf, lagian muka lo nggak kelihatan juga." gue masih cari pembelaan diri.
"Terus apa ini heh? " dia ngasih tunjuk story gue sejam yang lalu pas di bioskop dan tanpa sengaja Aina terekam walau cuma beberapa detik.
"Ya udah lah Na, lagian lo malu banget ya jalan sama gue? "
"Bukan gitu Jeno, kita nggak sedang menjalani suatu hubungan jadi postingan lo ini menunjukkan seolah kita ini-"
"Pacaran maksud lo? " gue tahu maksudnya.
Aina diam.
Jadi dia marah karena dia bukan pacar gue, tapi gue post seolah dia pacar gue.
Sebenarnya gue bisa aja jadikan dia pacar tapi tadi eomma sudah mewanti-wanti gue, mengingatkan gue kalau dengan Aina tidak ada ujungnya.
Aina meneteskan air mata. Dia malah nangis lagi, waduh.
"Emang lo pikir gue juga cinta sama lo heh? " katanya sambil sesenggukan.
Gue mengangguk, "Tanpa lo bilang gue bisa merasakan ketulusan lo. Sekali lagi maafin gue Aina. "
Pipi yang basah akan air mata itu gue usap. Sesak rasanya sudah bikin dia nangis apalagi ketika mengusap pipi yang ada lukanya itu.
"Jeno,jangan pernah lo bikin cewek baper lagi cukup gue yang terakhir. Lo nggak tahu akibat apa yang akan lo peroleh akan perbuatan lo." Aina sudah lebih tenang.
Gue memang selalu bikin baper cewek bikin mereka jatuh cinta sama gue tapi gue nggak membalas cinta nya. Sering gue bikin kecewa para cewek, gue emang merasa puas aja berulah seperti itu.
Namun, disaat Aina yang mengalami rasanya sangat sakit sekali. Gue juga merasakan patah hati itu.
"Na, maafin gue. Lo bisa dapat laki-laki yang lebih baik dari gue. Lo perempuan baik, baik banget malah. Jadi lupain gue, gue juga akan melupakan elo. "
Aina melotot.
Waduh serem amat ini cewek.
"Pesawat lo jam 7 kan? ini masih jam 4,masih ada waktu ayo makan dulu baru gue antar ke bandara. " Tiba-tiba dia mengalihkan topik.
Seolah tadi tidak terjadi apapun, wajahnya juga sudah kembali ceria.
Gue kok jadi bingung ya?
Ya udah, gue nurut.
Habis makan kita balik ke rumah gue,buat ambil barang dan pamit sama Sifa.
Magrib gue udah di bandara, gue magrib di sana.
Aina masih saja menunggu gue hingga selesai.
"Gue nggak akan mungkin bisa melupakan elo Jeno, jaga hati lo sampai kita bertemu kembali. " itu kata terakhir yang Aina ucap sebelum dia merampas kunci mobil gue dan pergi.
Padahal gue belum berangkat tapi dia yang pergi duluan. Seolah dia yang pergi meninggalkan gue.