Aina

Aina
Ep 30



Kami ternyata sudah tiba didaerah Solo, aku terbangun ternyata tadi aku ketiduran hah mungkin efek kekenyangan tadi. Tapi jalanan sangat padat, dipadati rata-rata kendaraan pribadi. Padahal ini sudah sekitar jam 9.30 malam tapi masih ramai.


"No, udah nyampai Solo ya? gue diturunin terminalnya saja habis itu gue naik bus ke Malangnya. " saran gue dengan nada khas bangun tidur.


"Udah bangun? " Jeno malah bertanya, " lap dulu tu iler" dia cekikikan nggak jelas.


Aku otomatis melihat kekaca spion, tidak ada iler masih bersih. Dasar menyebalkan.


"Gue nggak ileran ya"


"Ya tadi udah gue lap" masih terkekeh.


Aku jadi mikir, masa iya tadi aku ileran.


"Nggak mungkin"


"Mungkin aja, dari pada jog mobil gue yang baru ini kena iler lo mending gue usap tadi. " nadanya masih bercanda.


Aku mengusap-usap bibirku, tidak ada tanda-tanda aku habis ngiler padahal.


"Gue ngusap nya juga pakai bibir lo Na" Jeno dengan nada serius, lalu seketika aku pukul lengannya.


"Lo gila? "


"Nggak lah, kan gue ngambil kesempatan. " dengan cekikikan lagi.


"Nggak pantes sama pakaian lo kalau kelakuan lo mesum kaya gitu Anj-" aku nggak jadi melanjutkan kata terakhir karena jari Jeno menempel di bibirku.


"Lo percaya gue kaya gitu? "


"Percaya lah, orang lo pernah tiba-tiba nyium gue saat lo mabok."


Dia tertawa nggak jelas, bahkan terdengar keras.


"Masih ingat? mau diulang lagi? " bisiknya tiba-tiba.


Dia kenapa sih? bikin aku jadi salah tingkah gini.


"Ini mobil baru lo ya No? " aku mengalihkan pembahasan, benar-benar kesalahan mudik berdua dengan Jeno. Seharian ini berdua dengannya sangat tidak baik untuk kesehatan jantungku.


"Hadiah dari orang tua gue karena lolos seleksi, gimana bagus kan? " jelasnya yang bikin aku sedikit iri.


"Bagus tapi egois, karena cuma muat dua orang aja"


"Ya ngapain ramai-ramai? gue sukanya berdua sama kamu" goda Jeno lagi.


"Terserah, gue turun di terminal aja ya" aku mengingatkan dia lagi.


"Ini udah malam Aina, gimana kalau lo nginep dulu ditempat gue terus besok pagi gue anterin ke Malang. Lagian gue udah capek ngantuk juga. "


"Gue turun terminal aja, lo nggak usah nganterin gue ke Malang"


Jeno tidak berkata lagi.


Jalanan sudah terlihat agak sepi, karena Jeno sepertinya keluar jalan besar. Dan benar dia membelokkan mobilnya di sebuah pelataran halaman yang cukup luas.


"Ini dimana? "


"Rumah nenek gue". gila


"Terus gue ke terminal naik apa? "


"Terminal terus dari tadi, udah deh ayo kita turun. Besok ya sayang gue anterin lo ya? kita istirahat dulu disini. ok? " Jeno membujuk ku. "Ini sudah malam jadi nggak baik buat cewek. "


"Jangan gila deh lo, masa gue mampir ditempat nenek lo? "


"Emang kenapa? embah gue orangnya baik kok"


"Jeno ihhhh" aku merengek.


"Udah ayo! " Jeno hendak keluar tapi aku tahan lengannya.


"Lo lihat gue dong, gue cuma pakai hotpant begok! nggak sopan banget kalau harus ketemu dengan orang tua apalagi ini hari raya. Pasti semua keluarga lo lagi ngumpul sedangkan gue bukan siapa-siapa nya elo. Duh Jeno, jangan gila lo ya"


Jeno mengehela nafas.


"Makanya kalau pakai baju itu yang bener, lo tahu nggak? seharian ini gue nahan diri gue banget." Jeno terdengar serius, aku jadi nggak enak hati ini.


"Apa lo pakai sarung gue aja? " akhirnya muka serius tadi berubah jadi cengengesan lagi.


"Jeno ihhhh"


"Udah nggak papa, keluarga gue keluarga yang berpikiran terbuka, bukan yang kolot kok. Kecuali nenek" akhir kata dia cekikikan.


Lalu ada bapak-bapak mengetuk kaca pintu mobil.


"Bapak gue tuh, ayo! " Jeno keluar.


Lalu mereka berpelukan dan bercengkrama dengan bahasa korea yang tidak aku mengerti.


Jeno kemudian membuka pintu buatku.


"Ayo sayang, masuk yu? " bujuk Jeno menyebalkan.


Aku dengan muka masam terpaksa turun dari mobil, tapi sebelumnya kardigan ku aku ikat dipinggang agar tidak kelihatan pahaku.


Seketika aku rubah mimik wajahku dengan ceria karena harus menyapa ayahnya Jeno.


"Malam oom"


"Malam, oh yang waktu dirumah sakit itu ya? " ayahnya sepertinya masih ingat aku.


"Iya om, kok masih ingat. "


"Ingat dong kan kamu cantik jadi selalu bisa diingat. " jadi kelakuan Jeno menurun dari ayahnya ternyata.


"Appa, ini calon mantu jangan dirayu" Jeno aku benci kamu.