
Semua kadang tidak sesuai apa yang kita harapkan seperti aku saat ini tidak lolos seleksi pegawai negri. Akhirnya aku sekarang nganggur setelah menjadi karyawan honorer setahun lebih tidak mempengaruhi aku akan masuk seleksi.
Sebenarnya Marsel juga menawari ku dia bisa membuatku lolos seleksi asalkan aku mau jadi pacarnya. Tentu saja jawabku tetap tidak.
"Ayolah Aina saya didesak terus sama orang tua saya buat nikah, bahkan akan dijodohkan kalau nggak segera bawa calon istri." Marsel memelas
"Maaf mas, lebih baik kamu bujuk pacar kamu itu untuk pulang. "
"Dia keras kepala mana bisa aku bujuk dia."
Aku dan Marsel saat ini sedang duduk di halte bus depan kantor, tapi dia tidak malu berjongkok didepan ku walau akunya juga duduk tapi agak giman gitu.
"Mas, berdiri dong malu tuh dilihatin banyak orang. " suara pelan tepat di telinganya.
Marsel melihat sekitar mungkin malu lalu dia berdiri.
Tiba-tiba datang lah Jeno entah muncul dari mana.
"Kalian ngapain? " tanya Jeno
Marsel yang memang kenal dengan Jeno lalu mendekat lebih dekat padanya.
"Bujukin Aina dong dia kan temen lo, biar dia mau jadi pacar gue. " celoteh Marsel yang otomatis membuat Jeno melongo.
"Enak aja, gue yang lima tahun aja ditolak terus." tapi Jeno menanggapi dengan ekspresi bercanda.
Hingga aku yakin Marsel tidak percaya kalau apa yang Jeno katakan adalah yang sebenarnya.
"Na, ayo gue antar pulang gue sekalian mau lewat situ. " ajak Jeno.
Marsel melotot, "Aina pulang sama gue, sana lo ganggu aja! "
Marsel mengusir Jeno.
"Aku pulang sama Jeno aja ya mas jalan," aku segera menarik tangan Jeno pergi sebelum terjadi perdebatan panjang.
Tidak aku sangka kalau tangan kami masih saja bergandengan hingga masuk gang. Rasanya tidak sadar saja aku terus menggenggam tangannya.
Begitu sadar aku melepaskannya.
"Kok dilepas? "
Aku tidak menjawab pertanyaan Jeno.
"Gimana lolos? " tanyanya lagi.
"Enggak, hari ini hari terakhir gue dikerja. Lalu gimana lo lolos? "
Jeno memperlihatkan totebag yang berisi seragam hitam kebanggaan pegawai BC.
Jeno tersenyum sedikit.
"Padahal lo nggak niat jadi PNS eh malah keterima, sedangkan gue yang pingin malah nggak lolos. "
"Masih ada pekerjaan yang baik Aina, gue cuma nerima nasib aja mungkin doa orang tua gue lebih mempan dari pada keinginan gue. "
"Apa mereka PNS juga? "
"Appa kerja di istana kepresidenan sedangkan eomma di kedutaan jadi yah gitu gue di suruh mengikuti jejaknya. Berhubung gue bisanya ngitung jadi masuknya ke Bc deh. " cerita Jeno yang bikin aku iri, kedua orang tuanya hebat.
Kami tetap berjalan menyelusuri jalan yang hanya berukuran dua meteran ini.
"Mau makan siang dulu? itu warung depan buka kok No, walau ditutup korden. " tawar ku saat sampai depan warung ketoprak yang sedikit tertutup korden karena bulan ini bulan puasa bagi umat muslim kayanya.
Jeno terlihat heran memandang ku.
"Ya buat ngerayain keberhasilan lo kecil-kecilan dulu. Entar gedenya lain kali. " aku rasa Jeno heran karena warungnya terlihat kecil.
"Terus ngerayain tidak lolosnya elo gitu? "
"Yah bisa juga" aku menunduk lesu.
"Nanti malam aja, gue puasa. " Jeno mengacak rambutku sambil terkekeh lalu berjalan cepat mendahuluiku.
"Hadeh puasa godain cewek? " yah aku lihat Jeno sudah jarang bersama wanita dia selalu bersamaku.
Aku sudah sampai didepan kos.
"Lebaran mudik apa tetap disini? " tanyanya didepan pagar.
"Rencananya kemarin sih enggak pingin liburan sama Angel ke pulau seribu karena yakin gue bakalan lolos seleksi. Eh ternyata enggak, tapi mungkin kalau gue mudik tiket kereta sudah habis jadi entahlah gue bingung mau ngapain. "
"Ikut gue aja, gue mau mudik entar gue anterin lo ke Malang kan tinggal ngetan sedikit sampai. "
"Ngetan dikit? masih 7-8 jam kali? "
"6 jaman bisa. "
Aku berpikir, apa ide Jeno ini bagus ya soalnya aku juga sekarang nganggur apa aku pulang saja ke Malang nyari kerja di sana. Tapi aku lebih betah disini.
"Malah ngelamun," Jeno mengagetkanku.
"kalau mau bareng gue jemput. Gue berangkatnya pas hari H nya kok soalnya gue harus ngurus administrasi yang sangat banyak. Lagian kalau hari H pasti lebih sepi. " jelas Jeno.
"Emang lo mau bawa mobil siapa? " Jeno kan tidak punya mobil.
"Itu mah gampang, gue balik dulu ya sayang. " kumat deh endingnya.