
Acara sudah selesai, kami pulang bertiga. Aku duduk di samping sopir alias Pak Doni. Sepanjang perjalanan Misel bercerita pengalamannya tadi saat pentas. Tentunya aku menanggapi dengan baik agar anak itu merasa dihargai.
"Tante Aina, bakalan jadi mama aku kan? " pertanyaan polos anak ini bikin aku bingung jawabnya.
"Tidak sayang, tante cuma pegawai papanya Misel. "
Anak itu lalu cemberut. Dia bersandar pada sandaran jog.
"Sayang, jangan ngambek dong. Kan tadi sudah hebat narinya. " bujuk pak Doni.
"Papa pasti belum bilang sama tante Aina. " Misel dengan emosi lucunya.
pak Doni diam.
Aku kok jadi takut ya?
"Kita makan es krim dulu gimana Misel? " pak Doni mengalihkan perhatian.
Misel menyetujuinya.
Lalu kami mampir ke kedai eskrim yang terkenal enak.
Misel dengan antusias memilih menu yang berada di area terpisah dari tempat duduk kami ditemani seorang pegawai di sana.
"Ai, kamu nggak sedang berhubungan dengan siapapun kan?" pertanyaan pak Doni bikin aku menoleh padanya.
"Iya Pak, kenapa emang? "
"Pria yang waktu itu kemana? sudah beberapa bulan tidak datang menjemput kamu? " yang dia maksud pasti Jeno.
"Dia dinas di luar kota"
"Kalian nggak pacaran kan? "
Aku hanya menggeleng, karena memang tidak.
"Jadi saya ada kesempatan dong buat mengisi hati kamu? " perkataan pak Doni bersamaan dengan sering HP ku yang aku letakan diatas meja.
Yang telpon 'Jeno'
Kenapa bisa tepat gini sih?
"Sebentar ya pak saya angkat telpon dulu. " saya mohon ijin.
Ternyata panggilan video. Baiklah, aku dengan ragu menekan tombol hijau.
"Kok lama sih sayang" Jeno langsung bilang gitu.
Pak Doni seketika melotot terkejut.
Aku rasa pak Doni sudah berpikir negatif, tadi aku bilang lagi free tapi ternyata ada yang manggil sayang.
"Emm iya gue lagi mau makan es krim. Gue belum berangkat ke kafe No"
"Sama siapa? "
Aku yakin pak Doni dengar juga,dia pindah kesamping ku. Yang membuat Jeno melihat aku bersama pak Doni.
"Oh sama bos elo? "
"No, nanti gue telpon lagi ya kalau sudah sampai kafe."
Aku mengakhiri panggilan tersebut, tanpa menunggu persetujuan Jeno.
Setelah kembali duduk, pak Doni menatap lekat padaku.
"Bukankah tadi pria yang waktu itu?" tanya Pak Doni.
"Iya"
Lalu kami diam.
"Bagaimana kamu mau ngasih saya kesempatan? "
"Maksud bapak apa yah? " sebenarnya tahu tapi biar jelas aja biar aku nggak usah nebak-nebak gitu.
Belum dijawab sudah muncul Misel.
"Kenapa wajah papa tegang?sudah bilang ke tante Aina? " bocah ini masih kecil tapi sudah tahu ekspresi orang tua.
"Ini sedari tadi sedang ngomong. " jawab papanya.
Misel menatapku sambil duduk di kursi dekatku
"Tante Aina juga suka kan sama papa? " pertanyaannya Misel jelas jawabannya tapi sulit aku katakan.
"Hah, kenapa nanya itu sayang? " tanyaku balik untuk mengalihkan jawaban kalaupun aku jelas bakalan bilang tidak tapi tidak di depan anak kecil juga bilangnya.
"Ya soalnya papa lama, papa suka cerita tentang tante beberapa bulan ini dan tante juga baik cocok jadi mama aku. " anak ini bicaranya kaya orang tua.
"Misel, nanti papa bicara lagi ya sama tante Aina. Jadi jangan desak tante Aina begitu ya" Pak Doni menengahi.
Lalu es krim datang. Misel sangat senang sekali langsung menikmati es krim tersebut.
Aku yang nggak menikmati karena canggung berada disini.
Jadi benar pak Doni menyukaiku, aku harus mengarang kata buat nolak. Tapi aku bingung juga bagaimana.
Setelah selesai makan, Misel ngantuk dalam mobil saat jalan dia tidur. Jadi aku pangku deh.
"Ai, kamu bisa pertimbangkan apa yang Misel bilang tadi benar bahwa saya menyukaimu. Jadi apakah kamu mau jadi mamanya Misel? " pak Doni menyatakan perasaannya saat masih mengemudi.
"Maaf pak, saya em-"
"Seperti yang kamu tahu kalau saya duda satu anak jadi tidak mungkin saya ngajak pacaran. Saya sudah menyukaimu sejak lama jadi saya juga mengamatimu kamu cocok jadi mamanya Misel. " dia bicara lagi memotong kalimat ku.
"Maaf pak saya belum pernah berpikir untuk menikah. "
"Ya santai saja kan tidak harus menikah sekarang Ai"
Aku bingung cara nolaknya.
"Kamu pikirin dulu aja, saya nggak maksa harus dijawab sekarang kok"dia bilang kaya gitu dengan santainya.
Antara takut dan bingung, dia bos ku kalau menyinggung nya akan habis karirku tapi terus gimana dong bilangnya?