
Aina belum juga muncul sudah seperempat jam gue bosan baca komentar satu persatu pengikut gue tanpa gue bales.
Lalu ada telpon dari eomma, tumben betul ini emak gue telpon anaknya.
"Eomma sayang ada apa tumben betul pagi-pagi udah inget anaknya" kata gue ketika tersambung.
"Emang nggak boleh? " emak gue agak sensi deh jadinya.
"Maaf eomma,ada apa? "(dalam bahasa Korea)
"Lagi ngapain?"
"Lagi nungguin Aina"
"Hah? jadi perempuan yang ada di postingan kamu itu Aina? " emak gue agak teriak pakai bahasa Indonesia.
Jadi eomma juga lihat postingan gue semalam? oh iya dia juga pengikut gue yang setia.
"Iya ma, kenapa? "
"Sampai dimana hubungan kamu sama dia? kenapa pakai tidur bareng segala? Jeno kamu mau ngulangin kesalahan kamu lagi? kalau kamu tinggal disini dan terpengaruh budaya sini eomma kayanya agak maklum tapi kamu di sana nak, kenapa kaya gitu sih? eomma tahu kamu sudah dewasa sekarang dan kalaupun akibatnya muncul kamu sudah siap buat nikah kali ini. Tapi ini Aina nak? kalian beda kepercayaan bakalan berat nantinya." emak gue nyerocos nggak ada titik komanya.
"Eomma please dengerin Jeno dulu, jangan ngomong terus. "
"Iya eomma suka sama Aina dia wanita cantik dan baik tapi setelah eomma pikir bakalan berat. Dulu eomma dan appa sudah merasakannya dan eomma nggak mau kamu juga merasakannya. Eomma nggak mau itu juga terjadi sama anakku. " lah eomma nangis segala.
"Eomma jangan nangis dong, dengerin Jeno dulu bisa enggak? "
Gue malah panik denger emak gue tercinta nangis.
"Apa?emang kamu mau bilang apa? mau bilang kalian cuma pacaran gitu heh? " Eomma gue ini galak banget deh.
"Bukan ma, Jeno sama Aina nggak pacaran ma"
"Waduh, malah nggak pacaran terus kalian ngapain tidur bareng? wah pergaulan di sana sudah sama kaya disini ternyata" tambah marah.
"Eomma kita cuma tidur nggak lebih dari itu, percaya sama Jeno. Lagian kalau lebih juga apa sih masalahnya. " di kalimat terakhir gue pelanin biar nggak denger.
"Serius cuma tidur? eomma nggak percaya. " eomma nggak percaya.
"Ya udah terserah eomma aja kalau gitu. "
Lalu diam tidak ada suara.
"Ma, bukannya eomma suka sama Aina waktu ketemu dia?"
"Iya, tapi setelah eomma pikir bakalan berat banget." Eomma sudah mulai tenang.
"Ya sudah jaga diri baik-baik. Kamu nanti jadi berangkat ke Batam? " Eomma sudah tenang dan mengalihkan topik pembicaraan.
"Hem, nanti jam 7 Jeno berangkat. "
"Ya sudah hati-hati nanti di sana. Oh ya gimana kalau cuti akhir tahun kamu kesini nak? " waduh kok ke sana pas musim dingin.
"Kan sudah Jeno bilang kalau Jeno nggak mau kesana pas musim dingin, tubuh Jeno sudah nggak biasa ma. Nanti saja kalau cutinya panjang. "
Aina sudah selesai dan masuk mobil gue. Dia diam saja tahu kalau gue lagi telponan.
"Kamu baru mau kerja sudah mikir cuti panjang? " emak gue suaranya meninggi lagi.
"Ya pas lebaran kan bisa" gue sambil senyumin Aina.
"Baiklah, nanti bicara lagi. Eomma tutup ya eomma sayang Jeno."
"Jeno juga sayang eomma. "gue tutup.
Aina masih menatap gue.
"Eomma lo? " tanya Aina
"Hem, dia pingin gue ke sana." jawab gue.
"Wah, terus lo setuju? " entah kenapa dia berbinar.
Gue menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobil ini.
"Lo mau ikut gue? "
"Enggak lah ngapain? " dia agak malu gitu.
"Oplas pipi lo yang bocel itu. " jawab gue ngeledek.
Dia menyentuh bekas lukanya itu, terlihat sedikit sedih ruat mukanya.
"Apa kelihatan banget ya? "dia kaya khawatir gitu.
" Enggak kok, lagian lo tetep cantik" padahal gue bohong, nampak banget ada garis aneh di pipi dia.
"Bohong, lo ya? " dia sulit di bohongin ternyata.
"Ya udah ikut gue mau? entar gue bayarin deh"
"Enggak! "