Aina

Aina
Ep 83



Sorenya Jeno sudah nunggu aku di kedai mie. Katanya dia kelaparan jadi dia mau makan sambil nungguin aku pulang kerja.


Aku sudah sampai kedai yang tinggal nyebrang aja.


Terlihat Jeno menikmati makanannya.


"Pesan aja Na" katanya sambil makan.


"Udah bosen gue, lo makan aja gue tungguin"


Lalu dari arah pintu datang pak Doni.


Seharian ini dia kerja diluar kantor.


Dia memasang senyum ke arah ku, mendekatiku.


Aku hanya memberi salam dengan sedikit menundukkan kepalaku.


"Belum pulang? " tanyanya saat sudah ada didepanku.


Jeno menghentikan kegiatannya lalu melihat pada pak Doni.


"Belum pak"


"Siapa? " Jeno bertanya, padahal dia sudah tahu kemarin.


"Em, atasan gue. "


"Anda temannya Aina? "sekarang pak Doni bertanya pada Jeno.


Jeno berdiri, dia mengulurkan tangannya. Tanda mau bersalaman dengan pak Doni


"Saya Jeno calon suami Aina pak" Jeno memperkenalkan diri seperti biasanya. Dia nggak pernah ngaku pacar selalu calon suami. Apaan coba?


Aku yakin Jeno bercanda, selalu begitu.


Untuk pacaran dengan Jeno saja aku tidak berani apalagi menikah.


Pak Doni menjabat tangan Jeno, tapi dia tidak terkejut sama sekali dengan kalimat perkenalan Jeno.


"Saya calon ayah dari anak-anaknya" kalimat perkenalan pak Doni jauh dari perkiraan aku.


Apaan coba? dia sudah gila apa?


Lalu keduanya malah tertawa.


Waduh aku yang bingung di sini.


"Sudah saya pastikan kalian memang cuma berteman, ya sudah saya ke dalam dulu. " pak Doni lalu meninggalkan kami.


"Padahal tadi gue serius, dia mungkin mikirnya gue bercanda. Apa dia nggak lihat mata gue penuh dengan elo? " Jeno menggerutu.


"Orang lain aja tahu kalau lo itu cuma main-main dan kita emang cuma teman Jeno"


Entahlah aku malah merasa sakit dengan kalimatku sendiri.


"Teman tapi menikah? " Jeno bercanda.


"Udah deh, ayo cepetan! " aku menghentikan candaan dia yang bakalan berujung sakit hati lagi nantinya.


****


"Jadi ini Aina, dia bakalan jadi manager kafe. Dia yang bakalan tanggung jawab selama gue dinas ke luar kota. " Jeno memperkenalkan aku.


Padahal aku belum setuju kalau aku mau bekerja di sini.


Aku mencubit pinggangnya.


"Waduh, iya sayang entar aja. Kita rapat dulu" bisiknya yang aku yakin walau berbisik tapi semuanya dengar.


"Apaan sih, gue belum setuju " aku membalas bisikannya tepat di telinga agar semuanya tidak mendengar.


"Gue yakin lo setuju" apaan Jeno ini.


Aku malah kesal sendiri, dia seenaknya aja bertindak.


"Dan Aina, lo udah kenal Abi, Bayu dan Tio. Lalu ini Fian dan Raka mereka pegawai part time nyambi kuliah. " Jeno memperkenalkan para pegawainya.


"Hai semuanya, semoga bisa kerja sama dengan baik ya"


"Pacar si bos? " pertanyaan muncul dari Fian.


"Bukan pacar gue itu" yang jawab Bayu


"Bukan pacar gue, si bos mah kalah" kini Abi nggak mau kalah.


Mereka modelnya sama persis kaya Jeno. Pantesan nyambung dan dijadikan karyawan oleh Jeno.


"Sudah ya, ini gue peringatan dulu. Jadi tolong selama gue tinggal satu jangan godain Aina, dua jangan coba-coba suka Aina, tiga jangan coba deketin Aina, kalau enggak gue depak lo" Jeno dengan nada serius tapi sebenarnya bercanda.


"Waduh galak amat, ya habisnya pacarnya malah ditinggalin di sini. " kini Raka yang aku pikir pendiam.


"Berarti itu namanya gue percaya sama kalian jadi jagain dong wanitanya bos kalian" Jeno bikin aku gemes dia sebut aku wanitanya.


"Sudah, sudah ya. Kita jadi rapat apa enggak sih? "


"Jadi mbak Ai, tapi kita harus perjelas dulu status mbak Ai di dalam hati si bos." kalimat Bayu yang bikin dia di keplak lengannya oleh Jeno.


Semuanya tertawa.


"Apa hubungannya sama kerjaan kita woi? " Jeno sedikit berteriak.


Semua diam,


"Ya biar kita enak bos, mbak Aina bisa nggak di panggil bu bos" Raka masih tidak menyerah.


"Sudah, kalian bisa lihat kan kalau kita cuma teman. Emang bos kalian layak dijadikan lebih dari itu? " kini aku ingin menghentikan perdebatan aneh ini.


Semua tertawa.


"Na, kok bilang gitu? " Jeno nggak terima. " pokoknya jangan mau kalau digodain mereka"


"Iya gue tahu mereka semua sama kaya elo" aku tertawa.


Tapi mereka para karyawan seperti tidak terima.


"Kita beda spesies ya mbak sama si bos, jangan sama in dong" Abi yang membela diri.


Aku sangat terhibur, mereka semua lucu dan menggemaskan.