
Malamnya ibu kos ku mengetuk pintu katanya ada orang mencariku, aku heran siapa. Karena biasanya yang datang cuma Angel dan itupun langsung masuk saja ke kamar.
Aku keluar,menuju ruang tamu.
"Jeno? " ya ternyata dia.
Muka Jeno kusut dan kacau, aku juga mencium aroma alkohol menyeruak dari tubuhnya.
"Kenapa tadi pulang sama bang Marsel? kenapa tidak pulang sendiri? " tanyanya dengan intonasi meninggi.
"Lo mabok? " aku malah balik nanya karena pertanyaannya nggak berfaedah, lagian cuma diantar Marsel kakaknya Angel kenapa harus dipermasalahkan.
"Lo tahu nggak Marsel itu kaya apa? dia buaya, lo kenapa bisa jatuh lagi ke tangan buaya? " suara Jeno masih tidak bisa dikontrol.
Aku jadi tidak enak kalau harus membiarkan Jeno seperti ini nanti didengar penghuni yang lainnya. Aku paling malas kalau urusan pribadiku didengar orang lain.
"Jeno, mending lo pulang aja karena lo sedang tidak baik, pergi aja ya! " aku mengusir Jeno secara lembut tapi langsung ke intinya.
Tapi Jeno justru menarikku keluar kos, kami kini berada di pinggir jalan yang sebelah motor Jeno.
"Gue masih sadar sesadar sadarnya walau gue tadi minum, cuma gue mau ngingetin lo untuk tidak dekat dengan bang Marsel. " jelas Jeno masih menggenggam lenganku.
Aku menghentakkan tanganku, karena Jeno mencengkeram nya.
"Jangan berlebihan, gue cuma diantar pulang. Lagian kalau gue deket emang urusan lo apa heh? lo juga selalu dekat dengan cewek manapun." perasaanku mendidih, rasanya gemeteran nggak jelas.
"Aina" kini Jeno sudah agak tenang, mungkin dia sudah sadar kalau tingkahnya ini salah.
"Lo urus cewek lo tadi, jangan urus gue. " entah kenapa aku malah mengingat adegan ketika Jeno berpelukan dengan cewek tadi siang.
Aku hendak masuk, sudah membelakangi Jeno tapi tanganku diraihnya.
"Tadi cuma temen kerja gue. " suaranya lirih.
"Yah semua cewek emang cuma teman lo,gue tahu. Itu juga berlaku untuk gue. " entah bagaimana kenapa aku bilang kaya gitu degan dingin.
Jeno diam,badannya menunduk kakinya memainkan tanah kering yang ada disitu.
"Gue masuk dulu, lo pulang aja. "
Jeno melepaskan tangannya dia mungkin mengira kalau aku menginginkan untuk melepaskan tangannya padahal aku cuma melihat jam tangannya.
Aku menyanggupi, akhirnya kita berjalan beriringan tanpa tujuan.
"Gue nggak pernah mau pacaran karena gue benci itu." Jeno sepertinya ingin curhat.
"Dulu gue pernah jatuh cinta dengan seorang gadis ketika SMA dia gadis manis. Lalu kami pacaran hingga melampaui batas mengakibatkan dia hamil. Gue nggak percaya kalau semudah itu padahal kami cuma melakukan itu sekali dan untuk pertama kali bagi kami. " Jeno mengambil nafas.
"Gue akan bertanggung jawab dan saat itu gue mulai bekerja part time untuk memulai hidup gue karena ada tanggung jawab yang akan gue tanggung. Namun disaat semua keluarga sudah mengetahui bahkan gue sempat masuk rumah sakit akibat pukulan ayahnya, dia mengaku kalau bayi itu bukan bayiku dia berselingkuh dengan pria lain. Gue terpukul hebat, pacaran cuma membuat gue terjerumus dengan masalah besar yang akan merubah hidup gue jadi gue benci pacaran sejak saat itu. " Jeno terlihat merasakan sakit yang dalam.
"Lalu lo sama cewek-cewek itu ngapain? cuma lo tidurin doang nggak lo pacarin? " aku malah ikut emosi.
Jeno menggeleng pasti, "Gue nggak pernah nidurin cewek sejak waktu itu. Gue cuma menyentuh mereka dan menciumnya karena atas keinginan doang. "
"Brengsek, jadi selama ini lo nggak pernah beneran suka sama gue? "aku merasa kecewa.
"Gue sudah pernah bilang awalnya begitu tapi seiring berjalannya waktu gue beneran cinta sama lo Aina, gue berani ceritain ini semua karena gue lihat dan merasakan lo juga udah mulai cinta sama gue. Jadi biar lo tahu sisi buruk gue agar lo tidak menyesal karena telah jatuh cinta sama gue. " Jeno dengan percaya dirinya. Apa benar begitu?
Kami mampir ke sebuah minimarket, Jeno membeli sebotol air minuman dingin langsung ia minum habis. Aku masih memilih mau minum apa untuk menenangkan pikiranku.
Lalu Jeno memilihkan aku minuman coklat dia juga mengambil minuman lemon.
Kami kini duduk di bangku teras minimarket itu, setelah membayarnya.
"Sudah nggak mabok lagi? " tanyaku ketika dia meneguk minuman lemon nya.
"Hem, udah sadar kalau lo beneran cantik. " Jeno menggoda dengan intonasi bercanda, " mau ini? lo pasti suka. "
"Coba aja" Jeno memberiku botol kecil itu, bodohnya aku nurut saja meminumnya.
"Asem" begitulah rasanya.
"Masa sih sini" Jeno membuatku bingung dia merebutnya lagi lalu meminumnya kembali. "Manis kok sisa bibir lo. " terkekeh.
"Gila! "
"Yah"