Aina

Aina
Ep 26



Aku memutuskan untuk mudik saja walau aku tidak merayakan hari raya ini tapi aku juga sedang tidak punya pekerjaan juga. Jadi aku mengemas semua barang ku.


Aku tidak bisa berpamitan dengan Angel yang pergi ke Paris. Jadi seminggu yang lalu saat aku memberi tahunya kalau tidak jadi ke pulau seribu karena aku tidak lolos dia langsung liburan ke Paris dengan mamanya. Sebenarnya aku diajak tapi aku tidak mau, mau pakai uang apa aku aja nganggur utang ku banyak bagaimana bisa aku berlibur ke Paris.


Aku sudah siap didepan kos jam tujuh pagi Jeno katanya mau jemput. Tadi aku juga sudah pamit dengan ibu kos walau masih sisa tiga bulanan kosan ku tapi tidak apalah. Ibu kos juga bilang kalau nanti balik lagi disuruh kesini saja karena masih ada sisa juga.


Sudah lebih jam tujuh, hampir jam setengah delapan tapi Jeno tidak kunjung datang akhirnya aku menelpon dia.


'Iya Na ini udah dijalan kok. Lagian gue juga cari masjid yang deket dari kos lo biar cepet. Itu didepan kantor masjid yang gede itu, ini sudah selesai kok. " jelas Jeno yang bikin aku bingung maksud dari perkataanya.


Sepuluh menit kemudian dijalan agak besar yang bisa muat mobil terlihat mobil hitam mengkilap entah namanya apa pokoknya berbentuk sedan.


Mobil berhenti didepanku pasti ini Jeno, lalu dia pakai mobil siapa?


"Sorry lama soalnya tadi ceramahnya lama banget. " Benar Jeno yang keluar dari mobil itu. Aku kaget dan hampir terkena serangan jantung badanku bahkan bergetar hebat. Jeno menggunakan baju koko putih lengkap dengan topi rajut bukan apa yah namanya aku tidak tahu dan sarung tenun hitam.


Aku shok karena melihat apa yang dikenakan Jeno dan apa yang aku dengar. Jadi pria ini adalah muslim. Bagaimana bisa selama ini aku tidak tahu padahal aku sudah mengenalnya lima tahun lebih dan sering bertemu juga.


"Na, kenapa? " Jeno terlihat bingung karena aku mematung karena ahok berat.


Aku menggeleng.


"Ini yang dibawa? " Jeno mengangkat dua koperku dimasukkan kedalam bagasi mobilnya yang ternyata mobil honda crz keluaran terbaru.


Aku memang tidak banyak bawa barang yang tidak muat aku tinggal.


"Ayo sudah masuk semuanya sayang. " Jeno membuyarkan lamunanku. Aku dari tadi melamun tidak membantu Jeno memasukkan barang karena masih tercengang soal Jeno.


Ketika aku masuk mobil dikursi tergeletak kain seperti karpet lembut berwarna merah tergeletak disana. Aku rasa ini yang digunakan untuk sholat tadi, lalu aku pindahkan ke senderan kursi karena ini mobil model dua kursi saja. Aku duduk diam di kursi penumpang samping Jeno yang mulai mengemudikan mobilnya.


Aku sesekali memperhatikan Jeno yang mengemudi, dia terlihat jauh lebih tampan dengan baju ini. Walau topi tadi sudah di lepas.


"Kenapa Na? dari tadi lo diam aja? " Jeno sadar kalau aku dari tadi diam hingga sudah masuk ke daerah bekasi.


"Enggak papa"


"Masih marah? apa mau sarapan dulu? " tanya Jeno terlihat khawatir.


Aku menggeleng.


"Na, maafin gue ya kalau ada salah sengaja atau tidak sengaja hari ini gue mohon maaf lahir dan batin ya. " Jeno meminta maaf terdengar khas kata-kata lebaran.


"Iya sama-sama. Dan selamat hari raya idul fitri Jeno. " akhirnya aku memendam rasa kaget ku dengan berusaha mencairkan suasana.


"Gitu dong senyum. " Jeno juga tersenyum ketika melihat senyumku.


Kami hendak mampir ke rest area untuk sarapan didaerah perbatasan. Tapi saat aku lihat pakaianku yang bertolak belakang dengan Jeno aku jadi ragu untuk turun. Bayangkan Jeno menggunakan pakaian muslim rapi. Sedangkan aku memakai celana pendek sepaha dan kaos saja, walau aku pakai cardigan tapi tidak bisa menutupi pahaku.


"No, gue nitip aja roti sama susu lo bawa kesini aja ya gue males turun" akhirnya aku beralasan itu.


Jeno maklum dan meninggalkan aku.


Ketika kembali dia sudah melepas koko dan sarungnya. Dia sama kaya aku pakai koas dan celana pendek, kalau tahu dia memakai dalaman itu udah aku suruh lepas tadi. Mungkin dia melepasnya saat di toilet, dan mungkin dia malu kalau harus melepas itu tadi didepanku.


Dia masuk dan memberiku kresek besar putih, aku lihat didalamnya bukan hanya titipan ku saja tapi banyak camilan didalamnya.


"Uang gue kurang dong tadi. " yah tadi aku memberinya cuma dua puluh ribu aja.


"Makan aja, lo nggak ke toilet dulu? "


Aku menggeleng, lagian emang aku nggak kebelet.


Lalu kami melanjutkan perjalanan kami.