
Setelah semuanya legowo dan menerima keputusan gue untuk menikahi Wilona mereka datang ke Jakarta ingin melamar Wilona.
Yang datang nenek dan appa, sedangkan eomma karena pekerjaan tidak bisa ditinggalkan tapi beliau janji pas nikahan akan datang.
Ketika datang ke rumah Wilona, ternyata kedua orang tuanya tidak tahu kalau anaknya itu hamil. Mereka shok ketika gue dan keluarga gue datang mau melamar. Lalu ayahnya yang ternyata seorang polisi mengintrogasi anak gadisnya itu,baru deh dia bilang kalau hamil.
Kemudian saat gue pulang dari sekolah gue dihadang oleh ayahnya. Gue diajak ke suatu tempat, katanya mau bicara.
Ternyata gue digebukin disana, gue dipukulin tanpa ampun. Gue mau melawan, tapi ini adalah kemarahan seorang ayah karena anak gadisnya hamil karena gue. Makanya gue nggak bales sama sekali, entahlah gue pasrah kalau harus mati ditangan orang ini. Yang penting gue sudah mau bertanggung jawab atas perbuatan gue.
Gue ternyata berakhir di rumah sakit,hingga membuat appa marah dan ingin membalas perlakuan ayah Wilona. Namun beliau juga bingung karena gue disini yang salah juga.
"Jeno-si appa minta maaf mungkin ini salah appa yang tidak bisa menjaga dan melindungi kamu" kata appa dalam bahasa Korea saat gue sadar, beliau sangat menyesal hingga menangis.
"Appa, jangan menangis Jeno baik-baik saja. " gue jawab dengan bahasa Korea juga. Gue masih lancar bahasa koreanya walau cuma sama appa aja gue gunakan semenjak gue pindah ke Indonesia saat umur 10 tahun dulu.
Bahkan eomma juga datang dari Korea, meninggalkan pekerjaannya.
"Jeno, maaf maafin eomma ya nak" eomma juga minta maaf, eomma selalu pakai bahasa Indonesia makanya saat gue pindah kesini gue udah tau bahasa Indonesia walau kadang masih bingung dulunya.
Entahlah, mungkin mereka merasa bersalah atau takut kehilangan gue. Karena gue sakit hingga koma selama tiga hari di rumah sakit.
"Eomma, Jeno kangen" kini gue yang meneteskan air mata karena yang paling gue rindukan ya nyokap gue.
Kalau appa lebih sering nengokin gue ketimbang eomma, terakhir gue ketemu saat lulus SD gila kan tu nyokap betah gitu nggak lihat anaknya empat tahunan.
Bisa diambil hikmahnya karena kedua orang tua gue kini sadar kalau gue butuh mereka dan mereka sangat takut kehilangan gue.
***
Setelah seminggu gue pulih, lalu gue dan kedua orang tua gue pergi lagi ke rumah Wilona.
Ibunya Wilona sebenarnya menyesal atas perbuatan suaminya hingga meminta maaf. Ayahnya tidak menyesal dia mungkin tipe keras kepala. Namun, kali ini lamaran gue diterima.
Semua sepakat kalau seminggu lagi gue dan Wilona melangsungkan akad nikah saja, tidak perlu pesta.
Gue dikejutkan dengan pemandangan Wilona turun dari mobil seseorang yang gue yakini seorang pria. Entahlah gue nggak tahu.
Lalu Wilona malah nggak mau masuk, dia ngajakin gue duduk dan mau bicara katanya.
"Siapa tadi yang nganterin lo? " tanya gue.
"Jeno nggak kenal kalau Wilo kasih tahu. " jawabnya yang bikin gue emosi.
"Ya udah lo mau ngomong apa" gue tahan, karena penasaran dia mau ngomong apa.
"Maaf Jeno, Wilo nggak bisa nikah sama Jeno karena anak ini bukan anak Jeno," pernyataan nya yang bikin gue terkejut gila.
"Lo bercanda? gimana bisa anak ini bukan anak gue? sedangkan gue yang melakukan itu. "
Wilona memperlihatkan hasil USG, disana menunjukan kalau bayi didalam perutnya itu berumur 2bulan4hari. Sedangkan waktu itu sudah lebih dari 3 bulan yang lalu, gue ingat karena saat itu liburan sekolah.
"Anjing, lo ngelakuin nya bukan sama gue aja? hah? "bentak gue.
Wilona nangis kalau gue bentak kaya gini.
"Habisnya Jeno kalau diajakin nggak mau, jadi Wilo main sama orang lain. Jeno nggak kenal dia kok, dia anak kuliahan,kami kenal dari dulu tapi Wilo lebih memilih Jeno. Hati Wilo juga milik Jeno, tapi dia yang bikin Wilo merasa nyaman jadi Wilo bingung. " cewek murahan ini ngaku panjang lebar tapi bikin gue eneg mendengarnya.
"Lo pura-pura polos tapi ternyata lo murahan! thanks lo udah ngaku jadi gue nggak perlu nikah sama cewek brengsek kaya lo! "
"Maaf Jeno" Wilona masih berusaha minta maaf ke gue bahkan sampai bersujud di kaki gue.
Gue sih nggak peduli lagian gue juga seneng karena Allah menunjukkan kebusukan Wilona duluan sebelum gue nikahin dia.
Gue tinggalin dia, gue masih bingung bagaimana menjelaskan pada keluarga besar gue yang hari ini datang ke sini. Mereka bahkan kini sudah sampai hotel tempat menginap yang disewa appa.
Ada nenek, bude, pakde, tante, om dan beberapa ponakan juga sepupu datang kesini. Gue termasuk kesayangan mereka jadi mereka akan turut serta dalam momen penting gue.