Aina

Aina
Ep 24



Jumat sore kali ini aku kumpul-kumpul bersama Angel,Daniel, dan Jeno kata Angel double date.


Tapi Jeno belum juga nongol padahal minuman coklat yang ada didepanku sudah tinggal setengah. Kalau mereka berdua jangan tanya berasa mereka berdua aja yang tinggal di bumi ini.


"Mana sih si Jeno niel? lo telpon dong. " aku akhirnya nggak sabaran kalau harus diam diri aja, kalau ada Jeno kan lebih ramai.


"Bentar, paling masih sibuk. Lo lihat kan pengunjungnya ramai banget gini. " kata Daniel yang berasa aneh, apa hubungannya Jeno dan pengunjung yang ada disini.


Aku melihat sekitar ramai, dan kami berada di lantai atas paling pojokan jadi aku melihat juga dibawah ramai juga bahkan hampir penuh.


"Lalu apa hubungannya dengan Jeno?"


Mereka berdua saling melihat.


"Lo nggak tahu siapa pemilik kafe ini? " tanya Angel, lalu apa penting pertanyaan itu.


"Ya nggak lah, emang siapa? "


"Duh, gue kira kalian udah jadian masa nggak tahu? " Angel ngegas.


"Tunggu gue bingung"


"Jeno dodol, dia yang punya. Lo nggak dikasih tahu sama pacar lo itu? "


"Jeno bukan pacar gue dodol. " aku berdiri, emosi deh.


Aku turun mencari keberadaan pemilik kafe ini, mau memastikan apa benar Jeno.


Tiba dibagian barista kopi aku melihat Jeno sedang meracik minuman dengan gaya sok kerennya. Bahkan di sana ada dua wanita yang sedang memperhatikan Jeno, tentu saja si kadal makin tebar pesona.


Aku duduk di kursi bar berjarak satu kursi dari dua wanita itu. Jeno baru sadar keberadaanku lalu ia tersenyum manis.


"Kok kesini? bentar lagi gue nyusul ke atas Na. " Jeno memberikan dua gelas minuman kopi kepada kedua wanita itu sambil terus senyum.


Belum aku menjawabnya sudah ada yang bicara yaitu salah satu wanita itu yang mengamati ku.


"Udah punya pacar ternyata? " tanyanya pada Jeno.


Aku melihat ke Jeno aku yakin dia akan mengakuiku sebagai pacarnya.


"Tapi calon istri. " meleleh deh aku.


"Sama aja dong. " kata wanita satunya.


"Bedalah, kalian juga bisa jadi calon istriku siapa tahu aku nggak jodoh sama Aina. " celoteh Jeno yang bikin aku kesal.


Jeno tetaplah Jeno si kadal menyebalkan suka mempermainkan perasaan.


Setelah itu dua wanita itu seakan mengolokku dan pergi begitu saja.


Baiklah, memang aku dan Jeno hanya teman jadi suka-suka dia mau bagaimana. Jadi biarkan saja toh dia sudah biasa seperti itu.


"Gue nggak tahu kalau lo yang punya kafe ini. Hem hebat ya lo"


"Akhir-akhir ini aja baru ramai, selama ini juga biasa saja bahkan sepi malahan. " Jeno melepas apronnya lalu duduk disebelahku.


"Sejak kapan emangnya? "


"Udah dua tahunan lebih kayanya. Yah sejak SMA gue udah kerja di kafe jadi buka sendiri deh. " jelas Jeno.


Aku pikir dia hanya anak manja yang mengandalkan transferan uang dari orang tuanya. Ternyata aku tidak pernah kenal dia selama ini, dia bahkan lebih mandiri dari pada aku.


"Kenapa?"


Aku menggeleng ringan,"Nggak capek? masih ngantor lalu ngurus kafe? "


"Ngantor kan cuma sambilan, gue nggak niat jadi PNS juga kok. Takut kaya kedua orang tua gue yang nggak ada waktu buat kehidupannya." jelas Jeno yang tidak terpikir olehku.


Karena PNS masih jadi pekerjaan favorit yang diincar di negara ini.


"Mau disini aja atau balik ke mereka berdua? " tanya Jeno menatapku.


"Kalau lo masih sibuk gue tunggu disini saja, lagian menyebalkan kalau harus melihat adegan mereka. "


Akhirnya aku memutuskan menemani Jeno bekerja hingga tutup. Ini sangat menyenangkan juga karena bisa tahu cara membuat minuman enak.