Aina

Aina
Ep 51



Aku mengikuti Gresia keluar, lagipula dia kesini tadi sama aku tidak dengan managernya. Aku tidak berniat pulang bareng dia juga sih.


Lagian katanya dia akan dijemput pacarnya, itu bagus.


Saat kami sudah berada diparkiran, aku dikejutkan dengan mobil yang tak asing bagiku lengkap dengan sang pemilik mobil tersebut yang sedang nyender di mobilnya.


"Sayang, sorry lama ya? " Gresia menghampiri pria itu.


"Marsel? " tanyaku yang tidak ada seorangpun dapat mendengar suara ku.


Marsel melihatku, dia melepas kaca mata hitamnya dan menegakkan badannya.


Dia tidak menghiraukan suara Gresia dia malah menatapku.


Jadi Gresia adalah Gres pacar Marsel yang kini telah kembali.


Aku kini tahu kenapa Gres bersikap kejam terhadapku. Dia mungkin mengira aku adalah benalu dalam hubungan mereka. Dia cuma salah paham, seharusnya Gres berterima kasih padaku karena menyelamatkan posisinya. Kalau tidak Marsel pasti sudah dijodohkan dengan wanita lain pilihan orang tuanya.


"Sayang ada apa? kamu kenal dengan wanita itu? kok bengong? " tanya Gres membuat Marsel tersadar akan sikapnya yang berlebihan.


"Di-dia emm" Marsel sepertinya kebingungan memperkenalkan aku.


"Aina, dia Aina selingkuhan kamu kan? " Gres dengan kejamnya berkata seperti itu.


Aku bukan selingkuhan Marsel, kami cuma pacaran bohongan.


"Bukan, kan sudah aku kasih tau dia bukan selingkuhan aku. " jelas Marsel.


"Lalu apa? wanita bayaran gitu heh? " suara Gres malah agak kencang.


Sakit sekali aku di bilang seperti itu.


"Gue nggak peduli, gue mau mereka tahu kalau gue jadi korban disini. Lo cuma cewek murahan yang cuma bisanya merayu cowok orang demi uang! " Gres mengataiku seenak nya saja.


Aku melihat sekitar, pengunjung yang hendak masuk dan keluar kini tertarik pada kami.


Dan para pegawai yang ada didalam pun ada sebagian yang ikut keluar karena suara Gres yang gaduh.


Marsel dengan sigap menarik tangan Gres dan memasukkannya kedalam mobil. Walau Gres melawan tapi Marsel berhasil membuat Gres duduk diam didalam mobil.


"Ai, maaf ya. Nanti kita bicara lagi. " kata Marsel sebelum dia juga masuk kedalam mobil bagian pengemudi.


Lalu mobil itu berlalu.


Namun, pandangan orang yang masih disini membuatku takut. Seakan mereka memandangku rendah.


Aku meninggalkan area restoran dengan berjalan kaki. Pokoknya aku ingin pergi dulu dari sini. Padahal aku sangat lelah dan capek kalau harus berjalan. Namun kalau harus menunggu taksi atau ojek online akan sangat lama nantinya.


Tanpa aku sadari air mataku menetes, aku memang merasa kalau aku hanya seorang wanita bayaran saja. Walau aku tidak menyerahkan tubuhku pada pria itu tapi tetap saja dia membayar ku.


Ketika menyusuri jalan aku jadi teringat masa kuliahku dan jalan ini yang sering aku lalui.


Sekarang hari sudah berubah menjadi gelap,tapi jalanan masih ramai oleh mahasiswa yang hendak nongkrong atau pergi mencari makan atau pergi mengerjakan tugas dan antri foto copy. Masa itu memang indah, aku jadi merindukan nya.


Dan masa itu tidak luput dari seseorang yang kini sangat aku rindukan, Jeno. Dia dulu selalu mengikuti ku atau menganggu ku kini tinggal masa lalu. Aku semakin meneteskan air mata karena sangat merindukan pria bodoh itu.


Aku menyesal mengambil keputusan menerima tawaran Marsel menjadi pacar bohongan nya hanya demi uang itu. Kalau itu tidak terjadi pasti aku akan bersama Jeno, dan tidak dipermalukan oleh Gres tadi.


Tapi apa aku bisa bersama Jeno? cinta kita terlarang. Jurang pemisah kita sangat terjal.